Cinta Gugur Bersama Tangis

Cinta Gugur Bersama Tangis
Aku tak mungkin mencintaimu tanpa menyayangi dia


__ADS_3

"Bapak berbaju biru itu senasib sama aku, ya Sa?" Thozy menjalankan niatnya untuk melihat reaksi Sanya.


"Maksud kamu? Bapak yang mana?" Sanya mematung, alisnya bertaut.


"Hmmmm, pura-pura nggak dengar nih!" dipeluknya punggung Sanya. "Emang enak ya, bau tubuhku? Tapi aku bahagia, setiap malam didekap mesra sama kamu."


Wajah perempuan yang selalu menganggap dirinya dinikahi Thozy semata-mata karena rasa kasihan, nampak bersemu.


"Nih, dihabiskan ya! Biar keluar nanti, baby kita tidak ngiler." diberikannya jeruk yang telah selesai dikupas kulit kepada Sanya. Kekehannya terdengar diiringi tangan kekarnya membelai bahu perempuan itu.


"Makasih!"


"Sepulang dari sini kita langsung ke toko membeli perlengkapannya, ya!" ditariknya kursi di samping Sanya dan duduk di depan wanita muda yang telah menemaninya melewati beberapa bulan kehidupan.


"Mengapa harus terburu-buru? Kelaminnya saja belum diketahui, Zy!"


"Sedia payung sebelum hujan, sayang!"


"Ya, tapi nanti saja! Aku ngantuk banget nih!"


Thozy merasa bersalah, semalam keduanya tidur agak larut karena terlambat menikmati sajian yang susah payah disiapkan Sanya ditambah lagi pembahasan berkisar nama si jabang bayi yang sedang dikandung perempuan itu.


"Sorry, kelamaan!" Nick masuk dan menuju tempat duduknya. "Zy, sudah ambilkan sesuatu untuk kamu dan Sanya?"


"Sudah! Apakah orang tadi, pasienmu?"


"Istrinya!"


"Sepertinya ada sesuatu yang terdesak?"


"Ya, tapi sudah kuatasi!....Gimana? Kita langsung saja mengecek perkembangan si mungil di perut istrimu, ya!"


"Ya!" diraihnya lengan Sanya. "Sayang, kau dengar itu? Pergilah ke pembaringan itu!"

__ADS_1


"Ya!"


"Kemarilah bersama istrimu, biar kujelaskan sedetailnya." Permintaan Nick membuatnya terhentak begitu pun Sanya, namun dicobanya untuk bersikap sewajarnya. Sekian lama menikah, tak pernah ditatapnya tubuh perempuan itu. Demikian sebaliknya, Sanya tak pernah membiarkan tubuhnya dilihat oleh Thozy kendati dalam kegerahan sekalipun.


"Baiklah! Ayo, Sa!"


Mata Sanya tak sedikit pun bergeming dari layar monitor yang menampilkan sesuatu yang bergerak di sana. Hal ini sangaja dilakukannya untuk menghindari pertemuan tatapnya dengan Thozy, perempuan itu sungguh canggung berada di antara kedua manusia berlainan jenis dengannya. Sementara Thozy, tak mungkin menarik tatapannya dari setiap apa yang dikehendaki Nick agar dilihatnya. Hatinya bergetar sangat kala tanpa diduga Nick menuntun jemarinya ke perut Sanya untuk merasakan gerakan benda bundar yang terlihat aktif di layar monitor.


"Lihat, Zy... dia begitu aktif! Pengalamanku selama menangani bumil, benda yang saat ini kau rasakan bergerak dan yang kau lihat di layar... bagian ini (ditunjuknya dengan benda serupa pena) akan terbentuk jadi kelaminnya. Sepertinya dia cowok nantinya. Tapi kejelasannya bisa kita lihat sebulan ke depan. Semoga kamu tidak sibuk saat itu sehingga bisa melihat dengan jelas."


"Semoga! Thanks Nick... Aku bahagia!"


"Sepertinya cukup dulu, aku akan mberikan suntikan vaksin influenza. Ibu yang sedang hamil di trimester 2 dan 3 paling berisiko mengalami komplikasi parah dari influenza." katanya setelah menutup monitor. "Bantu istrimu bangun, Zy!" berjalan ke tempat duduknya dan menyiapkan vaksin.


Setelah usai, keduanya berpamitan.


"Thanks Nick! Jangan lupa datang ke rumah kami!" Thozy mengingatkan.


"Oke, nanti aku kabari kalau ada sempat! Hati-hati ya Sanya, semoga kebahagiaan kalian makin sempurna setelah mengetahui keadaannya!"


