
"Hei! Pikir dulu siapa dia. Kami tak selevel, jangan paksakan aku mengakuinya. Dilempar ke anjing pun tak mungkin perempuan itu diendusnya apalagi aku yang ganteng dan korean men ini." Kata Jickso bercakak pinggang bak modeling. "Aku tak tergiur padanya!"
"Tak tergiur tapi meleleh liurmu dan kau lengketi tubuhnya hingga selangmu mengalirkan hormon ke rahimnya? Jick, keterlaluan kamu!" berbalik memandang laut luas yang terbentang di pesisir kota. "Aku menyesal telah mempertemukan kamu dengannya!" melangkah pergi meninggalkan lelaki egois itu seorang diri.
---***---
"Untuk apa kau mengharapkan lelaki itu lagi? Hentikan semua perasaanmu padanya! Mau atau tidak, itu yang harus kau lakukan. Kamu bukan mainan, kan?" hentakan suaranya mengalirkan air bening ke pipi Sanya namun lelaki itu tidak peduli. Kata-kata Jickso di senja kemarin membuatnya tak lagi bisa membohongi perempuan di depannya. "Dia tidak akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi padamu!"
"Apa?" tulang-tulang perempuan cantik mungil itu seketika tak mampu menahan tubuhnya. Sanya ambruk tak sadarkan diri.
"Gimana, Dok?" tanya Thozy khawatir saat Dokter Ray keluar dari ruang dimana Sanya ditangani.
"Anda suaminya?"
"Ya, Dok!" katanya dengan wajah meyakinkan.
"Anemianya alot. Hal ini bisa terjadi pada wanita hamil, tapi akan berisiko tinggi pada janinnya. Perhatikan asupan gizi makanannya dan waktu tidurnya." jelas sang dokter.
"Baiklah! Terima kasih, Dok!" ditangkupnya kedua tangan di depan dada. "Apa bisa saya bertemu istri saya, Dok?" Anggukan itu membuatnya melangkah menuju ruangan rawat sahabatnya.
"Sanya! Kamu sudah sadar?"
"Thozy!" matanya basah.
"Tak ada gunanya menangis. Kamu harus bangkit, tunjukkan padanya bahwa kamu sungguh berharga!" menghapus air yang jatuh ke pelipis Sanya. "Aku yakin, dia akan menyesal telah mencampakkanmu."
"Aku ingin pulang!"
"Tapi kamu masih sakit, Sanya! Kamu butuh perawatan!"
"Tidak! Aku sudah sembuh, kata perawat tadi aku sudah bisa pulang. Aku akan melakukan apapun untuk menjaga dia!" dielusnya perutnya yang masih rata itu.
---***---
"Kamu mau kemana?" Thozy menarik lengan Sanya saat melihat perempuan itu sedang memasukkan semua pakaiannya ke koper.
"Pulang kampung!"
"Jangan membuat ayahmu naik pitam karena mengetahui keadaanmu, Sa!"
"Biarkan! Dibunuh pun aku mau, aku telah bersalah!"
"Tidak! Aku tidak mengijinkanmu!" ditariknya pakaian-pakaian itu keluar dan dimasukkan kembali ke lemari.
"Kamu tidak punya hak untuk mengatur hidupku!"
"Oke, akan kutunjukkan padamu bahwa aku punya hak!" diambilnya lagi sebagian dari pakian-pakian tadi dan merapikannya kemudian memasukkannya ke tas punggung milik Sanya. "Ayo! Aku akan mengantarmu!" tarikan tangannya membuat Sanya menurut bagai kerbau ditusuk hidung. "Jean! Tolong jaga dan rapikan kamar Sanya. Dia akan pergi beberapa hari!"
"Oke, Bro!"
---***---
"Wah ada Nak Sanya tuh. Sama siapa datangnya, Bu?"
"Entahlah! Aku tidak mengenal laki-laki itu." jawab Bu Risti, mamanya Sanya.
"Calon mantu kali, Bu!"
"Ah, kamu sembarangan saja kalau bicara!" Bu Minda menimpali.
" Ya, sudah! Saya temui dulu mereka ya!" Bu Risty meninggalkan tetangga-tetangganya itu.
__ADS_1
"Siang, Bu!"
"Siang, Nak!"
"Saya Thozy, Bu!"
"Ya! Masuk dulu." katanya kemudian berjalan ke dalam rumah. "Sanya, buatkan minum untuk Nak Thozy!"
"Baik, Ma!"
"Nak Thozy temannya Sanya?"
"Ya, Bu! Teman dekat!" senyumnya merekah.
"Teman sekerja?"
"Tidak, Bu! Kebetulan waktu itu kami kenal di pesta ultah teman dan telanjur akrab."
"Kira-kira, ada keperluan apa Sanya kemari ya, Nak Thozy? Bukankah hari ini, hari kerjanya? Apa dia libur?"
"Sanya ambil cuti seminggu untuk istirahat. Kebetulan, saya juga dua minggu lagi baru berangkat kerja di tempat baru maka saya menggunakan kesempatan ini untuk mengantar Sanya sekaligus mengetahui keadaan desa tempat kelahirannya."
"Oh, ibu pikir ada keperluan penting."
"Diminum dulu!" Sanya meletakkan beberapa gelas teh dan segelas air putih.
"Untuk siapa air putih itu?" tanya Bu Risti
"Untuk Thozy, Bu! Dia anti manis."
"Ya, sudah! Diminum dulu! Ayo, Nak Thozy keburu dingin nanti!"
"Makasih, Bu!" mengambil air putih di gelas kaca besar dan menyeruputnya. "Bapak kemana, Bu?"
"Siang! Loh, ada Sanya? dan..." Pak Gio menatap tajam ke arah Thozy.
