Cinta Gugur Bersama Tangis

Cinta Gugur Bersama Tangis
Aku ingin bau itu!


__ADS_3

"Baunya kok beda ya, Zy?"


"Tidak mungkin! Hanya sabun itu yang ada di sana dan kita memakainya."


"Entahlah! Tapi aku lebih senang bau yang dari tubuhmu. Tetaplah di dekatku!"


Permintaan Sanya tak dapat ditolak. Namun hal itu justru membuat Thozy berkali-kali membuang nafasnya menahan rasa yang bergolak di jiwanya.


"Sa!"


"Ya!"


"Aku harus memakai pakaianku dulu."


"Oh, ya! Cepatlah!"


Sementara Thozy mengganti pakaiannya, Sanya merebahkan diri di pembaringan.


"Zy! Aku di sini, kenapa kamu ke sana?" pertanyaan yang terlontar ketika melihat Thozy berjalan menuju sofabed membuat langkah lelaki itu terhenti.


"Aku mau tidur!"


"Tapi aku tidak bisa tidur, aku mau bau itu!"


"Sanya, kamu harus mengerti! Cobalah untuk memejamkan mata, pasti bisa."


"Sudah aku coba, bau itu selalu membayangiku. Aku mau bau itu!" Sanya bangkit dan duduk di tepi ranjang.


Tuhan, mengapa dia seperti ini? Thozy sadar dirinya telah berjanji untuk menjaganya, menuruti semua keinginannya bahkan yang tak dimintanya pun dilakukan. Tapi, tak pernah diduganya ada permintaan seperti ini. Sungguh, dia tak bisa. Tapi, kalau ditolak dia akan menilai Thozy pembohong. Jika dekat dengannya, lelaki itu takut tak bisa menahan diri.


"Zy!" suara manja yang penuh harap itu, meyakinkan Thozy bahwa kata-kata itu bukan keinginan Sanya tapi keinginan bayi di dalam kandungannya.


Lelaki telah berstatus tak lajang sejak pagi itu, melangkah dengan berat hati sambil menahan semua rasa yang berkecamuk di dada.


"Tidurlah!" tubuhnya direbahkan di sisi pembaringan. Bagai seorang anak diberi permen, Sanya langsung mendaratkan dirinya di samping Thozy. Namun, baru saja dirinya menempel di sisi Thozy aroma yang dihirupnya membuatnya mual. Wanita itu bangun dan menjauhkan diri dari Thozy.


"Kenapa lagi, Sa? Aku sudah memenuhi permintaanmu kenapa tidak tidur juga?"


"Bau kaosmu. Aku tak suka!"


Thozy mengendus bau kaos yang dipakainya.


"Aroma pewangi pakaian, bukan bau apek!"


"Ya, tapi aku tidak suka!"

__ADS_1


"Sanya, aku harus gimana lagi? Aku serba salah!"


"Buka bajumu!"


"Apa-apaan kamu, Sa?" kata yang meluncur dengan suara keras itu menitikkan air matanya. Thozy tak pernah sekasar itu padanya. "Maaf! Aku hanya merasa permintaanmu sangat konyol." dilepaskannya kaos yang mengetat di tubuhnya. Air mata perempuan itu lagi-lagi membuatnya harus bersedia melakukan sesuatu yang tak disukainya. "Ayo, kita tidur!" direngkuhnya tubuh mungil perempuan yang telah dinikahinya dan dibawa berbaring ke sisinya.


Tidur dengan wajah melengket di bawah ketiak Thozy, dan lengan memeluk erat tubuh kekar di sampingnya merupakan posisi yang sungguh sulit bagi lelaki itu untuk bernafas. Berkali ditariknya nafas yang terasa menyesak dan memburu. Dipaksakannya untuk memejamkan mata namun pikirannya tetap beraksi melawan gejolak diri. Diliriknya wajah perempuan itu, sungguh tak dipercaya Sanya telah berada di alam mimpi.


"Tidurlah! Penjagamu ini akan selalu ada untukmu walau harus melewati badai yang memberatkan batin."


Menjelang pagi, Thozy terbangun oleh suara Beo yang bertengger di halaman depan hotel tempat mereka menginap. Dicobanya mengingat keberadaannya kini karena di tempat tinggalnya tak pernah didengarnya Beo berceloteh. Pandangnya mengitari sekeliling dan bertumpuh pada sosok di depannya. Sosok yang tengah dipeluk dan memeluknya erat.


"Sa, bangunlah!" ditepuknya pipi perempuan muda tersebut dengan lembut. "Sa! Sanya! Ayo bangun, Sanya!" digoyangkannya bahunya. Mata perempuan itu terbuka namun dipejamkan kembali. "Hei, Bangunlah! Istri macam apa, malasnya tidak ketulungan begini? Kalau masih ingin tidur, lepaskan aku biarkan aku bangun!" dicoleknya hidung Sanya.


"Ha? Apa? Apa maksudmu?" katanya masih dengan suara malas.


