
Hubungan kedua pasutri yang menikah karena alasan persahabatn ini semakin mesra terlebih lagi sejak kehadiran Byan dalam hidup mereka.
Lelaki kecil itu seringkali membuat Sanya kewalahan. Bagaimana tidak? Setiap kepulangannya, Thozy selalu diperhadapkan pada permintaannya yang aneh. Minta digendong, diajak bermain bola di taman belakang rumah dan ujung-ujungnya Sanyalah yang mengalami perasaan bagai dicampuradukkan dengan lombok dan sejuta jarum di hati. Diusianya yang telah lebih dari dua tahun itu, Byan selalu dimanja oleh Thozy sehingga anak itu selalu ingin dituruti segala kemauannya.
Sanya sadar Thozy sedang direpotkan oleh rutinitasnya yang padat akhir-akhir ini. Penanganan proyek kerjasama dengan pihak asing serta kedatangan investor dan peninjauan yang dilakukan langsung oleh leader beberapa hari ini membuatnya pulang kemalaman.
Hal itu berdampak pada diri Byan. Lelaki kecil itu uring-uringan, kebanyakan rewel dan selalu meminta ibunya menghubungi sang ayah.
"Zy! Maaf, aku terpaksa VC karena sejak bangun tidur Byan rewel. Dia ingin melihat wajahmu!"
"Tidak apa. Berikan ponsel padanya!" masuk ke mobilnya.
Saat melihat wajah ayahnya di layar datar yang dipegangnya erat, giginya menampak. Bocah itu melompat kegirangan, "Yah... ayah! Iyan tangen. Tenapa Iyan tidak bisa lihat ayah di yumah? Ayah gak sayang sama Iyan, ya?"
"Ayah lagi kerja sayang. Walau Iyan tidak bisa lihat ayah, saat Iyan tidur ayah selalu peluk, kok! Ayah sayang banget sama Iyan. Iyan harus patuh sama Mama. Janji?"
"Ya, tapi...Iyan mau main baleng ayah!"
"Iyan sayang, ayah janji! Sebentar ayah bawain spiderman besaaaar banget!"
"Benal? Iyan nggak mau tidul malam sebelum ayah pulang!"
"Ya, sayang! Sebentar lagi ayah sampai di rumah. Iyan harus makan yang banyak biar bisa jagain Mama saat ayah kerja, ya!"
"Ya, ayah! Iyan sayang ayah!"
"Berikan ponsel sama Mama, ayah mau bilang i love you!"
"Mah, nih papa mau bilang ai laf yu!"
"Ya, Zy! Gimana kerjamu?"
"Baik! Kamu mau dibawain apa sama suamimu yang ganteng ini?" senyumnya merekah.
"Kepedean banget kamu! Bawa saja bahan makanan yang bisa aku masak untuk makan malam kita. Dan hati-hatilah di jalan. Hanya itu!"
"Kenapa setiap aku tanya, jawabanmu selalu seperti itu sayang?"
"Karena aku sadar, mendapatkan kasih sayangmu sudah melebihi segalanya."
"Nggak romantis banget. Baiklah, aku pulang! Ingat, jangan mandi sebelum aku tiba. Aku merindukanmu! Sangat merindukanmu!"
"Kamu!" Kata itu bagai terbuang di udara karena Thozy telah mengakhiri percakapan mereka dengan meninggalkan sebuah kedipan manja.
Di sepanjang perjalanan, dirinya dibayangi pemikiran tentang kesibukannya akhir-akhir ini. Seminggu lamanya, pria ini pulang saat istri dan anaknya telah lelap. Pagi harinya ia pergi saat lelaki kecil itu masih terlelap pula. Hanya ciuman kecil yang ditinggalkannya di dahi anak itu. Kehadiran perempuan cantik serta anak itu bagai pembuka berkat kehidupannya.
Diingatnya, saat lima bulan kelahiran cowok kecil itu dirinya diangkat sebagai Chief Financial Officer pada perusahan yang bergerak di bidang industri sekunder di Sulsel. Dengan alasan kenyamanan hidup Sanya dan Byan lelaki itu tak menolak rejeki yang datang. Ia rela hidup di kota itu walau harus menjauhkan Sanya dari orang-orang yang dicintai perempuan itu.
Sangat klasik untuk memberikan alasan tersebut, namun hal itu harus diterima keluarga besar Sanya karena sejak awal alasan itu juga yang dipakainya ketika melamar perempuan cantik tersebut di hadapan orangtuanya. Sebenarnya, kekhawatirannya akan kehidupan rumah tangganya muncul berawal dari pernyataan Sanya.
__ADS_1
"Aku melihat dia!" dipeluknya lengan Thozy.
"Dia juga melihatmu?" Pertanyaan Thozy membuatnya mengangkat wajah.
"Ya! Untunglah posisinya sangat jauh sehingga aku bisa kabur secepatnya dari situ."
Pernyataan Sanya terus membayanginya, Thozy menjadi sangat takut. Takut kehilangan perempuan yang telah memenuhi ruang hatinya dengan cinta. Satu-satunya cara untuk tetap bersamanya adalah meninggalkan tempat dimana mereka mengikrarkan janji nikah.
"Tanpa membunyikan klakson mobil, Thozy turun dan secara diam-diam memasuki rumah mewah itu. Dia tahu pada jam seperti itu putranya sedang makan dan sebentar lagi akan masuk kamar tidur. Karena itu, dengan berjingkat dimasukinya kamar bocah itu dan langsung berbaring di sana. Posisi ruang keluarga memang memberi peluang bagi siapa saja untuk melihatnya namun saat itu kedua orang yang disayanginya terlihat sibuk. Sanya sedang menyuapi cowok kecil yang superaktif itu.
