
"To-tolong... Siapapun tolong aku!"
"Percuma saja tidak akan ada yang mendengar mu gadis manis. Nah sekarang mari kita bersenang-senang."
"A-apa yang akan ka-kalian laku- ah Kyaaaaa..."
Teriakan terakhir itu berhasil membuat langkah pria itu berhenti. Ia kemudian berbalik dan berlari menuju gang itu.
Ditempat Lain...
"A-apa yang akan ka-kalian laku- ah Kyaaaaa..." Seorang pria berbadan besar mendorong tubuh kecil nan rentan gadis itu hingga terhempas ke tanah. Gadis itu merintih kesakitan, Ia pun akhirnya menangis. ia menangis bukan hanya karena rasa sakit yang menjalar di daerah pinggang dan kakinya saja tetapi karena ia takut. Ia takut apabila pada akhirnya dia tidak bisa menjaga harga dirinya untuk sang suami kelak. Ia takut apabila sampai harga dirinya diambil oleh preman-preman br***sek itu. ia adalah gadis baik-baik, Ia selalu menjaga apa yang seharusnya menjadi harga diri seorang wanita. Bahkan sampai sekarang ia masih ragu untuk menjalin hubungan dengan seorang pria. Bukan karena tidak laku, tapi karena ia masih agak takut dengan makhluk yang namanya 'Pria'. Selain itu juga karena sejak dulu ia tidak banyak teman karena tampang nya yang dulu sangatlah Culun, sehingga tidak banyak yang ingin berteman dengannya mau itu perempuan maupun laki-laki. Preman yang satu lagi kemudian berjongkok dan meraih wajah gadis itu, Ia hendak menciumnya. gadis itu semakin panik, Ia hanya bisa berdoa dalam hati.
Sampai kemudian...
"Hei kalian berdua... hentikan! Cih, kalian sungguh memalukan menyerang gadis tak berdaya cuma untuk memuaskan nafsu kalian. Kenapa kalian tidak sewa WTS saja ha?" Teriak seorang Pria. Ia nampak berdiri sambil terengah-engah.
"Keh, siapa kau bocah?" Tanya pria bertubuh besar itu, Ia sangat geram dengan perkataan pria itu.
"Bocah? Berani-beraninya kau memanggilku bocah. Dasar makhluk rendahan..." Ucap pria itu sambil mencengkeram kerah baju pria berbadan besar itu. Sementara itu pria yang lain menjaga gadis itu agar tidak kabur. gadis yang masih takut akan kejadian yang menimpanya itu hanya bisa menutup mata tidak berani melihat apa yang tejadi. Lima menit kemudian, kedua pria itu ditemukan dalam keadaan terkapar. gadis itu pun segera membuka mata indahnya ketika ia merasa keadaan sudah sunyi. Ia pun mendongak, seketika itu matanya bertemu dengan mata tajam pria yang menyelamatkan nya. Gadis itu kaget saat mengetahui bahwa orang yang mencoba melecehkan nya sudah terkapar di bawah tanah.
"Kau tak apa?" Tanya Pria penolong itu sambil mengulurkan tangannya hendak menolong Gadis itu, bukannya menerima uluran tangan pria itu, gadis itu malah bangun sendiri.
__ADS_1
"Te terimakasih, Saya baik-baik saja" Ujar Gadis itu pelan, sedangkan pria itu kembali menarik tangannya yang sempat terulur tadi.
"Hm" Ujar pria itu membalikkan badannya berniat untuk pergi
"A ah Awww,, Kakiku!" Rintih gadis itu membuat Pria tadi kembali membalikkan badannya kearahnya
"Apa kamu baik-baik saja!" Ujar pria itu merasa kasihan
"Se sepertinya kaki ku terkilir!" Ujar Gadis itu mengelus pelan kakinya
"A anu bolehkah saya meminta tolong?' ujar Gadis itu sedikit ragu
"Apa?"
pria itu terdiam untuk beberapa detik dan kemudian ia mengangguk mengiyakan. setelah itu Pria itu pun mulai membantunya untuk berjalan.
