Cinta Gugur Bersama Tangis

Cinta Gugur Bersama Tangis
Kalau udah ada dedek, Ayah masih sayang sama Byan nggak?


__ADS_3

"Pak, teman saya mengabarkan bahwa pasangan muda itu telah menuju bandara untuk kembali ke kampung halaman mereka. Sepertinya sesuatu telah terjadi pada sang perempuan, istrinya." jelas si penelpon seminggu kemudian.


"Baiklah! Thanks atas infomu!" memutuskan pembicaraan dan segera berlalu dari parkiran saat suasana kantor masih sangat sepi karena para karyawan belum berdatangan.


Sambil bernyanyi kecil Thozy memasuki ruangannya, suara dering ponsel menghentikan langkahnya di depan ruang kerjanya.


"Pagi, Pak!" diarahkannya pendengarannya sebaik mungkin. Lanjutnya, "Baiklah, saya ke sana sekarang juga!"


----***----


Menjelang siang hari, waktu yang tepat untuk beristirahat setelah larut dalam rutinitas di dapur. Sanya duduk melonjorkan kaki di ruang keluarga sambil memperhatikan tingkah Byan.


"Byan, udah waktunya untuk bobok!" Sanya mengingatkan kala didapatinya sang buah hati telah memperlihatkan tanda-tanda kantuk yang berlebihan. " Yuk, Mama gendong!"


"Jangan, Ma! Kalau Byan digendong, entar dedek Bayinya kesakitan lagi!"


"Hallo Byan, sayang!" suara yang tak asing lagi itu seketika merampas kantuk yang menggantung di mata lelaki kecil tersayang.


"Ayah?" Byan berhamburan ke arah Thozy!


"Anak ayah, kok belum bobok?" mencium kedua pipi Byan setelah anak itu berada dalam pelukannya.


"Nggak mau bobok lagi, Iyan mau main perang-perangan sama ayah aja."


"Byan! Ayah lelah, belum makan lagi. Ayo, Mama anterin ke kamar. Mainnya setelah bangun tidur aja ya!" bujuk Sanya.


"Ya, Byan harus bobok! Gimana kalau papa temani?" tawaran Thozy membuat lelaki imut itu langsung menganggukkan kepala sekaligus mengangkat jempol kegirangan.


"Zy, tapi kamu harus balik kantor lagi kan?"


"Hari ini tidak dan besok aku akan keluar tapi bukan ke kantor. Ada yang harus aku bereskan sehubungan dengan pengresmian bangunan tersebut."


"Ya udah, aku siapkan pakaian gantimu dulu!" berlalu ke kamar sementara Thozy menggendong Byan ke kamar tidurnya.


Kamar Byan.

__ADS_1


"Yah, kapan dedek bayi lahir? Kalau udah ada dedek, Ayah masih sayang sama Byan nggak? Masih tidurin Byan kayak gini nggak?"


"Banyak banget pertanyaannya? Sebelum ayah berikan jawaban, ayah punya pertanyaan untuk Byan nih. Byan anak ayah atau bukan?"


"Anak Ayah!"


"Dedek anak ayah atau bukan?"


"Anak ayah juga!"


"Sama-sama anak ayah, kan?"


"Hmmm!" mengangguk dengan cepat.


"Kalau begitu, jangan bertanya kayak itu lagi ke ayah! Janji?" mengangkat jempol ke hadapan Byan.


"Janji! Tapi kenapa nggak boleh, Yah?" menatap tak berkedip.


"Karena sama-sama anak ayah, harus sama perlakuannya juga. Oke?"


"Sekarang saatnya bobok!' mencium dahi Byan dengan gemas.


----""----


"Sayang, kamu kecapekan?" memeluk tubuh Sanya dari belakang dan mencium pipinya.


"Nggak! Byan sudah tidur?"


"Sudah!"


"Ganti baju dulu, aku akan menyiapkan makan untukmu!"


"Baiklah!" melepaskan sang istri dan meraih pakaian ganti yang terletak di sisi tempat tidur.


Sanya yang telah membuka pintu kamar menghentikan langkahnya saat suara Thozy kembali terdengar. "Kamu masak apa hari ini?"

__ADS_1


Dengan senyum terkulum dia menjawab, "Gurami asam manis. Bukankah semalam kamu mengatakan sangat merindukan masakan tersebut?"


"Thanks, sayangku!"


"Cepatlah!"


"Oke, manisku!"


Di tengah menikmati makan siang Thozy berujar, "Entah mengapa, belakangan ini aku suka makanan pedas dan asam. Apa ini ada hubungannya dengan kehamilan kamu sayang?"


"Mungkin juga!"


"Morning sickness kamu gimana?"


"Udah hilang! Sekarang gantian kamu lagi yang ngidem. Hidup ini terkadang aneh ya. Aku yang hamil, kamu yang ngidam."


"Emang, tapi bukankah itu adil?"


"Ya, sih! Tapi kamu juga sudah dibebani dengan mencari nafkah, harusnya..."


"Perjuangan terberat ada di pihakmu, kuharap saatnya nanti kamu bisa melahirkan dengan baik."


"Semoga! Apapun yang ingin kamu makan, katakan biar aku masakin, ya!"


"Ya, sayang!"


Selesai makan keduanya terlihat duduk bercengkerama di bawah rindangan bougenvile.


"Hampir lupa....Dua minggu lagi pengresmian gedung itu, kita diundang untuk hadir."


"Kita? Nggak salah nih?"


"Tentu saja, sejujurnya selama ini aku yang mengurus semua hal menyangkut berdirinya gedung itu sampai penyediaan barangnya. Orang yang mempercayakan pekerjaan ini padaku, dialah yang menginginkan kehadiran kita!"


"Baik banget orang itu."

__ADS_1


__ADS_2