
Didalam kamar yang bernuansa kuno dan dengan penerangan lampu yang minim,seorang wanita cantik sedang tertidur pulas namun iya terkejut saat mendengar ada suara ketukan pintu diluar.
Tok..tok...tok...
"Tuan Ling ...tuan Ling",suara yang terdengar dari luar pintu.
"Huaaaaa, siapa yang membangunkan ku tengah malam seperti ini,aku masih ngantuk".
Meilin segera bangun dan mengubah penampilan nya,mengikat rambut dan menambahkan sedikit kumis tipisnya.
"Siapa tengah malam-malam datang ke kediamanku",segera Meilin membuka pintunya.
"Pelayan Chu,ada perlu apa kau datang tengah malam seperti ini ? ".
"Tuan Ling,aku disuruh menyampaikan sesuatu,kalau Yang Mulia Putra Mahkota badannya demam." ucap pelayan Chu.
"Dia lagi dia lagi,huuft gak ada kerjaan apa dia selain mengganggu tidurku" gerutu Meilin.
"Baiklah kau boleh pergi,aku akan segera ke sana ".
"Baik tuan Ling,aku permisi".
Saat memasuki kamar Putra mahkota,disana sudah ada dua penjaga yaitu pengawal setia Putra mahkota siapa lagi kalau bukan Xia Su dan pelayan Chu.
Meilin segera memeriksa keadaan Putra mahkota yang wajahnya terlihat sangat pucat.
"Biar aku yang memeriksa Putra mahkota,kalian bisa tunggu diluar".
Xia Su dan Chu meninggalkan kamar Putra mahkota dan menunggu diluar ruangan.
Meilin memeriksa suhu badan Putra mahkota Jia Heng yang tertidur pulas dengan wajah pucat.
"Hemm ini mah cuma demam biasa,ini mah tinggal dikasih paracetamol juga udah sembuh,tapi sayang dijaman ini obat-obatan masih tradisional,jadi harus diracik dulu tanaman yang akan dijadikan obat".
"sungguh ribet,untung mamah dulu sering ngajarin aku belajar meracik obat-obatan tradisonal,coba kalau tidak,mungkin aku sudah tamat disini".
Meilin segera meracik obat dan memberikanya kepada Putra mahkota Jia Heng.
"Ayo buka mulut, kenapa susah sekali",
__ADS_1
Meilin memberikan obat yang sudah ia racik dan mencoba memasukanya kemulut Jia heng,tapi tidak ada respon dari Putra mahkota Jia Heng. Demamnya terlalu tinggi jadi dia sampai tidak sadarkan diri.
"Bagaimana ini kalau dia tidak minum obat,dia tidak akan sembuh, tidak ada cara lain kecuali itu".
Kemudian Meilin meminum ramuan tersebut,dan mencium bibir Putra mahkotaJia Heng dan memberikan obat tersebut lewat mulutnya.
Deg...deg..deg..."kenapa jantungku berdebar-debar,hidungnya sungguh mancung".Batin Meilin
Meilin tidak berhenti hentinya memandangi wajah Putra mahkota yang begitu tampan.
Setelah lebih dari 5 menit Meilin memandangi wajah Putra mahkota,dia tersadar dari lamunan nya.
"Apa yang sudah aku lakukan,huh dasar es balok kau harus membayar dengan mahal ciuman pertama ku".
"Terpaksa aku melakukan cara ini,biar dia minum obat,kalau dia tidak sembuh bisa-bisa aku yang kena semprot".
Setelah memberikan obat kepada Putra mahkota ,Meilin mengompres kepala Putra mahkota agar demamnya turun.
"Aku akan keluar memberitahukan kepada Xia su kalau dia sudah aku periksa".
Meilin membuka pintu dan menyampaikan kepada Xia su kalau dia sudah selesai memeriksa Putra mahkota.
"Bagaimana keadaan Yang Mulia".
"Baiklah, terimakasih tabib Ling,tapi sepertinya aku tidak bisa menjaga yang mulia,lebih baik kau saja".
"What !, aku tidak mau".
"Apa itu whho...aaa.**".
"Oh bukan apa-apa,bagaimana kalau kau saja pelayan Chu".
"Hamba sedang ada keperluan tuan Ling jadi hamba tidak bisa membantu,kalau begitu hamba pamit tuan Xia Su tuan Ling". ucap pelayan Chu membungkuk dan meninggalkan mereka berdua.
"Kalau begitu aku juga ada urusan,aku titip Yang mulia kepadamu tabib Ling".
Setelah semuanya pergi,hanya tinggal dua orang yang didalam kamar,Meilin bingung mondar mandir seperti orang kebingungan.
Kemudian dia mengecek keadaan Putra mahkota,ternyata demamnya masih tinggi.
__ADS_1
Semalaman Meilin merawat Putra Mahkota,karena begitu lelah dan kantuknya,hingga ia tidak sadar tidur di samping Putra mahkota.
Keesokan harinya.....
Saat Putra mahkota membuka matanya yang pertama ia lihat adalah Meilin.
"Lancang sekali dia tidur di sampingku !".
Putra mahkota bergegas bangun dan mengambil air dan menyiramkan nya kewajah Meilin.
Byuurrr.....
Meilin tersentak dan langsung bangun dari tidurnya,wajah dan bajunya basah terkena air.
"Kenapa Yang mulia menyiram ku dengan air, apa salah ku".ucap Meilin dengan raut wajah kecewa menatap Putra mahkota.
"Kenapa kau tidur di sampingku !, berani sekali dirimu, kau harus dihukum 50 kali cambuk". tegas Putra mahkota dengan wajah marah.
"Ampun Yang mulia hamba hanya me..."
"Cepat pergi,aku tidak mau lagi melihat wajahmu !".
sebelum Meilin menyelesaikan ucapannya tapi sudah dipotong oleh Putra mahkota.
"Baik Yang mulia,kalau begitu hamba pergi".Dengan menunduk Meilin hendak pergi saat membalikan badannya tiba-tiba deg...deg..
"kenapa dadaku sesak sekali",sambil memegang dadanya dan tiba-tiba air bening itu keluar dari kedua mata indah Meilin.
"Kenapa aku menyuruhnya pergi,tapi aku belum mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu".batin Putra mahkota
Saat meilin hendak berjalan pergi,Putra mahkota memanggilnya.
"Tunggu !".
"Sepertinya sudah tidak ada yang perlu dibahas Yang mulia,hamba yang salah".
Meilin berlalu meninggalkan Putra mahkota,dengan mata sembab Meilin segera pergi ke kamarnya.
Putra mahkota terdiam mendengar penjelasan Meilin,seperti ada perasaan bersalah pada dirinya.
__ADS_1
Dikamar Meilin...
"Hik..hiikk hik...kenapa aku menangis,rasanya seperti jadi TKW yang disiksa majikan nya karena kesalahan yang tidak ia perbuat,sakitnya tuh disini,".sambil memegang dadanya dan tidak berhenti-henti nya mengelap air matanya yang sudah mengalir deras seperti air sungai nil.