"Nah, sekarang kita ke kamar untuk bermain sebentar kemudian bobok siang! Ayo!" dituntunnya tangan anaknya memasuki kamar.
"Ma, main di depan aja. Iyan mau tunggu ayah pulang. Pasti ayah sudah dekat. Ayo, Ma! Iyan kangen ayah!" dipegangnya tiang pintu kamar yang telah dibuka sang ibu.
"Iyan! Bukankah tadi Iyan sudah janji sama ayah untuk nurut kata-kata Mama?"
"Tapi, Ma!" dengan malas diikutinya langkah ibunya.
"Ehm ehm ehm!" suara batuk kecil seperti dibuat-buat itu terfokus oleh telinga kecilnya.
"Ayah! itu ayah, Ma!" dilepaskannya tangan ibunya dan berlari cepat ke sumber suara. "Benal, Ma! Ada ayah, ayah kok bisa ada di sini?"
"Karena ayah rindu sama cowok nakal ini!" direngkuhnya Byan dan keduanya berguling dikasur.
"Zy, makan dulu!" diraihnya tangan Byan. "Iyan, Ayah perlu makan dan istirahat. Iyan main sama Mama saja, ya!"
"Nggak! Mana ada orang ganteng suka bohong?" diliriknya Sanya. "Ayah heran, kok Iyan suka banget spidelmen, kenapa?"
"Kalo besal nanti Iyan mau jadi kayak Spidelmen!"
"Sayang, tolong ambilkan spiderman di lemari mainannya!" Setelah menerima benda berisi gas itu dari istrinya, diserahkannya ke Byan. Cowok kecil itu lansung menuruni tempat tidur dengan lengan tetap terkait pada jemari ayahnya. Diajaknya Thozy bermain di atas karpet.
"Main sama spidelmen itu nggak seru loh, Iyan!"
"Emang lebih selunya main sama apa?"
"Sama teman!"
"Teman Iyan hanya Titho. Lumahnya jauh banget, gimana mau mainnya? Ayah ajak ayah Titho ke sini aja, ya!"
"Kalau main sama adik sendiri, gimana?"
"Adik? Iyan kan belum punya adik!" jawaban polos Byan membelalakkan mata Sanya.
"Kalau Iyan minta sama Mama, pasti dikasih tuh!"
"Zy! Apa-apan kamu?"
"Ya, Ma! Iyan mau adik, Mama jangan pelit dong! Ayo, Ma! Kasiin Iyan adik bial bisa main baleng!"
__ADS_1
"Iyan! Adik itu bukan kayak spidermen yang bisa langsung didapat." melototkan matanya pada Thozy yang sedang menutup mulutnya menahan tawa. "Kamu tahu gimana keras kepalanya anak ini, kenapa diumpan dengan kata-kata seperti itu, Zy!"
"Dijawab saja, apa susahnya?"
"Ma! Iyan mau adik, pokoknya besok caliin adik buat Iyan. Kalo nggak, Iyan nggak mau nulut kata Mama lagi!"
"Aduh, kamu ini. Sudah, ah! Ini semua gara-gara kamu." bangun dan melangkah hendak keluar kamar. "Jelasin aja ke dia, aku nggak mau dibikin puyeng!"
"Tapi dia butuh jawabanmu, ya kan Iyan?"
"Ya, Ma! Mama mau kan kasih Iyan adik?"
"Ya! Nanti!" berlalu meninggalkan kamar.
"Kok, nanti sih? Yah, Iyan maunya besok!"
"Iyan, main dulu sama spiderman ini ya! Tahun depan, Iyan akan dikasih adik sama Mama dan Ayah."
"Jangan bohong,loh Yah!"
"Apa ada, orang ganteng suka bohong?"
"Nggak! Iyan sama Ayah, nggak pernah bohong!"
"Ya, benar! Kita kan orang terganteng di rumah ini, mana mungkin suka bohong!" siku kedua makluk beda usia itu bertaut kemudian keduanya berpeluk mesra.
"Sa!"
"Dia sudah tidur?"
"Ya! Aku lapar nih!"
"Ganti bajumu dulu baru makan, Zy!"
"Nggak, sebentar saja. Mumpung waktu mandi sudah dekat."
"Ya, sudah. Makanlah, aku selesaikan ini dulu!"
Selesai makan, Thozy menyandarkan dirinya di sofa ruang keluarga. Beberapa menit kemudian Sanya masuk dengan membawa beberapa potong pakian dan diketakkan di keranjang.
"Kamu belum mandi, Zy?" berjalan mendekati suaminya.
"Aku tunggu kamu!" menjemput tangan Sanya dan mendudukkannya dipangkuannya.
"Mandikan aku, ya!"
"Nggak! Kayak anak kecil saja!"
"Aku merindukanmu, Sa! Seminggu ini kamu hanya menyiapkan sarapan untukku, mana bisa aku tahan yang di bawah ini, Sa!" Diendusnya leher perempuan itu, tangannya pun menjalar liar. Sanya tak dapat menolak ketika dirinya dituntun menuju kamar mereka dan terus dibawa ke kamar mandi. Gejolak cinta birahi tak terelakkan lagi ketika shower dihidupkan dan tubuh perempuan itu diterjang dengan sentuhan bibir disekujur tubuhnya.
__ADS_1