Cinta Gadis Gila

Cinta Gadis Gila
11


__ADS_3

Happy Reading ^^


-----------------------------------------------------


Tira sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya. Masa Tira untuk mencari kerja seharusnya sudah sejak 4 bulan yang lalu. Dia hanya ingin menikmati waktu luangnya untuk bersenang-senang hingga akhirnya bosan dirumah. Papa tira memang tidak memaksanya untuk mencari kerja ataupun mengganti posisinya. Melihat anaknya bahagia tanpa beban merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Papa Tira.


Akhirnya Tira bosan juga, tidak ada yang dikerjakan di rumahnya dulu maupun di villa Harry sekarang. Dia ingat mempunyai draft cerita, sudah lumayan bagus untuk diterbitkan menjadi novel. Di depan laptopnya dia mengedit dan menambahkan sesuatu untuk menyempurnakan cerita itu.


Smartphone miliknya bordering. Tertulis pada layar ‘mama Wijaya’. Segera diangkat panggilan itu.


“Tira, kau sedang apa?” Kata Mama Wijaya.


“Sedang mengerjakan sesuatu di laptop. Ada apa ma?”


“Aku sudah menghubungi butik tempat gaunmu berada. Bisakah kamu kemari?”


“Bisa ma, aku akan menghubungi Harry.”


“Ah iya sekalian kamu bawakan makan siang untuknya. Lalu ajaklah Harry ke butik. Setelah itu lakukan pemotretan studio untuk prewedding mu. Nanti ku kirim alamatnya.”


“Baik ma, maaf merepotkan mama terus juga terima kasih sudah menyiapkan semuanya.”


“Itu sudah kewajibanku, aku sangat menantikan pernikahan ini. Kamu jangan sampai sakit dan jaga kondisimu.”


“Siap ma!”


“Seandainya kamu di dekatku akan ku cubit karena sangat imut, menantuku.”


“Hehe, mama bisa aja.”


“Bersiaplah sayang, masuklah ke kantornya dan makan bersama dengan Harry. Anak itu akan senang kau datang.”


“Baik ma.”

__ADS_1


-00-


Tira sudah sampai di depan perusahaan Wijaya group. Lebih besar dari kantor ayahnya pikirnya. Dia menuju ke resepsionis untuk menanyakan arah ke ruang Harry. Sesuai perintah Harry melalui resepsionis, Tira menuju lantai 30.


Saat masuk ke lift karyawan, bersamaan dengan Cindy. Cindy melihat Tira yang akan ke lantai dimana hanya ada ruangan CEO grup.


“Permisi, anda mau ke lantai berapa?” Tanya Tira.


“Lantai 30.” Jawab Cindy.


“Kebetulan saya juga mau ke lantai 30.”


“Maaf jika saya lancang, di lantai 30 hanya ada ruang CEO Wijaya Group. Keperluan anda apa ya?”


“Tidak apa, saya hanya mengantarkan makan siang ini ke Ha- Tuan Harry.”


“Tapi tidak sembarang orang boleh masuk dan Anda sepertinya orang baru.”


“Begitu kah? Kata mama tadi masuk aja ga papa.”


TENG


Pintu lift terbuka, Tira langsung keluar dari lift. Mengingat arahan dari resepsionis. Untung saja ruangannya mudah ditemukan. Tira mengetuk pintu, jangan lupa dia sangat gugup akan hal ini.


“Masuk!” Kata Harry dari dalam ruangan.


“Pe- permisi aku masuk.” Kata Tira.


“Tira? Kenapa ke kantor?”


“Aku mengantarkan makan siang untukmu. Kata mama tadi menyuruhmu untuk fitting baju dan foto prewedding.” Kata Tira dengan menundukkan kepala.


Harry gemas dibuatnya. Segera melangkahkan ke hadapan tira. Harry dengan jelas melihat telinga Tira yang memerah, membuatnya ingin menggigitnya. Aroma vanilla yang membuat Harry ketagihan.

__ADS_1


“Terimakasih sayang sudah mengatakan ini padaku. Seharusnya kamu memberitahuku, aku akan segera pulang dan menjemputmu.”


“Itu akan merepotkanmu, pekerjaanmu pasti banyak.”


“Untukmu apa sih yang enggak.”


“Apaan sih, gombal. Inget, kamu dah tua Ry.”


“Aku masih sanggup buat gombalin kamu, sampai kapanpun.”


“Terserah kamu, ayo makan. Aku dah lapar.”


“Baik nyonya Wijaya.”


“Yak, aku Tira bukan sebutanmu tadi.”  Tira memukul lengan Harry yang mungkin tidak terasa oleh Harry.


“Segera sayang, aku akan segera meresmikanmu. Tunggu saja.” Tidak membalas pukulan Tira, tapi malah memeluknya. Setelah Tira diam, segera Harry meluncurkan ciumannya ke kening Tira. Tira menutup matanya, dia masih awam dengan adegan cium-mencium. Harry berhenti lalu menamatkan wajah Tira. Imut namun ada sisi dewasanya. Tira memberanikan membuka kedua matanya. Dia malu ditatap Harry.


“Kenapa ditutup matanya? Mau lebih?” Kata Harry.


“Bukan begitu, aku masih belum biasa. Kamu selalu membuatku kaget.” Cicit Tira.


“Kamu pasti akan terbiasa.” Tangan Harry mengelus pelan kening dan rambut Tira.


Tira mengangguk.


Baru mulailah makan siang yang sudah disiapkan Tira.


 


-----------------------------------------------------


Penasaran kelanjutannya?

__ADS_1


Jangan lupa vote dan Love karyaku


Jika ada saran bisa tulis di comment yaa ^^ aku menantikan masukan dari kalian <3 <3


__ADS_2