Cinta Gugur Bersama Tangis

Cinta Gugur Bersama Tangis
Aku melihat dia


__ADS_3

"Auuuu, perutku!" diliriknya weker di atas nakas, " Pukul delapan tiga puluh menit? Kenapa bisa setelat ini? Pantasan lapar banget" ditepisnya selimut yang menempel di tubuhnya. "Ha?" melihat dirinya dalam keadaan tak dibalut sehelai kain pun Thozy sadar apa yang sebenarnya terjadi semalam. Tapi dimana dia?


Cepat-cepat dikenakannya pakaian yang ditemukannya terlipat di sisi tempat tidur. Senyum yang mengembang sempurna menemani langkahnya ke dapur. Dibukanya tudung saji, dilahapnya apa yang terhidang di situ. Secangkir teh chamomile kesukaannya dan nasi goreng serta lauk seadanya.


"Sa! Kamu dimana?" dikitarinya sekeliling halaman belakang rumah. Tak jua ditemukannya Sanya. Pakaian kotor yang dikumpulkannya semalam belum tersentuh, piring bekas makan pun demikian hanya ditumpukkan begitu saja di tempat cuci. Perempuan itu hanya membuatkan sarapan untuknya dan sekarang entah dimana dirinya.


Thozy melajukan kaki ke ruang tamu rumah sewaannya. "Sanya! Sanya! Dimana kamu, Sa?"


Diluar sana Sanya baru saja mengunci pintu gerbang. Dengan terseok kakinya bergerak maju, ditariknya gagang pintu.


"Sa!" Thozy melongo mendapati perempuan itu bersimbah keringat. Tangannya bergetar saat Thozy meraih belanjaan yang dibawanya. Thozy membiarkannya duduk berapa jenak kemudian membawakannya segelas air putih setelah kembali dari dapur.


Nafas perempuan itu terdengar tak beraturan, membuat Thozy bertanya-tanya dalam diam.


"Kita ke halaman belakang saja, di sana lebih sejuk!"


Sebuah bangku berukuran besar dan lebar ditempatinya bersama Thozy. Lelaki itu yakin ada sesuatu yang terjadi, namun dibiarkannya hingga istrinya merasakan kenyamanan. Tiupan angin di bawah rindangnya pohon yang meneduhi bangku kayu itu juga elusan tangan thozy di kepalanya yang bersandar di bahu lelaki tersebut membuatnya terlena.


"Menu apa yang mau kamu buat hari ini, Sa?" tanya Thozy memecah keheningan.


"Aku ingin membuat semur daging pedas tapi tidak sempat beli jahe dan daun salam."


"Loh, kenapa sampai lupa?" Thozy mengumpan dengan pertanyaan untuk mencari tahu penyebab istrinya ketakutan seperti tadi.


"Aku melihat dia!" dipeluknya lengan Thozy.


"Dia juga melihatmu?" Pertanyaan Thozy membuatnya mengangkat wajah.


"Ya! Untunglah posisinya sangat jauh sehingga aku bisa kabur secepatnya dari situ."


"Ya, sudah! Jangan dipikir lagi. Mulai sekarang, kamu tidak boleh ke mana-mana. Jika bahan makanan atau keperluan bulananmu habis, berikan aku nota. Aku bisa berbelanja setelah pulang kantor."


"Ya!"


Thozy berharap Sanya tidak diusik lelaki itu lagi! Perlahan tangannya diarahkan ke benda yang membuncit di perut Sanya. Dibelainya benda itu penuh kasih. Puncak kepala perempuan itu berulang-ulang disarangkannya dengan kecupan. Ada rasa takut ketika Thozy kepikiran bahwa lambat atau cepat, pernikahan mereka akan diketahui semua orang. Anak yang dikandung Sanya pun dikhawatirkan akan menjadi perhatian ayahnya yang sebenarnya. Namun bisa saja bukan hanya anak itu yang diincar, bisa saja Sanya dipaksa lelaki itu tuk merajut kembali benang kasih mereka yang telah porak poranda. Thozy menarik nafas dalam dan panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan seolah mengeluarkan gundah hatinya.


"Kamu tidak ke kantor?" Sanya menatapnya dengan kening mengerut.

__ADS_1


"Kemarin dan hari ini aku telah meminta ijin."


"Zy aku belum memasak apapun," Sanya bangkit menggelung rambutnya dan berjalan diiringi Thozy. "Sebaiknya diapakan daging itu, ya Zy?"


"Terserah kamu! Apapun yang kamu masak, akan aku habiskan!"


"Kalau gitu, disup saja!"


Sanya memulai pekerjaannya memasak sementara Thozy menuju tempat mencuci piring.


"Zy! Jangan! Biarkan saja, aku akan membereskannya nanti!"


"Sa, biar aku membantumu! Sudah seharusnya seperti ini." Thozy terus melakukan aktivitasnya. Bantuan Thozy bukan sampai di situ saja, saat Sanya mengucek pakaian pria itu membilas dan menjemurnya. Pada akhirnya, dia meminta Sanya membenahi kamar tidur mereka sementara dirinya mengepel seluruh ruangan rumah itu.


