
Tak seperti biasanya bila telah mengakhiri aktivitas makan malam, Thozy langsung menyelesaikan pekerjaannya di kamar kerja ya. Malam itu Thozy mengiring langkah Sanya menuju kamar dan meraih ponselnya, membaca berbagai artikel tentang ibu hamil.
Dalam sebuah artikel pada laman Halodoc, matanya menilik sempurna. "Saat usia kehamilan memasukki trimester kedua, hormon progesteron dan estrogen dalam tubuh ibu hamil akan meningkat cukup drastis yang membuat ibu hamil lebih bergairah untuk melakukan hubungan intim. Hal ini ditandai dengan payudara yang semakin membesar dan Miss V yang lebih sensitif. Jadi, manfaatkanlah dampak dari perubahan hormon ini untuk berhubungan intim dengan suami."
Pikirannya bekerja keras mengingat kembali dua gundukan yang telah disentuhnya sebelum makan malam tadi. "Ukurannya memang membesar" katanya dalam hati dan diperhatikannya telapak tangannya. "jemari tanganku tak mampu menjangkau semuanya saat kuremas. Beberapa waktu lalu aku mendapati beberapa bra dengan ukuran L di atas tempat tidur ketika baru saja kembali dari kantor. Ya, benar! Bukankah sekarang kehamilannya mencapai trimester kedua? Tapi, dia tidak menunjukkan tanda-tanda apapun." Dicobanya mengingat lagi "Atau... mungkin ketidaknyamanannya belakangan ini karena..."
---***---
"Sa! Kenapa?" gerakan membolak-balik tubuh yang dilakukan Sanya mengganggu Thozy.
"Gerah! Punggungku jadi gatal."
Thozy bingung, AC sedang dinyalakan, tapi tubuhnya gerah. Mungkin kehamilannyalah penyebabnya. Kasihan dia. "Mau aku garukin?" Sanya mengangguk mendengar tawarannya.
---***---
"Zy, kamu kenapa?" Sanya yang sejak tadi sedang melipat pakaian mengajukan pertanyaan ketika dilihatnya setiap gerakan Thozy.
"Tidak! Tidak kenapa-kenapa kok! Aku hanya terbawa pada sesuatu yang kubaca. Kamu belum mengantuk?" ponselnya dinonaktifkan.
"Belum! Aku akan tidur setelah pakaian-pakaian ini rapi tersusun di lemari."
"Aku bantu, biar cepat!" dirinya segera mendekat dan meraih pakaian yang ada dan memasukkannya ke lemari.
"Zy, kenapa digabung seperti itu?"
"Kan biar cepat!"
"Tapi akan berserak kalau dipisahkan ke tempatnya masing-masing."
"Kenapa dipisah? Ditaruh saja ke tempat yang sama. Toh sama-sama lemari." tak dipedulikannya tatapan bingung Sanya.
"Kamu, tuh! Entar kita kebingungan, saat mengambilnya harus menuju lemari yang mana."
"Lemari pakaian kita hanya dua bukan lima, sayang!" dicolek ya hidung Sanya. "Kalau bingung, akan aku carikan."
"Udah, ah! Kamu ini susah kalau dibilangin. Dari dulu selalu mau dituruti saja."
"Dan kamu, kalau tidak dipaksa maka tidak akan bisa kumiliki sampai kapanpun! Bukankah begitu?" diraupnya lagi semua yang telah dilipat Sanya dan berlalu menuju lemari. Perempuan itu menghentikan aktivitasnya dan menatap Thozy.
"Kenapa melihatku sampai sebegitu?" duduk berjongkok di depan Sanya. "Maaf, kalau kata-kataku mengingatkan kamu pada masa itu!" dipeluknya perempuan itu.
"Tidak! Aku tidak mengingat apapun. Aku justru bersyukur telah dikaruniakan Tuhan untuk hidup bersama orang sepertimu."
"Ya, udah! Tidak ada yang perlu kamu lakukan lagi kan?"
__ADS_1
"Ya, tidak lagi!"
"Kita tidur, ya?"
