
"Bergegaslah, semua orang telah hadir di sana! Mereka sedang menunggu kita, sayang!" Thozy memakaikan sepatu kepada Byan.
"Sudah selesai! Yuk!" Sanya keluar beberapa menit kemudian. "Kita belum terlambat kan? Waktunya masih tersisa hampir sejam." Sanya menambahkan dengan melirik ke jam tangan berian Thozy saat ultah ya setahun lalu.
Menatap tak berkedip."Ya, tapi hadir lebih awal itu lebih baik." Berjalan ke Sanya.
"Ayo, Ian! Sini, pegang tangan Mama!" mengangsur tangannya kepada Byan.
"Byan, sayang! Mamamu cantik banget, kan?" Thozy mengedipkan mata ke Byan.
"Ya, Pa! Cantik banget!" Memegang jemari perempuan kesayangannya itu dan bersandar kepada sang ayah yang telah menempel di sisi Sanya.
"Ngapain sih?" Sanya malu-malu. "Katanya gegas, kok... nempel kayak perangko!"
"Oh, ya! Aaaaa...Byan, tunggu sebentar ya Nak! Ada sesuatu yang harus Papa berikan untuk Mama. Hampir lupa!" langsung menarik lengan Sanya.
"Apa lagi sih? Awas kamu, kalau aku dimacam-macamin!" Sanya mengancam.
__ADS_1
"Nggak kok! Serius, aku punya sesuatu untukmu!" membawa Sanya ke ruang kerjanya.
"Ini!" sebuah gelang berhiaskan permata berwarna merah muda dikeluarkannya dari kantung tas kerjanya.
Mata Sanya membesar kala Thozy langsung melingkarkan benda tersebut ke tangannya.
"Serasi banget sama antingmu. Mulanya aku ingin mengambil kalung tapi diurungkan karena mengingat ibu melarangmu memakai kalung saat hamil."
"Thanks sayangku!" sebuah kecupan hangat disarangkannya ke bibir Thozy.
Diraihnya pundak Sanya dan seketika tubuh istrinya itu dibawa ke dalam pelukannya. "Aku bahagia, ternyata kamu menyukainya!"
Thozy menyumpal mulut Sanya dengan ******* lembut bibirnya. Dirinya tak ingin mendengar lanjutan kata-kata Sanya yang telah dapat diperkirakan arahnya itu. Wanita kesayangannya ini memang selalu merasa dirinya sangat hina dan tak pantas menerima kasih sayangnya. Sedangkan Thozy sendiri merasa bersyukur bisa didampingi orang seperti Sanya, mau memahami keterbatasannya dalam segala hal serta mau melayaninya dengan tulus. Sebuah penerimaan yang tak dapat dibalaskan dengan apapun selain saling menjaga dan memelihara cinta yang ada.
""Kamu dan anak-anak adalah pendukung terbesar dalam hidup dan kerjaku! Aku bangga memiliki kalian!. Jangan pernah menganggap dirimu rendah di hadapanku! Aku suamimu, aku sangat bersyukur bisa memilikimu! Semua yang kulakukan atas dasar cinta padamu!" mengecup puncak kepala Sanya. "Ayo! Hampir telat kita!" membimbing Sanya keluar ruangan.
Benar saja, manakala mereka tiba di sana tempat itu telah dipenuhi hadirin.
__ADS_1
Thozy memilih melewati jalan pintas dan menaiki lift khusus di samping bangunan.
"Kamu akan menjadi salah satu pengguna lift ini nantinya!"
"Kamu! Emang sekarang kita lagi ngapain kalau bukan lagi gunakan lift ini?" menanggapi perkataan suaminya dengan canda.
"Bu Sanya dimohon ke depan!"
Suara pembawa acara memicingkan matanya dan membuat otaknya bekerja keras.
"Maaf, Bu Sanya istrinya Pak Thozy, dimohon ke depan!" suara itu kembali bertalu di gendang telinganya namun kali ini diucapkan oleh pria gemuk yang merupakan pemilik gedung.
Ditatapnya Thozy, lelaki itu memandangnya dan menganggukkan kepala. "Pergilah! Mereka menyebut namamu, kan?"
"Tapi...untuk apa?" bangun dan beranjak dengan perlahan walau pikirannya masih didera pertanyaan tersebut.
Tatapan kekaguman terlihat dari mata hadirin. Sanya kikuk namun kata-kata Thozy sebelum keluar rumah terngiang.
__ADS_1
""Kamu dan anak-anak adalah pendukung terbesar dalam hidup dan kerjaku! Aku bangga memiliki kalian!"
Kalimat ini membuatnya mengangkat wajah dan dengan senyum perempuan cantik itu berdiri di samping pria gendut seta menatap hadirin dengan penuh kepercayaan diri.