Cinta Gugur Bersama Tangis

Cinta Gugur Bersama Tangis
Imunisasi


__ADS_3

"Zy, aku harus ke Puskesmas untuk imunisasi. Sarapanmu sudah kusiapkan di meja. Aku pergi!" Saat hendak melangkah, matanya membentur pada kaos dan T-Shirt yang terlipat rapi di sisi tempat tidur. Pakaian Thozy telah disiapkannya sebelum dirinya beranjak ke dapur untuk membuatkan sarapan pagi. Kecewa menjadi bagiannya pagi ini, karena sekembalinya Thozy belum juga terbangun dari tidurnya. Bahkan hingga dirinya bersiap, lelaki itu masih ada pada posisi yang sama. Digoyangkannya tubuh pria itu dengan perlahan. "Zy, aku pergi! Jangan lupa sarapan, ya!"


"Ya!" guling dipeluknya erat. Ditatapnya perempuan itu dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka disebabkan kantuk. "Sa!" panggilannya mengurungkan langkah Sanya. "Kamu serapi itu, mau kemana?"


"Ke Puskesmas, imunisasi!"


"Oh, ya!" matanya membelalak lebar. "Semalam aku sudah janji untuk mengantarmu. Tunggu aku!" bergegas Thozy mengambil handuk dan ke kamar mandi.


Lima belas menit menanti, Thozy akhirnya keluar. Mata Sanya berbinar bahagia. Lelaki itu semakin gagah dibalut pakaian yang tadi disiapkanya.


"Ayo!" digenggamnya jemari Sanya. "Kita dengan mobil saja, sudah telat."


Tak selang sepuluh menit, mereka tiba di halaman Puskesmas. Begitu banyak orang berkerumun.


"Sepertinya telah terjadi sesuatu," seseorang yang sangat dikenalnya sedang duduk dengan wajah mendung kelabu. Diliriknya Sanya, mata perempuan itu nanar ke arah sosok yang sama. Dirundukkannya tubuhnya agar tidak terlihat.


"Tetaplah di sini sampai dia pergi!" saran Thozy saat melihat ketakutan di wajah istrinya. "Percayalah, aku akan melindungimu!" diciumnya puncak kepala perempuan itu. "Aku tidak akan membiarkan dia mendekatimu! Aku harus ke sana, jangan membuat sesuatu yang bisa berakibat buruk bagi dirimu dan dia." Elusan tangannya di perut Sanya mengagetkan perempuan itu sekaligus mampu menenangkan dirinya.


"Thozy!" suara yang bisa ditaksir siapa pemiliknya terdengar di telinganya. Kepalanya terangkat, lakonnya dibuat serupa seseorang yang kaget dikenali orang di tempat asing ini.


"Eh, Jickso? Lagi ngapain di sini?"


"Calon istriku kecelakaan ketika sedang olahraga pagi dengan sepeda."


"Rumahnya di sekitar sini?"


"Ya! Itu!" matanya mengikuti telunjuk Jickso. Sebuah rumah bertekstur Eropa, dengan tumbuhan langka dan mahal memenuhi halamannya. "Di depan puskesmas inilah dia diseret sehingga sedang diberi pertolongan pertama."


"Keadaannya parah?"


"Aku belum bisa memastikan tapi kata dokter, dia harus dirujuk ke rumah sakit pusat. Kamu sendiri ngapain di sini?"


"Aku datang mencari famili yang katanya bertugas di tempat ini." Thozy berbohong.


"Zy, aku ke sana! Rupanya dia akan segera dibawa."


Dilihatnya seorang dokter tengah berbicara dengan beberapa pria dan wanita.


Secepatnya dia pergi dari tempat ini lebih baik, bisik hati Thozy dan dirinya melangkah hendak mencari keterangan tentang pemilik rumah mewah tersebut.


"Zy!" Sebuah suara dari belakang mengagetkannya.


"Nick!" dihampirinya lelaki itu, "Kamu tugas di sini?"


"Ya! Apa kabar?" disalaminya sahabat masa kecilnya itu.

__ADS_1


"Baik! Apa kamu yang barusan menangani pasien kecelakaan itu?"


"Ya! Dia sudah dirujuk ke pusat. Kamu mengenalnya?"


"Tidak! Tapi calonnya itu temanku."


"Kasihan gadis cantik itu! Nanti saja kuceritakan. Ayo kita ke ruanganku, atau kamu sedang ada keperluan lain?"


"Sebenarnya ada tapi ditunda sebentar juga bisa." diambilnya ponselnya dan ditiknya huruf demi huruf kemudian dikirimnya kepada Sanya. "Tetaplah di situ sampai aku datang. Aku sedang bersama temanku. Tunggulah sampai keadaan aman. Aku menyayangimu!"


Sementara Sanya semakin menundukkan kepalanya saat dilihatnya beberapa petugas mendorong seorang pasien ke ambulans diikuti beberapa orang, termasuk Jickso.


