
Happy Reading ^^
-----------------------------------------------------
Tira POV
Aku selalu tenang dengan keadaan seperti ini. Bukan hal pertama aku datang ke acara semacam ini. Tidak dipungkiri wajahku yang manis sebagai daya tarik sendiri. Tapi siapa tahan dengan sifat tak acuh ku? Memang aku bukan orang yang cuek, namun dengan menampilkan image seperti itu, mereka semua menolak dijodohkan denganku.
Harry, anak dari Tuan Wijaya menjadi orang pertama yang menerimaku. Lebih tepatnya acara perjodohan untuk kepentingan bisnis. Aku kaget pastinya. Dari cara dia memandangku, tidak ada ketertarikan sama sekali.
“Aku setuju” Kata Harry.
“Aku menolak” kataku secepat kilat setelah mendengarnya menyetujui hal gila ini.
“Bagaimana dicoba dulu nak? Tidak salah untuk saling mengenal, Harry bukan anak nakal kok.” Kata Nyonya Fina menengahi.
“Tidak perlu nyonya, saya memang tidak menginginkannya.” Kataku selembut mungkin.
Kepala Nyonya Fina langsung menunduk setelah mendengar kata dariku. Dengan cepat ibuku mencubit pahaku. Sebisa mungkin aku menahan cubitannya yang mungkin akan membiru.
“Mungkin Tira sedikit malu jika disini. Mungkin Nak Harry bisa membawanya mencari udara, iya kan Tira?” Kata ibuku.
Aku pasrah mengangguk. Kulihat Harry berjalan ke arahku. Lagi-lagi aku pasrah ditariknya keluar dari restoran itu sambil meminta izin dari orang tuaku. Pastinya mereka senang, terlebih Nyonya Fina yang tampak bahagia usai ku kecewakan.
__ADS_1
Satu cara yang telah terpikir untuk menyelesaikan masalah ini. Tetap diam dan cuek. Itu sangat ampuh untuk lelaki semacam Harry. Paling tidak aku masih yakin jika cara itu berhasil.
Author POV
Tira dan Harry sudah berada di dalam mobil. Belum ada yang memulai percakapan. Tira masih memandang ke arah jendela mobil. Lamunannya buyar saat pundaknya disentuh Harry.
“Hei, kau tidak mati kan?” Tanya Harry.
“Tidak.” Balas Tira.
“Kau mau kita kemana?”
“Terserah kau saja.”
“Turunkan aku kalo gitu.”
“Tidak akan”
Dengan muka datar dan sifat cueknya, Tira tidak membalas perkataan Harry.
Tira POV
Bukankah aku sudah sangat cuek? Sangat datar dan tak perhatian? Bagaimana bisa dia tetap santai membawaku? Sepertinya aku harus mennyelesaikan ini sebelum terlambat. Aku sudah jengah dengan sosok disampingku.
__ADS_1
Boleh ku katakan, Harry bukan tipe romantis. Tapi kata-katanya membuatku tak bisa berbuat apapun. Dari wajahnya, sepertinya dia orang yang tegas dan berpendirian teguh. Maka dari itu aku harus lepas darinya, semoga rencana kaburku berhasil.
Harry POV
Akhirnya aku bisa meliatnya lagi. Aku hanya memimpikan momen ini sejak lama, momen berdua bersama Tira. Masih sama, imut dan manis. Jangan lupa sifat cuek dan datarnya masih melekat padanya. Aku sudah mencarinya infonya semenjak 6 tahun terakhir. Walau aku mengenalnya sudah sejak umur 10 tahun.
Kenapa aku bisa mendapat infonya? Jangan salah aku CEO dari Wijaya Group, perusahaan no 1 di negaraku. Aku bangga akan kedudukan itu karena aku meraihnya sendiri. Dari mulai bekerja sebagai pegawai secara biasa, mencari uang tambahan sendiri hingga diangkat menjadi CEO dimana tidak ada yang tahu jika aku anak dari pemilik perusahaan. Walau papa ku masih mengawasi dan membantuku dari jauh.
Aku mengenal Tira saat di bangku sekolah.
Flashback On
Harry sedang menunggu jemputannya datang. Seperti biasa, jika papa nya yang berjanji menjemputnya pasti terlambat. Harry berjalan-jalan di sekitar taman sembari menunggu papa nya.
Ada banyak anak laki-laki yang bermain bola di tengah taman. Harry tidak bergabung karena selain tidak kenal juga postur tubuhnya yang tidak sebanding dengan anak-anak tersebut. Dia melihat anak perempuan yang bermain di tepi kolam. Dia menghampiri anak itu. Betapa kagetnya dia ketika melihat anak perempuan itu menusuk-nusuk katak yang sudah mati.
-----------------------------------------------------
Penasaran kelanjutannya?
Jangan lupa vote dan Love karyaku
Jika ada saran bisa tulis di comment yaa ^^ aku menantikan masukan dari kalian <3 <3
__ADS_1