
Sanya masih berkutat dengan rutinitasnya, membereskan jemuran yang baru diangkatnya, saat Thozy memasuki kamar tidur.
"Byan sudah tidur!" mengangkat pakaian yang tersusun rapi di meja dan membantu memasukkannya ke lemari.
"Kamu terlalu memanjakan dia, aku tidak mau dia menjadi anak yang selalu memaksakan kehendaknya, Zy!"
"Dia masih terlalu kecil, Sa! Dia butuh kasih sayang kita. Dia akan mengerti suatu saat nanti. Tingkahnya akan berubah kalau punya adik nanti."
Sanya menatap lelaki di depannya dengan gusar. "Kamu!"
"Kenapa aku yang dimarahi, kamu sudah mengiyakan permintaannya kan?"
Hening!
"Cepatlah!" naik ke tempat tidur dan berbaring, "Bantu aku, pijitin badanku....agar aku bisa membantumu secepatnya memberikan adik pada Iyan!" kalimat terakhir diucapkannya dengan berbisik saat Sanya telah berada di pembaringan.
Tangan perempuan itu terangkat dan cubitannya ditujukan ke perut suaminya.
"Nih, rasain kamu!"
Thozy menangkap tangan istrinya yang hampir menyentuh kulit perutnya. Sejurus kemudian dirinya telah menindih tubuh perempuan itu. Bibirnya mencubit-cubit lembut seluruh permukaan wajah Sanya.
"Berikan aku sepasang mata indah seperti Byan! Kumohon!" menatap penuh permohonan.
"Aku tidak dapat memastikan apakah yang keluar nanti seperti Byan atau bukan!"
"Maksudmu? Kamu sedang hamil?" dipeluknya Sanya saat senyum terbentuk di bibir istrinya itu. "Terima kasih, sayang! Apapun jenis kelaminnya nanti aku tidak peduli. Aku sangat menantikannya. Byan pasti gembira bila mengetahui ini!" jemari tangannya berpindah ke perut Sanya. Dielusnya dengan perlahan. "Kapan haid terakhirmu?"
"Dua bulan yang lalu!"
"Kenapa kamu merahasiakan dariku?" diciumnya pipi Sanya.
"Aku tidak bermaksud merahasiakannya. Sebenarnya aku ingin menyampaikannya tapi kamu selalu pulang larut malam dan paginya berangkat tergesa-gesa."
"Maafkan aku! Dua hari lagi kita harus ke dokter! Tidurlah!"
"Aku akan tidur setelah memijitmu!"
"Tidak! Jangan lakukan itu lagi, pegal badanku telah hilang."
"Zy! Aku tahu barusan kamu bermain kuda-kudaan sama Byan. Kamu lelah! Kamu harus dipijit. Balikkan badanmu!"
"Tapi, Sa! Aku sudah segar sekarang. Nih, lihat!" dibentuknya otot-ototnya bagai seorang binaragawan.
"Kalau nggak mau, aku tidurnya sama Byan saja!"
Ancaman Sanya tidak manjur, ketika Thozy mengingat cara tidur istrinya itu belakangan ini. "Lalu pada tengah malam nanti ketiak siapa yang akan kau cari untuk mengepit kepalamu?"
"Ketiak Byan!" katanya dengan dongkol dan tidur membelakangi Thozy.
"Posisi ini yang paling kusuka, aku bisa mengelus anak dan istriku dengan bahagia!" tangannya melingkari perut Sanya dan wajahnya disandarkan di kepala perempuan itu.
"Jagalah dia untuk aku dan Byan!" bisiknya.
__ADS_1
"Aku pijitin badan kamu, ya!" pinta Sanya lagi.
"Besok saja, bukankah besok tanggal merah? Aku tidak ke kantor!"
"Hmmm!" berbalik dan menggeser kepalanya ke bawah ketiak Thozy.
Sanya masih terlelap ketika Thozy menuruni pembaringan pagi itu. Suasana remang tak dipedulikannya, dibuatkannya bubur untuk Sanya dan Byan. Setelah memeriksa isi lemari, terlihat sisa nasi di sana. Disiapkannya bumbu untuk membuat nasi goreng.
Saat segala yang dibuatnya telah berada di meja hidangan, lelaki itu mengangkat pakaian kotor.
"Zy! Kamu lagi ngapain?" Sanya yang melihat lelaki itu keluar sambil membawa keranjang pakian, mengikutinya.
"Aku akan membawanya ke tempat cuci."
"Aku seperti mencium sesuatu," dibukanya tudung saji. "Nasi goreng? Bubur? Zy, kamu yang membuat semua ini?"
"Makanlah! Aku akan ke kamar Byan, kudengar dia memanggil!" melangkah cepat meninggalkan Sanya, dia tahu perempuan itu akan memarahinya. Sorot matanya bagai hendak menerkam suaminya.
Beberapa menit kemudian Thozy kembali sambil membawa Byan dalam gendongannya.
"Kenapa nggak dimakan? Nggak enak?" tanya Thozy sambil mendudukkan Byan di kursi.
"Aku nggak suka bubur." menatap malas pada makanan di depannya.
"Ya, udah masih ada nasi goreng. Makanlah!" kata Thozy bersamaan tangannya menyuapi Byan.