"Tuh, lihat sendiri!" ditunjuknya lengan Sanya yang mengetat di pinggangnya. Perempuan itu dengan malu-malu mengangkat lengannya.


"Kalau masih ingin tidur, silakan! Tapi, kamu harus mandi dan makan baru lanjutkan tidurmu. Kamu harus membiasakan kebaikan untuk pertumbuhan janin di kandunganmu. Kesehatannya adalah kebahagiaan kita."


Kenapa lelaki ini selalu mengaitkan dirinya dengan bayi ini yang jelas-jelas bukan darah dagingnya? Jangan-jangan cinta yang pernah... Ah! Sanya kembali menepis bayang yang dirasanya tak dapat dijangkaunya. Hanya sahabat yang sedang menjadi malaikat penolong baginya. Ya! Hanya sahabat yang membawanya keluar dari masalah yang rumit dan memalukan. Itu yang harus ditaruhkan di dadanya.


"Hmmmm, ngelamun lagi! Apa mau kugendong ke kamar mandi?"


"Hoaaak!" dibekapnya mulutnya dengan kedua tangan.


"Sanya!" Thozy menghampiri istrinya ke dalam kamar mandi. Dielusnya tengkuk perempuan itu. "Kamu ingin memakan sesuatu? Makanan yang setidaknya bisa mengurangi morning sickness."


"Aku mau bubur panas buatan mama!"


Thozy mengambil ponselnya, mengutak-atik dan terdengar suara orang dari seberang.


"Pagi, Ma!"


"Pagi, Nak Thozy! Ada apa?"


"Gini, Ma! Lambung Sanya kumat lagi, Thozy hanya mau memohon bantuan Mama."


"Bantuan apa, Nak?"


"Apa bisa Mama buatkan bubur panas untuk Sanya?"


"Oh ya! Kalau itu, kebetulan Mama baru selesai membuat bubur. Nanti diantar sama Racka dan Ricky."


"Terima kasih, Bu!"

__ADS_1


"Ya, Nak! Untuk sementara minumkan air putih panas dulu sambil menunggu bubur."


"Baik, Ma! Sudah, ya Ma!"


"Ya,Nak!"


Sanya masih bergumul melawan keadaannya. Dicobanya untuk mencium busa sabun yang dipakainya semalam namun keadaannya tak berubah.


"Sa! Sebaiknya kamu mandi, siapa tahu agak mendingan nantinya. Sebentar lagi Racka dan Ricky mengantar bubur!"


"Zy!"


"Ada apa?"


"Aku... aku..."


"Ngomong saja! Aku ini suamimu, sudah sepantasnya mengetahui keinginanmu terlebih di saat seperti ini!"


"Aku mau bau itu!" matanya menekuri ubin kamar mandi, tak berani menatap Thozy.


"Ya! Aku tahu tapi kamu mandi dulu!"


Mata Sanya berbinar ceria, wanita itu segera memeluk Thozy. "Terima kasih!"


"Kayaknya Racka dan Ricky sudah datang aku harus menemui mereka." mendengar perkataan Thozy, Sanya langsung melepaskan pelukannya.


Beruntung rumah sewaan yang dipilih Thozy untuk memperlancar persiapan pernikahannya dengan Sanya tidak jauh dari hotel tempat resepsi sehingga tak butuh waktu lama untuk mengantar bubur.


"Kamu tidak makan?" tanya Sanya ketika sampai pada suapan ketiga.


"Makanlah, jika masih ada yang kau sisakan akan kumakan." Thozy membelai puncak kepala Sanya.


Apa? Dia akan memakan yang kusisakan? Tidak jijikkah dia? Sanya menatap tak bergeming pada Thozy. Kepalanya tergeleng,


"Jangan! Sejak kecil kami dibiasakan untuk tidak memakan sesuatu yang merupakan sisa makan orang lain."


Thozy tertawa renyah, "Sanya, baru kemarin kita melangsungkan janji nikah. Kau sebut aku suamimu, aku sebut kamu istriku. Di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya Saya, Thozy Kisarea, mengambil engkau Sanya Manafela, sebagai istriku yang sah. Saya berjanji...bla-bla-bla. Apakah aku orang lain bagimu?"


Untuk kedua kalinya Sanya menggelengkan kepalanya .


"Jika kamu tidak ingin berbagi denganku, habiskanlah! Yang penting bagiku adalah kamu dan dia yang sedang bertumbuh di rahimmu. Aku ingin dia keluar dengan jiwa dan tubuh yang sehat." Thozy mengambil tempat duduk di samping Sanya. Punggung perempuan itu dielusnya.


"Kamu tidak mandi?"


Hmmmm, pikir Thozy wanita yang tengah berbadan dua ini sudah melupakan masalah bau itu! Ternyata tidak. Entah sampai kapan hal ini akan dijalaninya, Thozy merasa tak akan bisa mengendalikan diri jika keadaan tak berubah.

__ADS_1


__ADS_2