Cinta Gugur Bersama Tangis

Cinta Gugur Bersama Tangis
Sebuah awal yang bagus


__ADS_3

Hari masih pagi namun Sanya telah menyelesaikan tugasnya sebagai seorang istri, memasak untuk orang-orang yang disayanginya. Pernyataan Thozy semalam membuat perempuan cantik itu rela menyibukkan diri di dapur.


Saat dirinya baru saja menyuapkan sesendok makanan ke mulut Byan, terdengar suara klakson mobil. Dirinya yakin bahwa yang datang adalah Thozy yang sejak tadi pamitan untuk menjemput Ridzal.


"Sanya, apa kabar?" Ridzal mengulurkan tangannya saat Sanya membuka pintu.


"Baik Zal! Apa kabar Riani?" menyambut jabat tangan Ridzal.


"Baik juga!"


"Ayo, masuk!" diajaknya lelaki itu.


Thozy yang membawa koper Ridzal nampak masuk dan melongo ke sekeliling. "Byan sudah bangun?"


"Sudah, lagi main sambil disuapi."


"Oh, ya Sanya! Riani menitipkan sesuatu untukmu," dibukanya tas punggungnya. "Katanya hadiah untuk Byan!"


"Makasih, Zal!" mendengar namanya disebut, lelaki kecil itu meninggalkan spidermannya di ruang tengah dan menemui ketiga orang dewasa itu.


"Wah, anak cakep!" Ridzal memandang Byan dan Thozy bergantian. "Mirip banget, sama kamu Zy!"


Sanya membulatkan matanya, relungnya berbicara sendiri. Kata Thozy teman karibnya sudah tahu segalanya tapi mengapa dia berkata hal yang tidak sebenarnya?


"Om!" mendekat dan mengambil tangan Ridzal kemudian menciumnya. "Mama Ian udah masatin yang enat buat Om. Ayo, Om matan! Pa, ayo dong!" menarik lengan Ridzal.


"Byan! lupa ya?" ujaran Thozy bagai pengingat untuk cowok kecil itu.


"Oh,ya! Om, Ian tunjutin tamalnya dulu." Byan menarik tangan Ridzal sementara itu Thozy meraih koper yang tadi diletakkan di samping tempat duduknya dan mengikuti langkah mereka. "Nah, ini dia! Om boboknya di sini, ya!"


Thozy hanya bisa menggeleng dan menyaksikan peran Byan.


"Om, ayo itut Ian te luang matan!" ajakan lelaki kecil yang disertai tarikan di tangannya membuat Ridzal hanya bisa mengekorinya.


Sanya yang tadi meneruskan langkahnya ke ruang makan terlihat telah selesai menata makanan di meja.


"Byan, lepaskan tangan Om Ridzal dong! Kalau seperti itu, gimana Om mau sarapan?"


Kata Thozy saat Ridzal telah menempati kursi di meja makan.

__ADS_1


"Byan, ke sini aja sama mama! Biar Om dan Papa bisa sarapan dengan nyaman." Sanya menambahkan namun cowok kecil itu tak juga menuruti keinginan kedua orangtuanya.


"Eh anak Papa pasti lupa janjinya, nih!" Thozy mengingatkan.


"Ya, benar! Ada yang lupa janjinya!" Sanya mengedipkan matanya ke arah buah hatinya sambil tersenyum.


"Tidak! Ian ingat, kok! Ayo, Ma suapin Ian!" melepaskan tangan Ridzal dan berangsur ke sisi Sanya. "Suap yang banyak, ya Ma. Bial Ian cepat besal. Mama juga halus ingat janji kasih Ian Dedek bayi, Ian akan bantuin Mama jagain dedek bayi." kata-kata itu diucapkannya dengan terbata saat ibunya mengarahkan sendok berisi makanan ke mulutnya.


"Hmm, pinter banget anak Papa!" senyum Thozy mengembang.


"Ayo, Zal! Maaf, hanya ini yang biasa aku sajikan!" Sanya merendah.


"Makasih, Sa! Baru dilihat aja enaknya udah kerasa, apalagi kalau dicicip," mengambil peralatan dan segera mengisi piringnya dengan semua yang tersaji.


"Maaf, aku tinggal sebentar!" Sanya bangkit mengikuti Byan yang berjalan ke kamarnya.


"Ya, tidak apa Sa!" jawab Ridzal "Bahagia banget kamu Zy, punya istri pandai masak." lanjutnya saat Sanya telah menjauh.


"Ah, kamu bisa aja Zal! Seperti apapun dia, aku bersyukur bisa memilikinya!"


"Itu yang terpenting, Zy! Mereka adalah harta termulia!" senyum kebanggaan diberikan Ridzal.


Usai sarapan Ridzal dan Thozy duduk sebentar di ruang tengah. Sanya masih terlihat disibukkan oleh Byan yang berjalan ke sana kemari.


"Sa, kamu sarapan dulu. Kemarikan makanan Byan biar aku yang mengurusnya."


"Sudah, biar aku aja Zy! Bukankah kalian harus bersiap untuk pergi ke kantor?"


"Masih ada kesempatan satu jam. Byan, ke sini nak, sama Papa aja. Mama dan dedek perlu sarapan biar tetap sehat." mendengar kata dedek lelaki kecil itu langsung bersemangat melangkah ke arah Thozy. Mau tak mau Sanya menuruti permintaan suaminya, menyerahkan makanan Byan.


"Byan harus duduk di tempat, biar cepat selesai makannya, ya!" diusapnya kepala putranya. "Papa sama Om harus bersiap ke kantor karena itu....anak pintar harus apa?"


