
Sepulang dari mengantar Ridzal di Bandara, Thozy membawa keluarga kecilnya ke swalayan yang tak jauh dari rumah mereka.
"Zy, kita mau kemana? Mengapa tidak langsung pulang?"
"Kita mampir ke butik yang baru dibangun di sebelah jalan sana, ya!"
"Untuk apa Zy? Belum ada yang dijual di sana juga, kan?"
"Lihat-lihat aja, aku suka banget model bangunannya. Siapa tahu kamu juga suka!"
"Zy, suka sih suka tapi itu kan punya orang. Apa untungnya dilihat?"
"Untungnya? Enakan mata dan hati, dong!" selorohnya gembira. "Udah sampai! Tuh, lihat! Bagus kan, Sa?"
Hanya anggukan yang diberikannya. Diam-diam dia mengagumi bangunan tersebut. Hati kecilnya berbicara dalam kesunyian, sungguh cantik! Pemiliknya pasti cantik mungil, tapi mengapa warna yang dipakai adalah warna kesukaannya? Dan modelnya... Ah, udahlah! Lupakan! Ditepisnya segala dugaan negatif di hatinya.
Thozy tersenyum melihat mendung bergelayut indah di wajah istrinya. Dia seakan tahu apa yang tertuang di sana.
"Turun, yuk!" ajakan Thozy melebarkan pandangan mata Sanya.
"Ngapain lagi, sih? Aku nggak minat, kamu aja ke sana!" wajah tak sukanya jelas terlihat.
"Ayolah, sayang! Bangunan ini ditender oleh temanku, seminggu yang lalu dia mengajakku kemari untuk melihat-lihat. Nggak ada yang aneh kalau kamu pun ikut. Aku yakin dia akan senang melihat kamu datang! Ayo!" diulurkan tangannya setelah pintu mobil dibuka.
"Nggak boleh lama!"
"Ya, nggak lama!" janji Thozy.
Saat melihat Thozy dan istri serta anaknya melangkah memasuki gedung, seorang lelaki menghampiri mereka.
"Thozy? Ngapain nggak bilang-bilang kalau mau berkunjung?"
"Surprise! Kebetulan nggak ada kesibukan jadi aku ngajak istri anak." Thozy menebarkan pandangnya. "Udah hampir rampung, cepat juga nih!"
"Ya! Sebulan lagi bisa digunakan jika peralatannya telah sampai!"
"Baguslah!" menarik tangan Biyan. "Sa! Kita lihat ke belakang, yuk!"
Sanya menuruti suaminya, sejujurnya sejak tadi hatinya telah diusik dengan keinginan untuk mengetahui letak seluruh ruangannya. semua yang terpampang sangat menakjubkan dirinya. Dan yang hadir dalam benaknya saat itu hanyalah ketidakpercayaan sehingga tanpa sadar terlontar sebuah frasa. "Tak mungkin!"
"Apanya yang tak mungkin, Sayang?" Pertanyaan Thozy mengagetkannya.
"Nggak! Aku...aku hanya heran melihat kecantikan gedung ini. Semuanya..."
"Jadi, kamu menyukainya? Benar-benar suka dengan letak ruangannya?"
__ADS_1
"Ya, tapi...udah, ah! Nggak usah dibahas, malu-maluin aja kalau didengar orang!"
"Mengagumi, menyukai, simpati, itu hak kamu sayang. Nggak ada yang bisa melarangnya, itu wajar kok! Tak ada yang akan dirugikan dalam hal ini, kan?"
"Ya! Sebaiknya kita pulang sekarang, aku yakin sebentar lagi pemiliknya akan datang." digendongnya Biyan.
"Jangan! Biyan sama aku aja. Aku yang akan menggendongnya, kamu nggak boleh terlalu lelah!"
Hari yang melelahkan hampir berlalu. Bagi wanita yang tengah hamil muda itu, melaksanakan rutinitas sebagai ibu rumah tangga bukanlah hal yang sulit, namun sesuatu yang lain terasa menyulitkannya untuk tidur. Sanya seakan sulit menghilangkan bayangan tentang bangunan yang siang tadi dikunjunginya bersama Thozy.
Kini dia nampak merenung sambil membuka bagian akhir diary yang telah lama tak dihiraukannya. Diary yang sebelumnya diambil dari laci bufet, ditatapnya lekat.
"Sedang apa? Mengapa belum tidur?" Thozy menghampiri dan mengecup puncak kepalanya. Lengan lelaki itu melingkar di perutnya dan mengelus lembut di sana. "Apa ini? Bagus!" pipi mereka menempel sambil menatap gambar di diary itu.