"Mereka sudah pergi, apa aku boleh turun?" isi sms itu dikirimnya sebagai balasan kepada Thozy.


"Kamu sudah menikah?"


"Sudah! Sebenarnya aku bersama istriku kemari."


"Loh, mengapa tidak kamu kenalkan padaku? Dimana dia?"


"Ketika tahu bahwa ada korban kecelakaan dia tidak ingin turun dari mobil. Katanya takut."


"Kita ke mobilmu! Kamu harus mengenalkan dia padaku. Apa dia sedang hamil? diangkatnya langkahnya cepat menuju pintu dan diikuti Thozy. "Kebetulan hari ini jadwal imunisasi bumil"


"Wah, hebat sekali kamu! Aku ketinggalan banget."


"Yang mana mobilmu?"


"Coklat!"


Tunggulah di sini, biar aku yang menjemput istrimu.


Dengan berlari kecil, dihampirinya mobil coklat tersebut dan langsung dibukanya pintu mobil.


"Bu Sanya?"


"Dokter? Kok tahu aku di sini?"


"Seseorang memberitahuku! Ayo, biar kubantu!"


"Tapi..."


"Korban kecelakaan itu sudah pergi, tidak ada darah atau bekas apapun yang tertinggal di sini. Jangan takut! Berpeganglah padaku dan turunlah."


"Terima kasih, Dok!"

__ADS_1


"Mulai sekarang, jangan panggil aku Dok. Sebut saja namaku, Nick. Aku sahabat Thozy, suamimu!"


"Oh, ya!"


"Tuh, dia lagi senyum-senyum lihat kita. Kamu beruntung sekali mendapatkan suami seperti dia."


Benar sekali kata-katanya, Thozy memang lelaki yang baik, Sanya sangat beruntung memiliki sahabat seperti dia. Ya, jalinan yang terjadi antara mereka saat ini semata-mata karena persahabatan. Sahabat yang rela mengorbankan segalanya demi kebahagiaan sahabatnya.


"Zy, kamu baru kali ini mengantar istrimu kan?" tuding Nick.


"Aku sibuk banget, Nick!"


"Ayo, kita bergabung dengan para bumil di sana! Kau lihat, ada beberapa orang di antara Bapak-bapak itu yang rela meninggalkan pekerjaannya untuk istri dan calon anaknya. Aku sering tertawa mendengar celoteh mereka soal kehamilan istri mereka. Ada yang katakan, seandainya bisa dipindahkan biar balon berisi nyawa anaknya itu dibawa olehnya. Yang lebih parah, Bapak berbaju biru itu. Katanya setiap istrinya hamil, bau badannya yang dicari. Seru juga!" Cerita Nick sontak membuat pasutri yang berbarengan dengannya bersi tatap. Nick tertawa dan mengepalkan lengan teman masa kecilnya itu. "Gimana perasaanmu? Apa yang kau lakukan saat menghadapi kehamilan istrimu?" Tatapan Nick mengagetkannya, Thozy memberikan seulas senyumnya.


"Ya, bahagialaaaah! Banyak yang aku buat. Eh, tapi rahasia dong! Mau tau aja kamu, Nick?" kilah Thozy melempar pandang pada Sanya.


"Kalian antri dulu, ya! Aku akan ke dalam bertemu Dokter Rino!"


"Baik, Dock.. Eh, Nick!" balas Sanya nampak kikuk.


Seperginya Dokter Nick, Thozy mendudukkan Sanya dan langsung menempati bagian bangku yang kosong tepat di sisi istrinya.


Tak lama kemudian, Nick kembali dengan senyumnya yang menawan. "Zy, kamu sama Sanya ke ruanganku saja. Yuk!" ajaknya bersemangat sambil kembali menatap kertas di tangannya.


"Kita lewat sini saja, biar cepat!" ujar Nick saat menapaki jalan menuju lorong.


"Dok!" suara seseorang terengah-engah.


Thozy terbelalak melihatnya dan sengaja menghadapkan tubuhnya ke Sanya.


"Kalian lebih dulu saja, sampai di belokan langsung ke kanan dan ke kanan lagi. Di situlah ruanganku, masuk dan tunggu aku!"


"Oke!" dibimbingnya Sanya dan keduanya mengambil langkah cepat.


Tiba di ruang kerja Nick, keduanya langsung masuk.


"Sepertinya aku kenal orang tadi, Zy!" Sanya meraih tas di tangan Thozy dan mengambil sebotol air mineral dari dalamnya.


"Ya! Itu Rian."


"Rian, Kakaknya Jickso kan?"


"Ya!" Thozy menatap layar ponselnya. "Kamu ingin makan sesuatu?" membuka pendingin mini yang tak jauh di belakang tempat duduk dan meja kerja Nick. "barusan Nick mengirim pesan agar mengambilkan buah untukmu."


"Jeruk, jika ada!"

__ADS_1


__ADS_2