"Kalau kumakan, bagaimana denganmu?"
"Aku bisa makan bubur. Jangan dipikirkan, ikuti saja kemauan si jabang bayi." lagi, disuapnya Byan. "Makan yang banyak ya, sayang! Biar kamu bisa jagain adik bayi di perut Mama." Kata-kata Thozy membuat Cowok kecil yang sedang disuapinya berseri.
"Dia sudah ada di sini, tapi Iyan baru bisa melihatnya tahun depan."
"Kenapa tidak setalang?"
"Karena dia harus dibentuk dulu di dalam perut mama! Iyan mau kan jagain mama sama adik saat ayah kerja?"
"Mau, Mau!"
"Mulai sekarang Iyan harus nurutin kata Mama supaya adik Iyan senang dan mau cepat keluar."
"Iyan janji! Tapi ayah jangan bo'ong, loh!"
"Lupa ya kalau orang ganteng nggak pernah bo'ong?"
"Oh, ya! Ayah Iyan kan paling ganteng sedunia. Ayah nggak pelnah bo'ong." dipeluknya leher ayahnya.
"Mumpung hari ini libur, gimana kalau kita ke pantai?"
"Asyik! Iyan bisa main bola di sana?"
"Main apa aja bisa, tapi mainnya jangan jauh-jauh!"
"Ma! Mama pelgi nggak?"
__ADS_1
"Pergi, sayang!" berhenti menyuap makanan. "zy, aku pingin sesuatu tapi dimana bisa di dapat?"
"Apa? Mungkin kita bisa mencarinya di super market atau tempat lainnya."
"Goji berry!"
"Biasanya yang dijual sudah dikeringkan, apa seperti itu bisa?"
"Mana aja, yang penting Goji berry!"
"Oke! Habisin nasimu, sayang!"
"Udah, cukup!" melangkah ke belakang.
"Loh, kita mau ke pantai. Buat apa ke belakang sana?"
"Cuci!"
"Nggak usah! Sepulang dari sana aku yang akan mencucinya. Berangkatnya lebih pagi lebih baik. Kita bisa punya banyak waktu. Sebaiknya kamu mandi, biar aku yang mengurus Byan!"
"Baiklah!"
Pantai Mattirotasi, memiliki pemandangan lepas ke arah Teluk Parepare. Karena Lokasinya yang strategis, berada di tengah kota, membuat pantai ini cukup ramai dikunjungi setiap harinya, terlebih lagi di hari Minggu dan hari libur.
Tidak hanya menikmati keindahan pantainya, pengunjung pun sering datang untuk sekedar bercengkerama dengan keluarga dan sahabat. Pantai ini juga sering digunakan sebagai fasilitas berolahraga karena pantai ini memiliki beberapa gazebo, bangku taman, lintasan jogging. Batu-batu andesit berukuran besar sebagai penahan abrasi, menjadikan tempat ini semakin unik karena dapat dimanfaatkan sebagai background foto.
Ke pantai inilah Thozy membawa Sanya dan Byan, setelah singgah sebentar di beberapa swalayan untuk membeli bekal dan buah yang diinginkan istrinya.
Pagi itu, air laut sedang surut. Nampak Thozy sedang menemani Byan bermain bola di bibir pantai sementara Sanya duduk menikmati angin sepoi dengan bersandar di bawah pohon yang berjejer sepanjang pantai. Senyum tak pernah hilang dari bibir wanita cantik itu saat melihat kedua orang yang dicintai kejar-mengejar bola, terkadang pula mereka berpelukan dan bergulingan di atas pasir. Sungguh bahagia hatinya.
Di tengah keasyikannya, sebuah suara menyapanya.
"Sanya?"
Bagai disambar petir siang hari, perempuan itu berusaha bangun dengan bertumpu pada batang pohon.
Lelaki tinggi semampai yang bersisian dengan seorang wanita sangat cantik yang menggelantung manja di lengannya itu memberikan senyum termanis. "Tidak disangka kita bisa bertemu di sini. Apa kabar?"
"Dia baik-baik saja!" Thozy yang sedang menggendong Byan, datang dengan nafas terengah. Rupanya dia langsung mendekat, ketika mengetahui istrinya dihampiri orang.
"Thozy? Jadi, kamu datang bersama dia?"
"Ya! Aku selalu bersama istri dan anakku!"
"Wah-wah, perkembangan yang bagus! Sejak kapan kalian menikah? Mengapa aku tak diundang?"
"Jika diundang pun aku yakin kamu tak akan datang. Bukankah si cantik yang sedang bersamamu ini lebih penting?" wajah lelaki itu merah padam. Dirinya tahu maksud perkataan Thozy namun muka temboknya mana mau mempertontonkan rasa malu di depan perempuan yang sedang berada di sampingnya?
"Aku turut berbahagia!" ditatapnya lelaki kecil dalam gendongan Thozy, sebuah cubitan diberikan ke pipi gembul anak itu. "Cakep banget!"
"Ayahnya cakep, sudah tentu anaknya juga. Ya, kan sayang?" mencium pipi Byan.
"Oke, bersenang-senanglah! Semoga kita bisa jumpa lagi!"
__ADS_1
"Semoga!"