"Ah, i..ini...ini goresan tak penting!" Sanya terbata kemudian menutup diarynya. "Aku ngantuk, tidur yuk!" ajaknya untuk mengalihkan perhatian Thozy.
"Yuk!"
"Eh, Zy! Apa sih, turunkan aku!"
"Aku merindukanmu!" dibawanya Sanya ke kamar dan direbahkan ke pembaringan. Diberinya ciuman bertubi-tubi ke seluruh bagian wajahnya. "Kamu tidak merindukan aku?"
"Kata siapa?"
"Apakah itu berarti untukmu?"
"Ya, karena dari situlah aku tahu kamu juga mendambakannya!"
Tangan Sanya terangkat cepat melingkar di leher Thozy, membalas perlakuan suaminya. Sebelah tangannya kemudian beralih ke dada lelaki itu dan memberikan sensasi dengan mengelus ****** rata Thozy saat bibir mereka bertautan dan saling berebut oksigen.
Malam menjadi hangat dan perlahan semakin panas kala hentakan nafsu membara tertuang dalam erangan-erangan kenikmatan yang mereka rasakan.
Di akhir pertarungan cinta mereka Thozy menenggelamkan wajah istrinya dalam dekapan dan mengecup puncak kepalanya.
"Thanks, sayang!" tangannya menjamah perut Sanya. "Dia baik-baik aja, kan?"
"Hmmm, mamanya yang nggak baik nih!"
"Ha? Aku....apa....aku menyakitimu?"
"Nggak! Becanda aja, kok! Ngantuk banget, pingin segera tidur."
"Ya, udah! Tidurlah dalam dekapan suamimu yang tersayang ini!"
Gemintang tersenyum mengintip dari ketinggian cakrawala aktivitas malam penikmat rebahan telah melelahkan dan menggantungkan kantuk. Kala pagi menyapa tak satu pun dari ketiga penghuni di kediaman dengan kepala rumah tangga Thozy, disadarkan oleh kokok jago di kandang.
__ADS_1
Pukul tujuh, terdengar suara ketukan di pintu.
"Tok..tok...tok! Permisi, Pak Thozy!"
Tak ada sahutan hingga suara itu terdengar lagi.
"Pa! Ma!" Byan yang tersadar keluar dari kamarnya dan langsung membangunkan orangtuanya yang tidak pernah mengunci pintu kamar bila tidur. " Ma, Pa! Bangun dong! Ada orang di luar." digoyangkannya tubuh Thozy yang terlihat mulai menggeliat bangun.
"Byan, udah bangun?"
"Ya, Pa! Tuh ada yang ketuk pintu" jemarinya menunjuk ke luar.
Saat terdengar suara ketukan, lelaki itu beranjak bangun.
"Jangan dibangunkan, biar dedek sama Mama tidur. Mama lelah. Byan duduk aja, jaga Mama di sini!"
"Ya Pa!"
Tak perlu bertanya-tanya dalam hatinya siapa orang yang datang , Thozy yakin bahwa Pakas adalah tamunya pagi ini.
Pakas adalah orang sewaannya yang ditugaskan mencari tahu hal ihwal tentang mantan kekasih Sanya atau lebih jelas ayah dari Byan.
"Gimana?" katanya setelah menarik lengan lelaki itu ke sudut tembok rumah.
"Lelaki itu datang untuk bulan madu dengan istrinya, Pak! Mereka menginap di vila termegah di luar kota."
"Sampai kapan?"
"Menurut teman saya yang bekerja di sana, pagi ini mereka tiba-tiba Check out karena morning sickness yang dialami istrinya."
"Baiklah! Pantau terus kemana mereka pergi." sepanjang pembicaraan tentang orang yang disebut dengan kata ganti mereka , volume suara kedua orang tersebut dikecilkan seolah takut ada yang mendengarnya. "Oh, ya! Ini nota barang yang akan diterima dari pihak penyalur, periksa dengan teliti agar tak ada yang tercecer atau rusak. Dan ingat untuk selalu memantau pembangunan gedung itu. Semua harus sesuai rancangan orangnya!" menyerahkan nota belanja.
"Ya Pak! Saya mohon diri!"
"Ya!" berbalik hingga ke pintu.
"Zy, kenapa nggak disuruh masuk?" Suara Sanya mengagetkannya.
"Oh, ya! Pakas hanya datang menjemput nota yang kemarin tak sempat kuberikan. Dia harus segera menjalankan tugas sehingga tak mau masuk ketika kuajak!"
"Ya, Bu! Saya permisi!"
"Kas! Ingat untuk hubungi saya bila ada perkembangan mengenai pekerjaan terakhir itu. Secepatnya, ya!"
"Baik, Pak!"
__ADS_1