Cinta Gugur Bersama Tangis

Cinta Gugur Bersama Tangis
Demi dia dan aku!"


__ADS_3

"Curang!" ditumpahkannya minuman di tangannya ke tanah. "Aku terima tantanganmu!" mengikuti langkah Jickso.


"Sanya kan?" mengulurkan jemarinya dan disambut Sanya saat gadis itu melihat Thozy melaju ke tempatnya. "Aku Jickso! Kuharap kamu mau menerima minuman perkenalan ini!"


"Trims!"


---***---


"Dia seakan tidak mengijinkan aku mendekati kamu. Aku sadar, dia terlalu tinggi untuk kujadikan teman bersaing. Rasa yang mulai ada untukmu perlahan kubunuh. Aku harus menjadikanmu sahabat. Ya! Sahabat tempat kamu mencurahkan semua rasa, dan aku merasa kehadiranku ternyata berarti buatmu saat kau datang dengan semua keluhan dan keceriaan. Bagiku, sahabat harus tetap ada saat suka maupun duka. Untuk itu, biarkan aku menjalankan tugasku sebagai sahabat. Aku ingin menjagamu, bahkan menjaga dia yang mulai terbentuk di rahim kamu!" digenggamnya tangan Sanya. "Aku ingin sahabatku bahagia. Aku tidak ingin meninggalkanmu dalam kesulitan. Terima aku, sebagai sahabatmu. Aku ingin membawa kalian, kita bersama menjalani liku kehidupan. Aku tidak berharap cintamu karena kutahu, kamu masih mengharapkan dia! Aku juga tak akan meminta hak atas status yang akan kita jalani."


"Zy!" dipeluknya tubuh kekar di hadapannya. Tetes air di pelupuknya luruh dan tak terbendung.


"Berikan aku senyum bukan tangis karena aku mau kau menatap kebahagiaan yang akan kuberikan di depan sana." sebelah tangannya menangkup dagu Sanya dan sebelahnya mengusap cairan bening yang membanjir dengan tangis sedu.


"Terima kasih, Zy! Maafkan aku telah menyeret kamu sejauh ini!"


"Jangan pernah berpikir seperti itu! Akulah yang menginginkan semua terjadi." Dibawanya perempuan malang itu ke dekapannya. "Apa kamu menerima niatku?"


Keharuan yang dirasakannya membuat Sanya tak mampu lagi mengeluarkan suara. Kata "Ya!" hanya mampu diragakannya dengan anggukan.


---***---


Saat kembali memasuki rumah orangtua Sanya, tangan Thozy tak bergeser dari punggung wanita muda yang telah menerima niat tulusnya itu.


"Gimana Sa?" tanya Pak Gio saat muda-mudi itu telah menduduki kursinya masing- masing.


"Sanya menerimanya,Pa!" katanya dengan wajah tertunduk.


"Rencana Nak Thozy sendiri bagaimana?"


"Saya ingin kami menikah secepatnya agar bisa berangkat bersama Sanya ke tempat tugas,Pak!"


"Jika seperti itu, persiapannya harus dilakukan sejak sekarang."


"Ya, Pak! Saya akan mempersiapkan segalanya. Tapi..."


"Ada masalah apa? Katakan saja, mungkin Bapak bisa membantu!"


"Aaaa, sebenarnya... Saya membutuhkan pendamping pernikahan. "Loh, memangnya orangtua Nak Thozy berhalangan hadir?"


"Tidak, Pak! Saya sebenarnya...tidak punya siapa-siapa lagi. Panjang ceritanya, Pak!"


"Ya, sudah! Jangan dipikirkan! Bapak akan meminta bantuan teman Bapak untuk mendampingi Nak Thozy."

__ADS_1


"Terima kasih, Pak! Bu! Terima kasih sudah menerima saya!"


"Ya, Nak! Kami sangat bahagia atas kedatangan Nak Thozy. Niat tulus ini semoga diberkati sehingga segalanya dapat berjalan dengan lancar!"


"Ya! Semoga, Bu! Kalau begitu, saya pamit dulu. Saya akan datang lagi setelah melakukan beberapa perencanaan awal."


"Baiklah! Hati-hati!" Bu Risti tersenyum.


Setelah menyalami kedua orang yang telah resmi menjadi calon mertuanya, Thozy melangkah keluar dengan tangan diletakkan di bahu Sanya. Dia menunjukkan bahwa dirinya benar-benar tak ingin membiarkan perempuan cantik itu memikul bebannya seorang diri. "Jaga dirimu demi dia dan aku!" bisikan Thozy menghentak nurani Sanya. Matanya membulat seakan tak percaya telah diberi perhatian sebesar itu. Lagi-lagi dia hanya dapat mengangguk sendu. Lelaki yang harusnya mengatakan seperti itu tak mempedulikan aku, tapi Thozy...lelaki ini, terbuat dari apakah hatinya? Pertanyaan itu dibendungnya di dada.


"Jangan sedih, aku akan datang lagi!" diusapnya mata Sanya yang kelopaknya telah penuh berisi cairan bening. Kata itu sengaja diucapkannya dengan suara dikeraskan karena dia tahu arti kehadiran air bening itu.


"Aku akan menantimu, hati-hati!" digenggamnya jemari Thozy dan dibawa ke dadanya. "Terima kasih telah membuatku berharga!" diciuminya jemari lelaki itu.