"Saya Thozy, Pak!" menyalami lelaki paruh baya itu.
"Temannya Sanya, Pak! Nak Thozy datang hanya untuk mengantar anak perempuan kita ini."
"Terima kasih, Nak!" Ayo, dilanjutkan minumnya! Bapak ke kamar dulu, ya!"
"Ya, Pak!" Thozy duduk.
"Sanya! Kamu temani Nak Thozy, Mama harus ke belakang." perempuan yang mulai nampak ubannya itu berdiri.
"Ya, Ma!"
Seperginya Bu Risti, Thozy menatap Sanya dalam-dalam.
"Kenapa melihatku seperti itu?"
"Tidak! Aku hanya mengagumi keberanianmu. Tapi aku bingung, katamu ayahmu galak banget. Barusan, tak ada tanda-tanda itu?"
"Harimau kalau tak diganggu tak keluar aumannya, kan?"
"Oh, gitu ya? Tapi ayahmu bukan harimau, kok!"
"Sa! Gimana kalau kamu dan aku ke Bali saja?"
"Kamu jangan ngaco, Zy! Aku sedang hamil!" katanya dengan volume rendah.
__ADS_1
"Emangnya orang hamil tak boleh bepergian?" menekan suaranya hingga hampir tak terdengar.
"Sudah, ah! Ayo, ke ruang makan. Mama sudah memanggil tuh!"
Usai makan siang, ruang tamu kembali terisi. Ayah,Ibu, Sanya serta Thozy bersenda gurau dengan penuh kasih sayang. Sementara itu, kedua adik Sanya keasikan dengan game sambil menikmati acara televisi di ruang keluarga yang sempit.
"Racka dan Ricky, tolong kecilkan volume televisi!" tanpa balasan atas perintah Bu Risti, suara TV tak kedengaran lagi hingga ruang tamu.
"Nak Thozy mau bicara apa?" kata Pak Gio penuh selidik.
"Gini, Pak! Saya sih, belum bicarakan hal ini sama Sanya tapi saya yakin Sanya tak akan menolak." melirik Sanya yang sedang memicingkan mata dan mengerutkan kening tanda tak mengerti maksud kata-katanya.
"Apa itu?" tanya ayahnya lagi.
"Thozy datang untuk menyampaikan keinginan melamar Sanya."
"Zy! Kamu..." berdiri
"Sanya, hargailah Nak Thozy! Siapa yang mengajarimu seperti itu?" seruan ayah membuat Sanya terpaku dan menatap nanar pada Thozy."
Inikah maksud perkataannya tadi? "Oke, akan kutunjukkan padamu bahwa aku punya hak!"
Senyum lelaki itu tak pudar kendati mata perempuan di depannya penuh hunusan.
Thozy bangkit, dipegangnya bahu Sanya. "Duduklah, dengarkan maksudku dulu baru menentukan jawabanmu." Sanya menurut.
"Pak, sebentar lagi saya pindah kerja ke Bali. Beberapa waktu yang lalu, Sanya sakit dan sempat dilarikan ke rumah sakit. Kata dokter, dia anemia dan lambung sehingga harus banyak beristirahat. Asupan gizi makanannya harus diperhatikan. Bukan berarti Sanya tidak bisa mengurus diri sendiri, tapi saya tahu siapa Sanya. Jika tidak diperhatikan dia akan sakit lagi. Jika harus berhenti kerja, saya rasa sia-sia saja ijazah dan gelar yang disandangnya. Untuk itu saya berpikir untuk segera menikahinya. Saya juga tidak bisa berpisah jauh dengan Sanya." wajahnya terpatri pada sosok imut di sampingnya yang sejak tadi tak bergeming menatapnya.
"Sanya, kamu sudah dengar sendiri pengakuan Nak Thozy, apa keputusan kamu?"
"Boleh, aku bicara berdua dengan Thozy, Pa?"
"Boleh!"
Dibawanya Thozy ke kebun belakang rumahnya, agak jauh. Diperkirakannya bahwa apa yang akan dibicarakannya dengan Thozy tak akan kedengaran oleh orang lain.
"Kamu jangan gila, Zy! Aku tidak membutuhkan pengasihanmu. Aku sudah siap, diapakan pun aku siap! Aku tidak mau membebanimu! Pergilah jauh, jangan oedikan aku dan anak ini!"
"Dia tidak bersalah, Sanya! Dia membutuhkan keluarga yang lengkap! Dia membutuhkan seorang ayah!"
"Tidak! Kau bukan ayahnya, kau jangan mengambil risiko seperti ini!"
"Aku punya alasan untuk melakukan hal ini!"
"Jangan mengarang alasan, Zy! Kebaikanmu sudah cukup bagiku selama ini!"
"Kamu harus tahu, alasanku!"
"Apa?"
---***---
"Zy! Coba lihat, gadis yang duduk di sana! Cantik banget ya!" Jickso mengacungkan jari dan diikuti lirikan Thozy.
"Oh, itu? Namanya Sanya, kami telah seminggu berkenalan. Minuman ini kuambilkan untuk dia!"
"Wah, aku kalah cepat rupanya."Diambilnya secangkir minuman bersoda dan tersenyum menggoda sambil melangkah cepat. "Kita lihat, siapa yang akan memenangkan hatinya nanti!"
"Curang!" ditumpahkannya minuman di tangannya ke tanah. "Aku terima tantanganmu!" mengikuti langkah Jickso.
"Sanya kan?" mengulurkan jemarinya dan disambut Sanya saat gadis itu melihat Thozy melaju ke tempatnya. "Aku Jickso! Kuharap kamu mau menerima minuman perkenalan ini!"
__ADS_1
"Trims!"