
"Zy, kapan kamu ke Bali?" tanya Sanya setelah beberapa bulan pernikahan mereka Thozy tak sedikitpun memperlihatkan tanda akan membawanya ke pulau wisata seperti yang pernah dikatakannya sebelum pernikahan mereka.
"Sepertinya aku tidak berminat lagi ke sana. Beberapa bulan yang lalu, aku membatalkan semuanya. Aku memilih dimutasi di dalam provinsi, aku tidak ingin menjauhkan kamu dari keluargamu." Ditatapnya Sanya dengan lekat. "Kalau sudah makan, tidurlah! Aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda selama ini."
"Kenapa kamu tidak mengambil cuti saja?"
"Cuti apa? Cuti untuk bulan madu? Bukankah kamu melarangku mengumumkan tentang pernikahan kita?" suara yang lembut namun
kata-kata Thozy barusan menghadirkan mendung di wajahnya. "Maafkan aku!"
"Hei, apa salahmu? Aku rela melakukan apapun untuk kebahagiaan kita. Jangan pernah memikirkan hal-hal yang seolah menunjukkan bahwa aku bukan siapa-siapamu." direngkuhnya kedua bahu Sanya. Karena memikirkan kebahagiaannya dengan sang istri, dia pun memilih menyewa sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Thozy tidak ingin Sanya diusik oleh apapun dan siapa pun demi perkembangan si jabang bayi yang tak berdosa.
"Terima kasih, Zy!" matanya berkaca-kaca. Dalam hati perempuan itu berujar, mengapa Thozy sebaik ini? Dia hanya bisa membalas segalanya dengan melakukan semua yang diinginkan Thozy, kecuali melayaninya di tempat tidur. Dirinya sadar, bahwa Thozy menikahinya hanya karena niat di hati untuk melepaskannya dari malu dan kecaman orangtua. Tak ada yang bisa diandalkan lagi dalam keterpurukan dirinya.
"Aku sudah siapkan makan malam untukmu, tapi kenapa tidak kamu makan juga?"
"Oh!" Thozy menyapukan tangannya melewati kening hingga puncak kepalanya. "Aku keasyikan kerja sampai lupa." ditangkupnya wajah Sanya dan mengecup dahinya dengan mesra. "Terima kasih, istriku! Pasti kamu belum makan juga kan?"
Anggukan kecil dengan tatapan tak percaya telah mendapatkan perlakuan seperti itu dari Thozy terlihat di mata Sanya, "Aku menunggumu!"
"Ayo! Kamu harus makan yang banyak dan ingat untuk jangan pernah telat makan. Aku tidak ingin kamu sakit!" disentilnya hidung perempuan itu dan dibimbingnya keluar dari ruang kerjanya.
Sesampainya di meja makan Thozy sengaja berdiam diri menatap makanan kesukaannya, walau hatinya begitu ingin segera menikmati semua yang dihidangkan Sanya. Dia hanya menatap sang istri yang telah siap menyantap makanan di piringnya.
"Kamu kelihatannya tidak berselera melihat masakanku. Maaf, hanya ini yang bisa kubuat. Aku tidak pandai memasak."
"Apakah begini cara melayani suamimu? Aku heran, istriku hanya mengambil bagiannya tanpa peduli padaku yang sedang duduk menanti untuk diambilkan."
"Hah? Maaf, biasanya kamu mengambil bagianmu sendiri maka..."
"Aku ingin diambilkan oleh kamu, boleh?"
Tanpa menjawab, perempuan cantik mungil itu langsung mengambilkan makanan untuk suaminya.
__ADS_1
Thozy bangkit dari tempat duduknya dan mendekat ke belakang perempuan itu. Dipeluknya perempuan itu dan wajahnya didekatkan ke ceruk lehernya. Bisikan lembut dengan gesekan bibir lelaki itu di telinganya terasa menggelikan. Kuduknya berdiri. "Bisakah ini dibiasakan setiap kali kita makan?" Wajahnya seketika dipalingkan tuk menemukan wajah pemohon itu, namun justru hal itu membuatnya terperanjat dalam sentuhan bibir dan hidung dengan lelaki penolongnya itu. Tatapan mata yang penuh harap ditemukannya saat itu, senyuman persetujuan diberikannya. Dirinya tidak menyadari bahwa dalam tatapan itu terkandung harapan akan sesuatu yang lebih. Saat wajahnya dipalingkan kembali untuk melanjutkan aktivitas semula, tubuhnya ditahan dengan dibalikkan. Keduanya berhadapan tanpa seuntai kata.
Mata itu tak berubah, dan wajah di depannya semakin mendekat. Sanya sadar apa yang diinginkan lelaki itu, sehingga dikatupnya kelopak matanya. Tubuhnya seketika dialiri kehangatan karena bibirnya dinikmati oleh Thozy dengan dikulum lembut.
Pikiran Sanya mengembara, kejadian ini tak pernah diharapkannya namun bukankah dirinya telah berjanji dengan diam-diam untuk melakukan tugasnya jika Thozy menginginkan sesuatu?
