Cinta Gugur Bersama Tangis

Cinta Gugur Bersama Tangis
Dia sudah mengetahui semuanya


__ADS_3

"Jika diundang pun aku yakin kamu tak akan datang. Bukankah si cantik yang sedang bersamamu ini lebih penting?" wajah lelaki itu merah padam. Dirinya tahu maksud perkataan Thozy namun muka temboknya mana mau mempertontonkan rasa malu di depan perempuan yang sedang berada di sampingnya?


"Aku turut berbahagia!" ditatapnya lelaki kecil dalam gendongan Thozy, sebuah cubitan diberikan ke pipi gembul anak itu. "Cakep banget!"


"Ayahnya cakep, sudah tentu anaknya juga. Ya, kan sayang?" mencium pipi Byan.


"Oke, bersenang-senanglah! Semoga kita bisa jumpa lagi!"


"Semoga!"


Sanya langsung memeluk Thozy saat lelaki tadi berlalu dari hadapan mereka. "Tenanglah! Dia tidak akan menyakitimu."


"Tapi..." tatapannya beralih ke Byan. "Aku takut dia..." tak diteruskannya kata-katanya, diraihnya Byan dari pelukan Thozy dan didekap ke dadanya serta diciuminya. "Zy! Kumohon, pertahankanlah dia seandainya..." tatap matanya memohon pada suaminya.


"Sa, sayang! Jangan merisaukan apa yang tidak akan terjadi!"


"Cara dia menatap..."


"Sa! Hentikan ketakutanmu, di mata lelaki itu perempuan cantik yang sedang bersamanya lebih dari apapun. Mengertilah!" bisikan itu diberikan berbarengan dengan elusannya ke punggung istrinya. "Sebaiknya kita pulang sebelum keadaanmu memburuk." dibimbingnya Sanya. "Kemarikan anakku! Iyan digendong ayah aja, ya! Biar adik bayi aman di perut mama!"


"Ya, ayah!"


"Iyan lapal, Yah!" Thozy mendudukkan cowok kecil itu ke kursi ruang tengah.


"Baiklah,tunggu di sini biar ayah ambilkan bekal kita di mobil."


Sanya berjalan ke kulkas, menggapai sebotol aqua dan meminumnya. "Sa, ambilkan air hangat, akan aku pakai bersihkan tubuh Byan sebelum dia diberi makan."


"Ya!"


Sekembalinya Thozy membawa semua bekal yang belum sempat di sentuh tadi, sebokor air hangat telah diletakkan Sanya di meja.


"Bisa kamu siapkan segalanya?" berjalan ke meja makan dan meletakkan semuanya di atas sana.


"Zy!" dipeluknya suaminya dari belakang. "Kenapa kamu mengakui semuanya kepada dia?"


"Sa! Kita akan membahas itu nanti, jangan dipikirkan lagi! Ambil piring dan semua yang diperlukan untuk menyajikan ini, kita akan makan siang! Oke?" puncak kepala perempuan itu diciumnya setelah tubuhnya dibalikkan. "Apakah kau tega membiarkan buah hatimu kelaparan?"


"Nggak!" dilepaskannya pelukannya pada pinggang Thozy.

__ADS_1


Siang itu, Thozy memilih menikmati makanannya sambil menyuap Byan untuk memenuhi permintaan lelaki kecil yang nampak sedang lucu-lucunya itu. Hati kecilnya berkata, Kehadiran Jickso tak boleh merusak kebahagiaan yang telah direnggutnya. Sanya dan Byan adalah miliknya, bukankah lelaki itu telah menyuruhnya membantu Sanya menggugurkan benih yang tumbuh di rahim Sanya?


Sanya nampak mondar-mandir di kamarnya seorang diri dengan pikiran yang tak menentu membuatnya tak menyadari kedatangan Thozy.


"Sa! Kamu baik-baik saja?"


"Byan sudah tidur?"


"Ya, sejak sejam yang lalu!"


"Lalu apa yang kau buat selama sejam ini, Zy? Sejak tadi aku menunggumu untuk beristirahat."


"Aku habis mencuci." menaiki tempat tidur dan menelentangkan tubuhnya. "Kok, bengong? Katanya mau istirahat, kenapa masih di situ?"


Pertanyaan Thozy tak ditanggapinya, perempuan itu menuju bufet tempat minyak dan obat-obatan disimpan kemudian kembali menghampiri Thozy.


"Buka bajumu sekarang!"


"Untuk apa?"


"Jangan pura-pura tidak tahu!" dipaksanya suaminya hingga mau membuka kaos oblong yang menempel di badannya.


Cairan berwarna kuning yang ditumpahkan ke tangannya langsung dioleskan ke seluruh permukaan kulit punggung Thozy dan dengan lembut tangannya memijat otot lelaki itu. Minyak Almond yang dipakainya ternyata tidak membuat kulit terasa lengket sehingga menyamankan karena fungsi yang melekat padanya yaitu melembutkan dan menghaluskan kulit. Melihat Thozy tertidur, Sanya pun membaringkan diri. Tangannya melingkar indah di punggung suaminya.