"Biasanya kamu menyelesaikan pekerjaan kantor, kenapa malam ini tidak?"
"Saat kamu tidur sepulang dari puskesmas, aku ke rumah Ridzal mengantar beberapa berkas kerja. Kemarin dia menawarkan untuk membantuku."
"Oh!" meletakkan kepalanya ke bantal.
Thozy membuka kaos yang melekat ditubuhnya dan segera mengambil posisi di samping Sanya.
"Sa, aku heran setiap malam kamu gerah tapi kenapa tetap berpakaian seperti ini? Apa kamu tidak punya pakaian yang lebih tipis atau daster kaos Jersey yuken mungkin?"
"Ada, tapi aku malu memakainya."
"Sa...Sa! Kamu ini aneh, malu pada suami sendiri."
"Loh, Zy! Kamu mau kemana?" dilihatnya Thozy bangun dan meninggalkannya.
"Ambilkan pakaian yang cocok untukmu."
"Tidak usah. Aku sudah terbiasa begini, kok!"
Beberapa menit kemudian ia kembali dengan memegang sepotong pakaian. "Pakailah ini, jangan bilang aku memaksakan kehendak karena memang seperti itulah aku!"
"Ya! Kenapa sejak kemarin kamu jadi cerewet dan suka mengatur begini?" turun dari pembaringan dan melangkah menuju kamar mandi.
Meraih dengan cepat lengan Sanya. "Tukarnya di sini saja, buat apa malu padaku? Kau lupa ya? Pagi tadi sebagian tubuhmu sudah kulihat dan tadi..." menatap lekat mata Sanya. "Kamu mengijinkan aku menyentuhnya, kan?" Selembut usapan jemarinya di kepala Sanya, kata-kata itu keluar dari mulutnya.
Sanya mengalihkan tatapnya ke benda yang tergenggam di tangannya. Wanita itu bingung harus memulai dari mana ketika membuka babydollnya, baju ataukah celana lebih dulu. Dalam kebingungannya, Thozy menari benda yang berada di tangan Sanya kemudian mengambil posisi berdiri di belakang wanita itu. "Buka bajumu!"
Dengan gerakan lambat dan nafas tertahan Sanya melakukan perintahnya.
"Kenapa bra-nya tidak dibuka? Aturan kesehatan tidak perbolehkan memakainya saat tidur!"
Setelah Sanya melakukan sesuai instruksinya, Thozy memakaikan dirinya benda tanpa lengan yang berbahan halus dan dingin itu. " Sekarang, bukalah bawahan itu dan tidurlah!" Thozy mengambil potongan-potongan pakian itu kemudian berlalu ke tempat penyimpanan pakaian kotor.
Sekembalinya, dilihatnya Sanya tidur membelakangi dan mendekap guling. Lelaki itu tersenyum geli melihat tingkah istrinya. Thozy segera merebahkan diri, dan memeluknya dari belakang.
"Malam ini istriku tidak lagi punya kerinduan untuk memelukku, mungkin akulah yang harus memeluknya." bisiknya ketika wajahnya telah berada di ceruk leher Sanya.
Danya tak bergeming dari posisinya. Bagaimana harus memeluk Thozy bila dirinya merasa terganggu dengan keadaannya sendiri? Tidur tanpa bra seolah membuat segalanya bergelantungan. Bagaimana kalau benda kenyalnya menyentuh tubuh lelaki itu?
"Rasanya tidak enak banget, aku tidak bisa memeluk dengan sempurna. Kenapa guling sialan ini harus jadi teman bantal?"
__ADS_1
Cuap-cuap Thozy semakin menggetarkan jiwa Sanya. "Aku jadi kehilangan kesempatan untuk menyentuh si baby di perut istriku" sambungnya lagi.
Sanya sedikit melonggarkan guling saat dirasakannya tangan Thozy memaksa menjauhkan guling itu darinya. Kini lengan Thozy telah melingkari perutnya. Lelaki itu mengelus dan terus mengelus.
