
Happy Reading ^^
-----------------------------------------------------
Selesai makan, Tira ke wastafel toilet untuk membersihkan tangan. Kebetulan Cindy keluar dari kamar mandi.
“Wah, kita bertemu lagi.” Kata Cindy.
“Iya.” Kata Tira.
“kalau boleh kutahu apa hubunganmu dengan Harry? Yang kutahu dia jarang menerima tamu wanita.”
“Emm… itu… aku…” Tira ragu menjawab.
“Kau
tahu, desas desus kalau Harry sudah memiliki tunangan, tapi belum dia
kenalkan. Ku tebak dia pasti malu karena ku tahu standarnya tinggi.”
“Benarkah?”
“Tentu saja, karena yang pantas dengannya hanya aku.”
“Apa kau pacarnya?”
“Perkenalkan aku Cindy, sekretaris perusahaan sekaligus wanita yang paling dekat dengan Harry.” Kata Cindy dengan bangga.
“Aku Tira dan aku…”
Handphone
Tira berbunyi, Harry yang memanggil. Setelah selesai menutup panggilan,
Tira keluar dari toilet meninggalkan Cindy yang makin penasaran. Cindy
mengambil handphonenya dan menelpon seseorang.
“Selidiki siapa Tira, sepertinya dia dekat dengan Harry.” Kata Cindy.
“Apa imbalannya?” Kata seseorang yang dipanggil Cindy.
“Apa yang kau minta?”
“Aku ingin kau baby.”
“Jangan berharap, aku akan memberimu.”
“Aku tidak butuh uangmu, aku lebih banyak memilikinya. Jika tidak kau tidak akan mendapat apapun.”
“Baiklah, terserah kau mantan laknat. Aku ingin apapun tentang Tira secepatnya.”
“Okey baby, tapi aku mau ambil imbalanku. Besok malam di hotel AA kamar 103.”
Cindy tidak menjawab apapun, langsung ditutup panggilan itu.
-00-
__ADS_1
Fitting
baju dan foto pre-wedding pasangan Harry dan Tira berlangsung lebih
cepat dari dugaan. Tira tidak menuntut apapun karena tidak tahu,
menyerahkan sisanya pada suruhan mama Harry. Mereka kembali villa.
Karena kelelahan, Tira tertidur selama perjalanan pulang. Harry
menggendong Tira ala bride style hingga kamar. Dipandaninya wajah manis
Tira yang terlelap. Lalu dikecup dahi, hidung lalu bibir Tira dengan
lembut, takut akan membangunkannya. Harry meninggalkan Tira yang
tertidur untuk mandi dan mengerjakan kerjaan kantor yang
ditinggalkannya.
Tengah malam Tira terbangun, mungkin
waktu tidurnya sudah lebih dari cukup. Badannya juga tidak lelah selelah
tidur, tapi perutnya minta diisi. Dia memutuskan untuk ke dapur untuk
mencari sesuatu yang bisa dimakan.
Langkahnya terhenti ketika akan masuk dapur. Ada siluet seseorang di depan kulkas.
“Siapa disana?” Kata Tira sambal gemetar.
“Harry? Ku kira siapa. Kamu belum tidur?”
“Aku harus menyelesaikan kerjaanku yang kutinggal tadi, tapi aku lapar.”
“Oh,
maaf membuatmu meninggalkan kantor. Besok lagi aku akan bilang mama
un…” mulut Tira dibungkam oleh Harry dengan tangannya. Tangan lainnya
melingkar di pinggang Tira.
“Jangan meminta maaf, itu
bukan salahmu. Aku bisa saja meninggalkannya, tapi aku ingin tanggung
jawab dengan perusahaanku.” Harry menarik tangannya dari bibir Tira.
“Tapi kamu jadi kelelahan.”
“Kamu tahu apa obatku saat kelelahan?”
“Apa memang? Aku akan membelikannya untukmu.”
“Tidak perlu dibeli, karena obat itu sudah di depanku.”
__ADS_1
Tira
membalikkan badan, mencari sesuatu yang ada di depan Harry. Harry
terkekeh, Tira memang gadis pintar cenderung cerdas. Dia bisa kabur dari
Harry dengan cara licik. Tapi dia masih awam dengan masalah perasaan
dan percintaan.
Harry menarik lengan Tira ke pelukannya.
“Kamu
tidak akan menemukannya sayang, karena obatku adalah kamu.” Kata Harry
lalu menyambar bibir manis Tira. Tira masih bingung dengan perkataan
Harry sebelumnya memudahkan lidah Harry masuk ke mulut tira.
Ciuman
itu sangat intens, Harry memimpin permainan lidah itu. Mengabsen isi
mulut wanitanya. Tira memejamkan mata, pasrah dengan keadaan. Setelah 5
menit, nafas Tira hampir habis. Tangannya memukul dada Harry untuk
menghentikan permainannya. Tira masih meraup udara sebanyak-banyaknya
hingga tidak sadar Harry menatapnya dengan nafsu. Untung Harry masih
sadar, dibuangnya pikiran untuk menerkam wanitanya. Dibersihkannya bibir
tira dengan jempolnya.
“Bibirmu manis, aku ingin memakannya lagi.” Kata Harry. Tira masih di pelukan Harry.
“Tidak ada bibir yang manis, dan lepaskan aku. Aku lapar.”
“Tuan putri ingin makan apa? Biar pangeran ini memasakkan untukmu.”
“Benarkah? Aku ingin spaghetti dengan banyak saos tomat.”
“Oke sayang, tunggu di meja dulu. Aku akan memasaknya dengan cepat.”
“Terima kasih sayang.” Kata tira sambil mencium pipi Harry lalu lari ke ruang makan.
Harry tersenyum. Senang sekali apa yang dilakukannya untuk Tira membuahkan hasil. Tira sudah ditaklukan Harry.
-----------------------------------------------------
Penasaran kelanjutannya?
Jangan lupa vote dan Love karyaku
Jika ada saran bisa tulis di comment yaa ^^ aku menantikan masukan dari kalian <3 <3
__ADS_1