"Halus patuh!" jawabnya dengan dua jari teracung ke atas.


"Pintar banget!" Thozy menyuapkan makanan yang telah diterimanya dari Sanya ke mulut Byan.


Rutinitas sebagai seorang ibu rumah tangga kembali dijalankan seperginya Thozy dan Ridzal ke kantor. Pesan Thozy bahwa keduanya akan kembali saat malam hari sungguh meringankan pekerjaan perempuan itu. Dirinya tidak perlu menyiapkan makan siang untuk mereka karena setiap usai sarapan bawaannya selalu malas dan ingin tidur. Dirasakannya kehamilannya kali ini tidak berbeda jauh dari apa yang dialaminya saat Byan mulai terbentuk di rahimnya.


Menunggu kedua lelaki itu kembali malam hari Sanya membaca beberapa laman webside tentang trend mode masa kini saat Byan telah lelap tidur. Desain gaun modern yang cantik jadi perhatiannya. Telah lama bidang ini ditinggalkannya, bukan karena petaka yang menimpanya namun tidak adanya dukungan ekonomi.

__ADS_1


Begitu ingin hatinya menuangkan segala yang terdesain di pikirannya. Diambilnya kertas HVS dan pensil yang pagi tadi sempat dipakai Thozy dan Ridzal sebelum pergi ke kantor. Beberapa model gaun cantik tiba-tiba terlukis oleh jemari lentiknya di atas kertas bertuliskan angka-angka itu. Sesaat diamatinya dengan saksama. Seandainya pernikahannya dengan Thozy atas dasar kesucian dirinya mungkin saat ini dia akan bermanja-manja dengan lelaki itu, alhasil apapun yang diinginkannya pasti akan disampaikan dan terwujudkan.


Perlahan desahan nafas beratnya keluar, bongkahan salju seolah terlontar saat gumpalan udara yang membulatkan pipinya mengempis seketika.


Ruang nuraninya yang lain mengingatkan dirinya untuk bersyukur atas segala yang terjalani. Setidaknya jenjang kehidupan yang kini ditapakinya telah mengangkat harkatnya pada sebuah tatanan kenormalan. Kehadiran benih cinta Thozy di rahimnya saat ini pun harus dijaganya dengan baik.


Ditinggalkannya hasil arsiran tangannya itu dan ia berlalu ke kamar saat lelah dan kantuk menyatu di kelopak matanya yang mulai redup.


Keesokannya pagi-pagi benar Sanya terbangun. Dirasakannya pelukan hangat dan bau yang begitu diingininya. Setitik keinginan untuk terus menikmati pagi dalam dekapan suaminya tersembul namun harus ditepiskannya mengingat sebentar lagi Ridzal harus terbang kembali ke kota asal.


Disingkirkannya lengan Thozy dengan perlahan. Sanya melangkah ke kamar mandi, membersihkan diri.


Lima belas menit kemudian dirinya melintasi ruang tengah. Ingatannya terusik pada aktivitasnya malam tadi, dirinya tengah melakukan sesuatu tapi dimana benda itu? Ponselnya terlihat di atas nakas tapi hasil karyanya entah raib kemana?


Saat koki rumah tangga yang cantik itu telah menyajikan hasil karyanya, Thozy datang menghampiri.


"Masih terlalu pagi, sayang. Kembalilah ke kamar!" dipeluknya sang istri dan jemarinya mengelus perut wanita itu. "Aku ingin merasakan kehadirannya."


"Sekarang sudah pukul lima, Zy! Hentikan tanganmu, gimana kalau tiba-tiba Ridzal keluar?"


"Dia kelelahan, nggak mungkin bangun sepagi ini. Ayo, kita ke kamar!" Mau tak mau Sanya mengikuti tarikan tangan sang suami.


Di kamar, Thozy memaksa istrinya merebahkan diri di tempat tidur. Dirinya turut merebah di samping Sanya. Yang dilakukannya sepagi itu adalah mengelus dan mengelus perut istrinya.


"Apa yang ingin kamu lakukan setelah adik Byan lahir, sayang?" diendusnya pipi perempuan itu.


"Apa lagi kalau bukan mengurusnya? Kamu ini, kenapa jadi aneh sih?"


"Setelah dia seumuran Byan, apapun yang kamu mau akan aku penuhi!"


"Zy, bagiku mendapatkan kasih sayang yang tulus dari kamu itu sudah cukup. Aku tidak mengharapkan apapun lagi!"


"Sayang!" diciumnya perut Sanya " Kenapa sekarang Mamamu begitu pandai berbohong?" ditatapnya perut Sanya. "Coba katakan pada Papa, apa yang Mamamu lakukan semalam?"


"Aku.... Itu, aku hanya menuangkan hobi. Kamu kan tahu kalau aku suka menggambar?" Sanya berdalih.


"Ya, aku juga tahu kalau yang kamu gambar itu sesuatu yang menjadi impianmu. Ya, kan?" tangannya bergerak ke bawah bantal dan dikeluarkannya lembaran-lembaran kertas dari sana. "Bagus banget! Sudah saatnya kamu beraktivitas agar tidak jenuh di rumah."


"Aku belum mau menyibukan diri. Biarkan aku fokuskan perhatian pada dia dan Byan. Menjadi desainer dan memiliki butik sendiri memang impianku tapi bukan sekarang. Saat ini kalianlah impianku."

__ADS_1


"Jika itu keputusanmu, aku mau kamu bergerak dari sekarang. Buatlah desain sebanyak mungkin di setiap waktu senggangmu. Kamu akan selangkah lebih maju karena telah memiliki modal awal. Gambar-gambar ini adalah awal yang bagus!"


__ADS_2