Sanya mengerjapkan matanya. Thozy nampak tersenyum, tangannya sedang mengelus perut perempuan yang telah memenuhi ruang hatinya dengan cinta itu. Di pangkuan lelaki itu, Byan duduk dan turut menggoyang tangan Sanya.


"Oh, aku belum masak apa pun untuk makan malam kita," bergegas hendak turun.


"Ma! Iyan udah makan, kok! Nih, lihat pelut Iyan! Udah segede ini!"


Pipi gembul anaknya ditempeli kedua telapaknya dan diciumi. "Wanginya anak mama! Iyan makan apa barusan?"


"Ada deh, enak benget Ma!"


"Yang benar aja!" turun dan menggendong putranya. "Zy! Maafin aku, tidur hingga malam begini. Kamu sudah makan?"


"Bukankah aku akan makan bila melihat kamu sudah kenyang?"


"Kalau gitu, aku akan mandi setelah makan."

__ADS_1


"Nggak! Nggak boleh! Mandi dulu, mulai sekarang kamu dilarang mandi di atas pukul tujuh!"


Jika seperti itu, tak ada lagi alasan yang dapat diterima suaminya. Sejak menikah Thozy memang seperti itu, Byan yang telah bertahta di perut Sanya mengharuskan Thozy membuat aturan ketat soal mandi dan makan. Tak heran bila sekarang hal itu diberlakukan lagi.


Thozy menyibukkan diri dengan menemani Byan menonton film di tv sambil menanti Sanya. Cowok kecil itu nampak berada di antara kedua kaki Thozy yang dilonjorkan. Kepalanya disandarkan di perut sang ayah.


"Yah, kasian adik kecil itu ya! Dia nangis, ibunya kemana?"


"Ibunya oergi membeli nasi untuk dia."


"Ayahnya kemana?"


"Ayahnya.....coba lihat, mungkin itu ayahnya yang baru pulang kerja!"


"Bukan! Kalau ayahnya dia nggak mungkin manggil Paman!"


"Benar juga, ya! Anak ayah pinter banget. Nah, itu ibunya sudah datang!" Thozy menggerakkan kepala Byan ke arah Sanya untuk mengalihkan perhatian cowok kecil itu saat melihat mamanya keluar kamar.


"Hehee, itu mamanya Byan!" segera bangun dan berlari menghamburkan diri ke dalam pelukan Sanya.


"Kita makan, Zy?"


"Ya! Ayo!"


Hilir mudik kendaraan di jalan depan rumah mereka hanya sesekali terdengar saat lelaki kecil itu tertidur di pangkuan Thozy dan diangkat Sanya ke tempat tidur. Malam itu, keduanya menemani Byan bermain di kamarnya. Setelah menyalakan lampu tidur, Thozy menutup rapat pintu kamar dan pasutri itu masuk ke kamar di sebelahnya.


"Zy, aku nggak bisa tidur!" Sanya telah beberapa kali membalikkan badannya yang berada di bawah ketiak Thozy. Lelaki itu pun rupanya mengalami hal yang sama, usai mengelus perut Sanya matanya tak mau diajak pejam. Ketika dirinya sedang berjuang menghalau segala ketakutan saat mengingat pertemuan tak terduga di pantai itu, perkataan Sanya menggugah perhatiannya. Lelaki itu berusaha bersikap sewajarnya, "Jangan merisaukan apapun, ingatlah Byan dan adiknya yang di rahimmu. Mereka membutuhkan perhatian. Aku akan selalu ada untuk kalian karena Tuhan telah mempersatukan kita."


"Aku tahu itu, tapi yang aku pikirkan adalah mengapa kamu mengakui semuanya? Bukankah kita sepakat untuk merahasiakan pernikahan kita dari semua orang?"


"Tidak ada yang boleh disembunyikan lagi, mata mereka harus dibuka sejak sekarang. Mereka harus tahu, siapa kita!"


"Aku takut kamu dipermalukan karena diriku, Zy!"


"Buanglah pikiran itu, kamu bukan momok. Kamu dan Byan adalah berkatku!" Dihadapkannya wajah mereka. "Tuhan telah menambahkan satu lagi berkat bagiku di sini, jagalah dirimu demi dia. Jangan pernah menganggap semua yang kulakukan bakal mempermalukan diriku. Aku bangga memiliki kalian di hidupku!"


"Terima kasih, Zy!" Dengan lembut dikecupnya bibir Thozy.


"Ridzal akan datang besok. Walau dia menolak karena tak mau merepotkanmu, aku memaksanya menginap di sini."

__ADS_1


Mata Sanya yang mulai redup terbuka lebar mendengar perkataan Thozy. "Dia sudah mengetahui segalanya sejak Byan berusia tiga bulan!"


"Apa?"


__ADS_2