Kamar tidur telah tertata rapi saat pintu dibukanya dan terlihat Sanya tengah duduk melonjorkan kaki di pembaringan.


Dihampirinya perempuan itu dan berbaring di sisinya.


"Sebaiknya kita pakai pembantu saja, Sa! Perutmu makin membesar, kamu akan kelelahan."


"Aku masih bisa melakukan semuanya sendiri, Zy! Lagian dengan bekerja, lebih lagi bila mengepel, akan sangat membantu ketika melahirkan nanti! Untuk sementara seperti ini dulu sampai dia lahir."


"Terserah kamu saja! Tapi nanti saja, saat usia kandunganku delapan bulan!"


"Lalu, apa rencanamu setelah melahirkan?" diambilnya tangan Sanya dan diletakkan di dadanya.


"Merawat dan membesarkannya, kuyakin semua ibu akan melakukan itu."


"Hanya itu?"


"Tentu saja tidak! Aku juga harus mengurusmu, kan?" dielusnya kepala Thozy.


"Maksudku, apa kamu masih ingin bekerja?"


"Jika kamu mengijinkan!"


"Jika tidak?" mata keduanya bertemu seketika.

__ADS_1


"Yah.....Aku bekerja di rumah saja. Aku akan menekuni keterampilanku dengan menerima jahitan sambil mengurus kamu dan anak-anak. Jika memerlukan tenaga ekstra aku bisa menyewa beberapa orang."


"Sebaiknya kamu buka butik saja!"


"Maunya begitu tapi perlu modal, Zy. Tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan."


"Jika punya kemauan, pasti ada jalan."


"Semoga!"


"Eh, sebaiknya kita bersihkan diri dulu. Gerah nih!" beranjak turun dari tempat tidur Thozy menarik tangan Sanya. "Ayo!"


"Tidak! Kamu dulu baru aku!"


"Tapi aku maunya mandi bareng kamu!"


"Thozy! Jangan meminta hal yang aneh, malu-maluin aja!"


"Malu? Sanya, hal yang paling memalukan itu sudah...."


"Eh, stop! Jangan diteruskan!" sudah diduganya arah bicara lelaki itu, dibekapnya mulut Thozy. "Selalu saja memaksa!" turun dengan moncong membentuk.


"Asal tidak lakukan Ka De Er Te!" timpalnya dengan senyum kemenangan.


Walau canggung, diturutinya kemauan Thozy. Tak ada bantahan ketika satu per satu pakaiannya dilucuti suaminya dan ketika dirinya dipaksa masuk ke bathtub dimana Thozy telah menelentangkan tubuh polosnya.


Dengan posisi membelakangi, Sanya duduk di antara ************ suaminya. Betapa kaget dirinya ketika Thozy merapatkan diri mengikis jarak di antara mereka. Dengan lembut lelaki itu menggosok seluruh punggung wanita itu. Tangannya kini digerakkan ke bagian perut istrinya dan terus menggosok di sana. Perempuan itu bersandar penuh ke tubuhnya. Kesempatan itu tak disia-siakan Thozy, dicarinya bibir Sanya dan lum*tan bibir pun terjadi! Bukit kembar di dada perempuan itu pun tak dibiarkannya lolos begitu saja. Jemarinya bermain indah di sana hingga dirasakannya sesuatu mengeras di tubuh bagian bawahnya.


Untuk kenyamanan Sanya, Thozy meminta perempuan itu mengubah posisi duduknya. Keduanya berhadapan dengan Sanya berada di atasnya. Kembali lidah dan tangannya menggerayangi sekujur tubuh perempuan itu sehingga dapat merasakan kenikmatan dan kesiapan untuk menerima serangan-serangannya nanti.


Sambil bibir mereka bertaut dan sebuah lengan melingkar di leher perempuan itu, tangannya yang lain bermain di daerah sensitif bagian bawah milik Sanya. Desahan istrinya telah terdengar entah untuk keberapa kalinya, hal ini membuat Thozy makin bernafsu. Diangkatnya bokong Sanya dan benda panjang miliknya yang telah mengeras itu diposisikan tepat di ************ istrinya itu.


"Berpeganglah di sisi bathtub!" Perkataan lelaki itu dituruti Sanya. Beberapa menit ke depan, terlihat tubuh perempuan itu berguncang hebat. Untunglah suara deras air kran menutupi erangan tak tertahankan dari bibir pasutri yang sedang mencurahkan hasrat di siang hari itu.


"Thanks!" didekapnya tubuh istrinya yang kelelahan. "Dia baik-baik saja, kan?" disentuhnya perut istrinya.


"Ya!" bergerak hendak bangun.

__ADS_1


"Tetaplah seperti ini! Aku sangat merindukanmu, sangat merindukan saat-saat seperti ini."


__ADS_2