Dua menit berlalu, Thozy tiba-tiba melepaskan pagutan bibir mereka. "Maaf!" dibersihkannya sisa-sisa liur yang melengket di area sekitar bibir Sanya. Perempuan itu tertunduk malu dan terbata melanjutkan tugasnya. "Apakah ini sudah cukup?"
"Sudah, terima kasih!"
Sepanjang menikmati makan malam, wajah Sanya terus menekuri piring di depannya sementara Thozy sekali-sekali melempar tatapan ke arah perempuan yang telah menjadi istrinya itu.
"Sa!"
"Ya!" mengangkat wajahnya memberanikan diri menatap bola mata suaminya.
"Apakah kamu sudah menyiapkan nama untuk dia jika lahir nanti?"
" Belum!"
"Sesuai kebiasaan, seharusnya itu disediakan oleh ayahnya, tapi...." kalimat itu tak dilanjutkannya, Sanya yakin bahwa Thozy mengetahui alasannya.
"Kenapa tidak dikasih tahu sejak dulu? Cepatlah, habiskan makananmu. Kita carikan namanya bersama-sama." Dengan tergesa Thozy memakan hingga ludes semua yang berada di piringnya.
Melihat makanan Sanya belum setengah bagian dimakan, Thozy mengambil alih. "Aku suapi, biar cepat!"
Sejak hamil, kesukaan perempuan tersebut turut berubah. Setiap menyantap makanan, jemarinya berperan sebagai sendok dan garpu. Thozy pun menggunakan jarinya untuk menyuapi Sanya setelah dibilasnya bersih.
"Enakan mana, makan dengan suapan tangan sendiri atau dengan suapan tanganku?" goda Thozy setelah suapan terakhir diberikannya.
"Ah, sama saja. Rasa makanan tak berubah!"
Seandainya Thozy tahu bahwa Sanya mengharapkan perhatian serupa ini di setiap helaan nafasnya. Oh, betapa ingin dia mengakuinya namun... Siapakah dirinya? Suatu keberuntungan, jika orang-orang tahu bahwa Thozy adalah suaminya dan anak yang dikandungnya diketahui sebagai anak lelaki ini walau kenyataan jauh dari kebenaran.
__ADS_1
"Minumlah yang banyak!" disodorkannya air mineral di tangannya kepada Sanya dan langsung disambut perempuan tersebut.
"Besok jadwal imunisasi, kan?" Thozy memulai percakapan setelah keduanya menempati sofa di ruang keluarga.
"Ya, aku sudah pesan sama Bu Rani untuk berangkat bareng."
"Tadi, aku sama suaminya sempat bercerita tentang kehamilan kalian. Katanya esok hari dia akan mengantar istrinya."
"Gitu, ya? Ya, sudah! Aku numpang dengan mobil Bu Aulia saja, waktu itu beliau dan suaminya sempat menawarkan untuk pergi bareng."
"Tidak! Aku yang akan mengantarmu. Aku sudah meminta ijin."
"Tapi hal itu akan semakin merepotkanmu dan menambah beban kerjamu, Zy!"
"Selama kita menikah kamu sudah menjalankan kewajibanmu melayaniku dengan sepenuh hati. Sedangkan aku? Aku hanya menyibukkan diri dengan pekerjaanku. Aku seolah tak peduli padamu. Biarkan aku menjalankan kewajibanku!"
Kewajibannya? Dia seharusnya tidak berkewajiban untuk hal yang satu ini. Anak yang dikandung perempuan itu bukan darah dagingnya, untuk apa dia melakukan kewajiban yang tidak wajib dilakukannya, itulah yang dipikirkan Sanya. Lagi-lagi lelaki ini membuatnya terbawa ke alam prakiraan cuaca hatinya. Dan lagi pikiran itu ditepisnya, jauh!
"Baiklah! Kalau itu mau kamu." serunya dengan suara hampir tak terdengar.
"Soal namanya, aku punya ide!"
"Apa itu?" Sanya acuh tak acuh.
"Kita cari di google saja, ya!"
"Boleh, tapi arti nama itu harus sesuai kenyataannya."
"Aku ingin arti nama yang baik untuk dia! Tapi apa ya?" diterawangnya pikirannya. "Ya, aku dapat. Pemberi cinta dan kebahagiaan!" lanjutnya.
"Bukankah itu tidak sesuai kenyataan kehadirannya?"
"Aku yakin arti nama itu sesuai untuk dia. Kehadirannya akan menghadirkan cinta dan lebahagiaan bagi kita. Aku mencintai dia, kamu mencintai dia. Dia pun pasti mencintai kita. Kebahagiaan akan menjadi bagian kita."
__ADS_1
Tapi cinta itu tidak ada di hati Thozy dan hati hatinya, kata-kata itu menggema di sanubari Sanya.
"Nah, ini dia! Coba lihat nih!" didekatkannya ponselnya ke arah Sanya hingga tubuh keduanya menempel. "Dhrya. Bagus banget nama ini. Dhrya Kisarea. Ya, cocok untuk dia. Aku berharap dia cowok!"