Thozy tidak menyangka bahwa Sanya pun akan memperlihatkan kemesraan di depan kedua paruh baya yang turut mengantarnya sampai ke mobil.


"Mari Pak! Bu!" katanya setelah menghidupkan mesin mobil.


"Ya, Nak!"


Segala persiapan dilakukan dengan lancar. Pernikahan dilangsungkan dengan dihadiri keluarga Sanya. Sedangkan dari pihak Thozy, hadir ketua yayasan Darma Kasih dan keluarga besar Panti Asuhan Kasih Kita. Tak ada teman yang diundang, baik dari pihak Sanya maupun Thozy. Mereka sepakat merahasiakan pernikahannya untuk menghindari pertanyaan dan pergunjingan karena hampir semua teman mereka mengetahui hubungan Sanya dan Jickso.


"Kamu terlihat lelah sekali. Bersihkan dirimu dan istirahatlah!" kata Thozy setelah mereka berada di kamar pengantin.


"Tapi aku lupa membawa pakaian ganti"


Dering suara ponsel menarik perhatian keduanya. "Ricky, ada apa?"


"Mama menyuruh kami membawa titipan untukmu. Katanya pakaian ganti!"


"Syukurlah! Kalian dimana?"


"Pelataran parkir!"


"Aku ke sana!" menutup telepon.


"Kamu mau kemana Sa? Dengan pakaian seperti itu?"


"Aku mau mengambil pakaianku yang dibawa Ricky dan Racka."


"Kan sudah kubilang, aku yang akan mengambilkannya. Dimana mereka?"


"Parkiran!"

__ADS_1


"Kamu mandilah! Pakai air hangat, kesehatanmu harus terjaga demi dia dan aku!" diberikannya seulas senyum sebelum menutup pintu dan menghilang dari pandangan Sanya.


Seperginya Thozy, pikiran Sanya terus terusik oleh kalimat terakhir yang diucapkan oleh lelaki itu. Kalimat yang sama pernah didengarnya dari mulut lelaki itu saat pertama kali lelaki itu menginjakkan kaki di rumah orangtuanya.


Apa maksudnya? Apa dia begitu menginginkan bayi ini? Apa dia sedang mengatakan bahwa dia menyayangi aku dan bayiku? Pikiran yang melintas di benaknya segera ditepisnya. Tak mungkin, apa yang kujalani ini hanya bagian dari belas kasihannya sebagai sahabat. Dia hanya menganggapku sahabat. Sahabat yang hadir di saat suka dan dukaku, seperti katanya beberapa waktu lalu.


Air hangat di bathtup yang membasahi sekujur tubuhnya seolah membawa pergi semua keletihan yang menyatu bersama golakan jiwanya. Ada syukur di hatinya karena Tuhan telah membawa seorang malaikat penolong baginya.


"Zy! Kamu tidak membersihkan dirimu?" katanya saat melihat malaikat penolongnya tertidur memeluk guling di sofabed.


Tak ada sahutan.


"Zy!" dihampirinya lelaki yang telah resmi menjadi suaminya itu dan digoyangkannya tubuh Thozy dengan lembut. "Zy, bangunlah!" Lelaki itu membalikkan badannya, pandangan mereka bertemu. Betapa ingin bibir Thozy mengucapkan kalimat, "Kamu cantik sekali!" namun diurungkannya. Dirinya takut dicurigai sedang merayu. "Oh, kamu sudah selesai?"


"Ya! Aku sudah selesai. Pergilah mandi!" ujar perempuan imut itu.


"Ya!" bangun dan beranjak menuju kamar mandi. "Aku belikan roti untukmu, makanlah. demi dia dan aku!"


Plok! Kata itu lagi dan dirinya menghilang di balik pintu namun seberkas senyum diinggalkannya. Sanya terpaku di tempatnya.


"Sa! Kamu kenapa?" tanya Thozy setelah keluar dan mendapati istrinya seperti hendak mengeluarkan semua makanan yang barusan dimakannya.


Dengan tubuh masih berbalut handuk, didekatinya Sanya dan memijit tengkuk perempuan itu perlahan.


"Kenapa begini?"


"Aku tidak suka bau roti itu, sangat menyengat"


"Maafkan aku! Seandainya aku tahu bakal jadi begini, tak akan aku beli." katanya penuh penyesalan. "Kamu mau makan apa? Aku pesankan saja lewat aplikasi"


"Tidak!" katanya lagi dengan hidung mengendus ke arah Thozy. "Bau ini, aku suka!"


"Ini hanya bau sabun yang tadi kau pakai juga."


"Aku mau ke kamar mandi untuk mengambil sabun itu."


"Duduklah, biar kuambilkan!"


"Nih, semoga bisa membuatmu nyaman." disodorkannya sebuah botol kepada Sanya sekembalinya dari kamar mandi.


Perempuan itu langsung menyambut dan cepat-cepat membuka tutup botol tersebut.


"Baunya kok beda ya, Zy?"

__ADS_1


"Tidak mungkin! Hanya sabun itu yang ada di sana dan kita memakainya."


"Entahlah! Tapi aku lebih senang bau yang dari tubuhmu. Tetaplah di dekatku!"


__ADS_2