Setibanya mereka di apartemen itu, pria itu pun menurunkannya di dalam Lift dan Lift itu pun meluncur naik di antara dua lantai ketika mendadak berhenti dan semua lampu padam. Tanpa tanda-tanda peringatan apa pun, baik dari suara roda-roda gigi yang berderit, maupun dari lampu yang berkedip-kedip. Sama sekali tidak ada apa-apa. Semenit sebelumnya bilik sempit itu dengan mulus melesat turun, tetapi pada menit setelahnya kedua penumpang di dalam lift itu tiba-tiba diliputi keheningan yang mencekam.
"Tch, listrik padam" gumam pria itu, yang adalah penduduk asli Tokyo, pusat ibu kota seperti tokyo bisa mati lampu, dan ia sedang tidak ingin menanggapi gurauan konyol kota itu untuk menggoda para penghuninya.
Wanita disampingnya itu tidak menanggapi komentar itu. Pemuda itu pun akhirnya tak ambil pusing, jika pernyataannya tidak ditanggapi, toh ia bergumam tadi untuk dirinya sendiri, hingga akhirnya ia tetap berdiri tegak di posisinya, namun beberapa menit berikutnya ia merasa ada yang aneh, gadis di belakangnya hanya diam, lalu ia memutuskan untuk membalikkan badan dan gadis di belakangnya dapat merasakan pemuda itu berbalik dan memandang ke arahnya. Namun si gadis tak sanggup berbicara dan bergerak.
__ADS_1
Tubuhnya seakan lumpuh dilanda ketakutan. Ia mencoba bersikap rasional, dengan mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa klaustrofobia rasa takut akan terkurung di ruangan sempit dan tertutup yang dideritanya membuat situasi terasa sangat mengerikan, bahwa ia pasti selamat, bahwa ketakutan yang berlebihan seperti ini terasa sangat kekanakan dan konyol. Tapi semua itu sia-sia.
"Kau baik-baik saja" tanya pemuda itu datar kepada gadis itu yang ternyata bernama Vanessa.
Amanda Vanessa Hudgens
"Tidak, aku tidak baik-baik saja!" ingin rasanya Vanessa menjerit kepada pemuda itu. Tetapi pita suaranya terasa kaku dan suaranya tercekat di tenggorokan, delapan kuku jarinya menancap pada kedua telapak tangannya yang berkeringat. Ia menyadari matanya terpejam rapat. Memaksakan diri membuka mata juga percuma tak ada sinar yang masuk ke dalam lift yang menyesakkan itu, kini nafasnya mulai tersengal.
"Jangan khawatir, mungkin ini tak akan lama" kata Pemuda itu lagi dengan suaranya datar tanpa intonasi, mencoba menenangkan gadis itu dengan caranya.
Namun sikap tenang pemuda itu sungguh membuatnya marah. Mengapa ia tidak panik? Ingin rasanya Vanessa menuntut apakah pemuda itu berani menjamin bahwa listrik benar-benar akan menyala sebentar lagi. Listrik padam seperti ini bisa berlangsung berjam-jam bahkan berhari-hari bukan? Okay mungkin pemikiran Vanessa terlalu berlebihan namun itulah efek dari klaustrofobia.
"Katakan sesuatu, agar aku tahu kau baik-baik saja" kata pemuda itu lagi.
Vanessa merasakan sebuah tangan merabanya dalam kegelapan, sejenak sebelum menyentuh pundaknya. Ia terlonjak kaget.
"Tenanglah" ucap pemuda itu lalu dengan segera menarik tangannya dan melanjutkan ucapannya
"Kau menderita klaustrofobia?".
__ADS_1
Dengan segera Vanessa menganggukkan kepalanya, berharap pemuda itu dapat melihat gerakan kepalanya. Sepertinya pemuda itu dapat merasakan kepanikannya, karena sekarang suaranya terdengar menenangkan.
"Tidak ada yang perlu dicemaskan. Kalau listriknya tidak segera menyala, dinas kebakaran akan mencari orang –orang yang terperangkap seperti kita". Ucap si pemuda mencoba menenangkan gadis yang kini ia ketahui sangat ketakutan itu.