
Happy Reading ^^
-----------------------------------------------------
Setelah selesai makan, mereka kembali ke ruang tamu.
“Sebelum membicarakan tentang gaun dan tema pernikahan kalian, mama ingin bertanya. Apakah kalian sudah saling mencintai?” Kata Nyonya Fina.
“Kalau Harry sudah jatuh cinta saat pandangan pertama ma. Tapi tidak tahu perasaan Tira.” Jawab Harry.
“Maaf ma, bukannya tidak mencintai tapi hati Tira memang belum memiliki perasaan pada Harry. Tapi Tira sudah menerima Harry disisi Tira.” Kata Tira.
“Baiklah, waktu akan membantu kalian untuk memahami satu sama lain. Sebetulnya aku sudah merancang sajak lama untuk pernikahan Harry. Jika ada yang keberatan bisa bilang saja, begitu Nyonya Nugraha.” Kata Nyonya Fina.
“Iya nyonya, saya ikut saja.” Kata Bu Yuni, ibu Tira.
“Oke, untuk gaun juga sudah ku rancangkan di butik ternama. Besuk Tira tinggal ke sana untuk mengukur, suruh Harry mengantarkanmu ya.”
“Baik ma.”
Banyak yang dibahas hingga larut malam. Karena Harry besok harus ke perusahaan maka Harry dan Tira pamit pulang. Tira tertidur di sepanjang perjalanan, Harry menariknya ke pelukannya. Dipandang wajah manis Tira. Dia berharap segera memiliki Tira seutuhnya.
Rutinitas pagi di villa yang ditinggali Tira dan Harry berjalan normal. Tira berusaha menyiapkan pakaian Harry juga membantu Bibi Sari di dapur. Katanya agar masakannya sesuai seleranya.
“Sayang, pakaikan ini untukku dong.”
“Untung aku sudah sering memakainya waktu asrama. Aku akan memakaikannya dengan cepat.” Jawab Tira semangat.
“Imutnya.”
“Maaf tuan, saya bukan anak kecil lagi. Bahkan aku sudah memiliki penghasilan dari penjualan bukuku.”
__ADS_1
“Oh ya? Lalu aku harus memanggilmu apa?”
“Terserah padamu. Bisakah kau menurunkan sedikit badanmu. Aku sulit meraih lehermu.”
“Seperti ini.” Harry mendekatkan wajahnya tepat di depan Tira. Wajah Tira memerah hingga telinga. Harry senang bisa menggoda wanitanya ini.
“Ehm, ini terlalu dekat Ry. Aku tidak bisa melihat ikatan dasinya.”
“Katanya sudah sering melakukannya. Tunjukkan padaku.” Kata Harry dengan smirk nya.
“Kau menantangku? Baiklah tuan, bahkan aku bisa mengikatnya dengan menutup mataku.”
“Benarkah? Cobalah kalau begitu.”
Saat tangan Tira mulai bergerak, dengan cepat Harry mencium bibir Tira. Melumatnya dengan lembut. Tangan Harry sudah bergerak ke punggung Tira untuk menahannya agar tidak jatuh. Lidah Harry berusaha membuka mulut Tira. Dengan sekali percobaan, lidah Harry sudah mengabsen seluruh isi mulut Tira. Sedikit desahan terdengar dari mulut Tira. Kegiatan itu terhenti ketika tangan Tira memukul pelan dada Harry karena kehabisan nafas.
Harry senang melihat ekspresi Tira. Ingin dia memakan Tira sekarang, tapi dia ingin menyimpannya untuk malam pertama mereka. Tira sedikit shock dan bengong, hingga Harry menggoyangkan pundaknya.
“Sayang, kamu ga papa?”
“Apa ini yang pertama untukmu?”
Tira mengangguk dengan merundukkan kepalanya. Harry tahu Tira sedang malu. Tidak perlu melihat wajahnya, telinganya saja sudah merah. Sangat imut, pikirnya.
“Terima kasih sayang sudah menjaganya untukku.”
“Nggak usah terima kasih. Aku memang akan memberikan untuk orang yang kusayang.”
“Apa aku orang yang kamu maksud sayang?”
“Menengadahlah ke atas, aku akan merapikan dasimu.”
__ADS_1
“Lain kali tidak akan kubiarkan kamu kabur sayang.”
“Ah iya terserah saja. Sudah selesai, cepat turun dan sarapan.”
“Siap sayang.”
-00-
Harry sudah sampai kantor. Dia mulai melakukan pekerjaan yang tertunda sebagai CEO.
“Harry…” Kata Cindy, sekertaris perusahaan Harry.
“Sudah ku bilang untuk mengetuk pintu dan izin dulu Cindy. Jangan pernah mengulanginya.” Kata Harry.
“Kenapa harus melakukannya. Aku bukan orang lain bagimu.”
“Jaga sopan santunmu. Kenapa ke ruangku?”
“Aku hanya ingin melihatmu baby, sehari tidak ada dirimu membuatku kangen.”
“Cindy, aku ini bos mu dan aku mau menikah. Jika tidak ada kepentingan keluarlah, aku masih punya banyak pekerjaan.” Kata Harry dengan tegas.
“Baiklah, aku hanya mengantar proposal ini, tolong diperiksa. Aku permisi.”
Cindy sudah lama menjadi sekretaris di kantor Wijaya Group. Terhitung sejak papanya masih menjabat sebagai pimpinan perusahaan. Tapi waktu itu usianya masih sangat muda. Usianya selisih 2 tahun dengan Harry. Jadi dia sangat dekat dengan Harry. Hanya saja Harry menganggapnya sebatas rekan kerja. Tidak dengan Cindy yg menaruh perasaan pada CEO perusahaan besar itu.
Pada awal Harry bekerja tidak ada perbedaan dengan Cindy, bekerja secara professional. Namun setelah mendengar orang kesayangannya akan menikah, Cindy makin centil. Harry yang awalnya memaklumi lama-lama juga jengah. Ingin memecatnya tapi dicegah oleh papanya, katanya hanya dia yang bisa dipercaya.
-----------------------------------------------------
Penasaran kelanjutannya?
__ADS_1
Jangan lupa vote dan Love karyaku
Jika ada saran bisa tulis di comment yaa ^^ aku menantikan masukan dari kalian <3 <3