
Happy Reading ^^
-----------------------------------------------------
Tira POV
Aku sudah menemukannya. Alat kejut yang selalu ada di tasku untuk berjaga-jaga dari hal yang diluar prediksiku seperti saat ini. Aku tahu pasti dia sudah menempatkanku dalam kamar yang mungkin aku tidak bisa keluar. Untuk saat ini memang belum.
Dengan alat kejut juga lada yang aku bawa dari restoran tadi akan mempermudahku keluar dari sini. Kenapa aku bisa merencanakan rencana ini secara mulus? Karena aku suka film detektif. Walau aku tidak melihat secara langsung kerja detektif maupun mafia yang terkenal dengan rencananya di luar nalar, secara alami aku memikirkannya.
Dulu waktu aku umur 8 tahun sedang masa liburan sekolah lalu memutuskan untuk pulang. Aku masih lelah, namun ibuku selalu menggangguku. Aku tahu dia hanya ingin menyambutku. Aku sudah bilang tidak ingin diganggu, tetap saja ingin menempel padaku. Saat ibuku sudah keluar untuk mengambil minum, aku menaruh oli di bawah keset. Dan terjadilah ibuku terjatuh. Tidak ada darah maupun masalah pada tubuh ibu, namun ada terbesit kesenangan tersendiri dibarengi dengan rasa bersalah pada diriku. Tidak ada yang menyalahkanku, karena kebetulan ART di rumah sedang mengambil oli yang kutinggalkan sembarang. Akhirnya ART itu dipecat.
Mulai saat itu aku selalu senang membuat orang lain kesakitan. Memang tidak kutunjukkan secara langsung seperti ide menjahili. Terkadang aku betah melihat orang lain kesakitan membuatku senang. Psikopat kah aku? Tidak, psikopat tidak kenal ampun dan tidak merasa bersalah. Aku selalu mengurung diri karena aku merasa bersalah. Bunuh diri menjadi tujuan akhirku. Aku berfikir tidak berguna untuk orang lain walau sudah kulakukan semaksimal mungkin. Itu menjadi kebiasaanku setelah menyakiti orang lain atau sekedar melihat seseorang kesakitan. Yaitu menghukum diri sendiri dengan menyayat lenganku atau mencoba menekan leherku.
__ADS_1
Itulah alasan aku sulit tidur, berakting cuek di depan orang tuaku juga orang yang baru kukenal seperti Harry. Satu lagi keahlianku dalam akting di depan teman-temanku. Aku seperti orang yang ceria tanpa ada masalah apapun. Tersenyum tanpa beban. Aku memang tidak pernah menyakiti ataupun menjahili teman-temanku. Alibi untuk menutup kekesalanku dirumah yang mungkin hanya kutinggali selama beberapa bulan. Aku dirumah hanya pada masa liburan saja, yang lain aku bersekolah yang dilengkapi asrama.
Kembali pada rencana. Aku akan meletakkan alat kejut dibawah bantalku. Saat Harry akan tidur, waktunya aku melancarkan aksiku. Kenapa aku tidak melakukannya sekarang? Aku bukan orang bodoh, jika aku melakukannya sekarang dalam keadaan sadar dia pasti akan lebih menarikku dan tidak bisa keluar. Saat dia lengah, aku bisa kabur tanpa menyisakan bukti. Untuk merica bubuk sebagai rencana cadangan.
Ku lihat Harry sudah keluar dari kamar mandi. Tidak bisa kupungkiri badannya yang sempurna. Jika cewe lain akan terpesona atau paling tidak menunjukkan wajah yang memerah akan hal itu lain denganku. Aku melihatnya dengan ekspresi datar. Sudah ku katakan, aku pandai berakting. Jika ada penghargaan Oscar dengan kategori memiliki wajah seribu mungkin akan jatuh padaku.
Harry POV
Aku menawarinya untuk mandi atau sekedar membersihkan diri, tapi dia menolak. Aku tidak mempermasalahkannya lagi, jika aku tanya lagi pasti dia akan lebih cuek padaku. Dengan tenang aku menawarinya untuk tidur. Kagetnya dia tidak menolak. Memang aku tidak ada rencana untuk menggaulinya. Aku hanya penasaran apa yang disembunyikannya dibalik ekpresinya. Aku tidak bisa membaca apa yang dipikirkannya. Akhirnya aku tertidur setelah melihat Tira tidur.
Author POV
Setelah selang 10 menit menunjukkan Harry yang tertidur dengan tenang. Tira segara mengambil alat kejut dibawah bantalnya. Segera didekatkan alat itu dengan leher Harry. Sekiranya efek alat itu sudah bekerja, Tira langsung berlari di dekat pintu. Jangan lupa kunci yang sudah Tira ambil dari saku Harry sesaat setelah dia tidur.
__ADS_1
Tira tidak berlari dan langsung kabur. Dia menjelaskan pada penjaga yang ada di sekitar kamarnya bahwa Harry pingsan dan dia takut terjadi sesuatu. Dia meminta penjaga untuk membawa Harry ke Rumah sakit secepatnya. Kedua penjaga itu segera masuk dan membawa Harry ke rumah sakit. Tira tidak ikut mengantar Harry dengan alasan kembali ke rumah Harry untuk membawakan baju ganti.
Setelah berpisah di lift yang berbeda, Tira menyunggingkan senyum. Rencana kaburnya lebih dari sempurna. Selanjutnya dia tidak kembali ke rumah. Dia menuju ke bandara untuk keluar negeri. Lalu dia menginap di salah satu hotel. Perjalanannya memang tidak lama namun sangat melelahkan. Akhirnya dia tertidur di kamar yang telah disewanya.
Efek dari alat kejut tidak lama. Harry tersadar saat di lobby rumah sakit. Setelah dilakukan pemerisaan, dokter menyatakan Harry hanya pingsan dan tidak ada yang terluka. Harry mengedarkan pandangannya, tidak ada Tira. Lalu penjaga menjelaskan bahwa Tira kembali ke rumah Harry untuk mengambil pakaiannya. Terlihat ekspresi geram Harry karena tidak bisa menjaga 1 perempuan saja. Dia memerintahkan pada pengawalnya harus mencari Tira sampai ketemu, karena dia tahu Tira tidak akan kembali ke rumah. Tidak lupa dia menghubungi Christ yang disewanya untuk mencari Tira.
-----------------------------------------------------
Penasaran kelanjutannya?
Jangan lupa vote dan Love karyaku
Jika ada saran bisa tulis di comment yaa ^^ aku menantikan masukan dari kalian <3 <3
__ADS_1