"Yuk! Sampai jumpa!" dengan tangan menempel di punggung Thozy membimbing Sanya. Perempuan ini merasa enggan diperlakukan demikian namun dirinya tak ingin menampakkan sesuatu yang dapat menimbulkan kecurigaaan di mata Nick.


Sikap Thozy hari ini terlihat sangat berbeda dari biasanya namun baginya hal tersebut pastilah hanya sementara. Sanya yakin segalanya akan berubah ketika keduanya hilang dari pandangan Nick. Ternyata, apa yang dipikirkannya jauh dari kenyataan. Sesampai di rumah, Thozy tetap menaruh perhatian penuh padanya. Ketika dirinya tak dapat lagi menahan kantuk lelaki itu mengambilkan makanan dan menyuapinya di pembaringan. Sorenya, usai menyiapkan makan malam betis istrinya dipijiti saat dilihatnya Sanya duduk melonjorkan kaki di sofa. Thozy menunjukkan perhatiannya sebagaimana lazim dilakukan oleh seorang suami pada istrinya.


"Zy! Sudahlah, kamu nggak pantas lakukan semua ini padaku. Aku nggak apa-apa. Kelelahan setelah bekerja itu hal biasa, tak perlu dirisaukan!" diturunkannya kedua kakinya.


"Sa! Kamu kelelahan karena menyiapkan segalanya untukku, kamu pantas mendapat perlakuan seperti ini. Dalam keadaanmu yang sedang memikul beban, kamu tetap menjalankan kewajibanmu sebagai istri. Sudah sewajarnya aku juga menjalankan kewajibanku untukmu. Jangan membuat aku menjadi suami yang tidak berempati. Biarkan aku melakukan apa yang kupandang baik untuk kamu dan dia." Tangannya mengusap lembut perut Sanya.


"Zy, kenapa kamu melakukan semua ini padahal dia bukan anakmu?" dengan menahan getir hati, ingin diketahuinya alasan lelaki ini melakukan segalanya.


Thozy mendekatkan wajahnya tepat di hadapan Sanya setelah berpindah duduk di sisi perempuan yang tengah mengandung itu . "Aku nggak mungkin mencintaimu tanpa menyayangi dia," dipeluknya Sanya dan menyandarkan ke dada bidangnya. "Kamu dan dia telah resmi menjadi milikku!"


Wajah Sanya menengadah, menatap tak bergeming pada lelaki itu. Pernyataannya telah membuka ruang di hati Sanya yang sekian lama dipenuhi tanya dan kebimbangan.

__ADS_1


"Terima kasih!"


"Hanya itu?" Thozy tersenyum.


"Maksudmu?" Sanya merona.


"Apakah aku hanya pantas mendapatkan kata-kata dari istriku?"


"Apa yang harus aku lakukan?"


"Peluk aku, berikan aku ciuman. Hanya itu!"


"Apakah itu penting bagimu?"


"Sangat penting! Bahkan aku sangat mengharapkannya!" suara Thozy melembut mesra. Sanya semakin kikuk.


Kesempatan itu digunakan Thozy untuk kembali mengelus lembut perutnya yang membusung memberikan sinyal kasih yang tulus.


Mata Sanya menatap sayu.


Perlahan didekatkannya bibirnya dan disambut Thozy dengan bahagia.


Perlahan elusan tangan Thozy berpindah ke gundukan kembar milik wanita itu. Sanya tahu apa yang diinginkan lelaki tersebut karena itu dia membiarkannya. Dirinya telah berjanji untuk memenuhi apapun keinginan pria yang telah menjadi suaminya itu. Hari ini, jika sesuatu yang lebih dibarapkan darinya oun akan diberikannya. Lama keduanya berpagut mesra mencurahkan hasrat yang tak pernah dituang selama kebersamaan. Walau hatinya menginginkan sesuatu yang lebih, Thozy merasa ini bukanlah saat yang tepat. Perlahan dilepaskannya pagutan bibir mereka dan dibersihkannya iler yang menempel di bibirnya dan bibir isrtinya.


"Terima kasih!" dekapannya makin dieratkan pada tubuh Sanya. "Maafkan aku telah melakukan yang lebih dari yang kuminta!" puncak kepala Sanya di sarangkannya dengan kecupan bertubi-tubi. "Mandilah kemudian kita nikmati apa yang sudah dengan lelah kamu siapkan."


"Baiklah!"


Hatinya berbunga karena merasa telah ditempatkan pada dalam hati yang tulus oleh Thozy membawa langkahnya ke kamar mandi.


Begitu pun Thozy, sore itu dengan pelukan hangat diantarnya Sanya hingga ke pintu kamar mandi. "Cepatlah, aku menunggumu. Lidahku sudah tak sabar untuk menghabiskan masakanmu."


"Oke, tapi handukku belum diambil"

__ADS_1


"Akan aku ambilkan."


__ADS_2