Ketika dirinya telah menemukan kenyamanan dan hampir pulas tertidur, dirasakannya tangan Thozy bergerak perlahan ke atas. "Zy!" ditahannya tangan lelaki itu.
"Apa aku tak berhak memilikimu seutuhnya?" nafas Thozy memburu.
"Aku...tapi...tapi...aku...aku tidak pantas untukmu!"
"Kenapa?" Thozy bangkit dan berpindah tidur menghadap Sanya. Tangannya menangkup pipi wanita itu, "Buka matamu, sayang!" dikecupnya mata yang telah terbuka. "Aku memilihmu karena aku tahu kamu pantas menjadi pendamping hidupku. Aku mencintaimu!" ditariknya guling itu dan dicampakkannya ke lantai. "Benda itu tidak boleh membatasi kita walau hanya semalam. Sekian lama aku dijadikan gulingmu, mengapa malam ini kamu mengubah segalanya? Kamu telah membuatku merindukan dekapanmu." direngkuhnya Sanya masuk semakin dalam ke dada bidangnya.
"Zy!"
"Kenapa?"
"Aku kesulitan bernafas!"
"Oh, sorry!" dilonggarkannya dekapannya. "Jika seperti ini, bisa?"
"Hmmm!"
"Kenapa kamu tidak memelukku?"
"Gimana mau peluk kalau tanganku kamu kepit seperti ini?"
"Oh!" Diangkatnya tangan Sanya dan diletakkannya melingkari pinggangnya.
Posisi yang tak nyaman bagi Sanya, perempuan itu berkali menarik nafasnya dalam-dalam.
Perlahan Thozy mengelus punggungnya, merapatkan wajahnya mendekatkan ke bibir kenyal wanita itu. Mata Sanya membesar ketika Thozy meraup bibirnya dengan sempurna. Mungkinkah lelaki ini sedang melakukan sesuatu menuju keinginannya untuk memiliki dirinya seutuhnya? Pertanyaan itu terjawab ketika elusan suaminya berpindah ke dua gundukan di dadanya. Sanya tak berani menahan gerakann tangannya saat bersitatap dengan lelaki itu. Perlahan kulumannya dilepaskan dan bibirnya terus berpindah ke leher Sanya dan bermain indah dengan sensasi yang membuat Sanya menggelinjang. Ketika bibirnya bergerak ke bawah melahap bergantian kedua benda kenyal milik Sanya, perempuan itu tak dapat menahan desahannya. Kenikmatan yang dibuat Thozy semakin menjadi kala pakaiannya berhasil diloloskan lelaki itu dari tubuhnya.
"Zy! Oh...ah!"
Thozy makin bersemangat saat Sanya memeluknya semakin erat. Dia teringat akan artikel yang dibacanya tadi. Dirinya yakin bahwa wanita yang sedang dicumbunya telah ada pada gairah yang tak tertahankan. Jemari Thozy bergerak ke bawah, area itu telah basah. Diberikannya elusan lembut ke seluruh bagian benda tersebut. Jemarinya kemudian digerakkan turun-naik ketika biji sebesar jagung berhasil disentuhnya.
"Zy!"
"Sa! Aku mendambakanmu!" dikulumnya bibir yang terbuka yang tadi mendesahkan namanya itu.
Wajah perempuan itu memerah dan membalas ******* suaminya. Kali ini dia telah begitu agresif dipengaruhi nafsu yang membara. Walau keduanya berada dalam gelutan asmara yang tertuang penuh, Thozy tetap menjaga posisinya agar tidak membahayakan janin di rahim Sanya.
Dipuncak birahi keduanya, Thozy mengerang kuat sambil terus menghentak di bawah Sanya. Tangan Sanya yang telah diturunkan memegang erat pinggiran tempat tidur sesekali terlepas ketika benda panjang milik Thozy dikeluarmasukkan dengan terjangan kuat.
Pada akhir penyatuan mereka, dalam pelukan dan pipi yang saling menempel, keduanya masuk dalam impian. Hingga kokok ayam dan cicitan anak burung di dahan telah berlalu beberapa jam, Thozy masih menikmati empuknya kasur.
__ADS_1