Cinta Satu Malam Bersama Tuan. Adipati

Cinta Satu Malam Bersama Tuan. Adipati
Mabuk


__ADS_3

Karena ia menyadari Vanessa tak akan menjawabnya.


Gadis itu mabuk.


Ia baru tahu bahwa Vanessa bukan peminum, namun ia terlanjur memberikan sake (Alkohol) pada gadis itu, awalnya ia berfikir Vanessa sama seperti wanita-wanita lain yang sering di temuinya akan tenang jika telah menenggak minuman itu.


Candra lalu merebahkan tubuh Vanessa di atas kasur berukuran king size miliknya


"Selamat tidur" bisiknya lalu berniat mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur di samping Vanessa


"Tidak" ucap Vanessa, lalu meraih tangan Candra dan menariknya


"Jangan tinggalkan aku, kau berjanji akan menemaniku" ucap Vanessa memelas, Vanessa memeluk Candra dan Dadanya menempel rapat di dada Candra. bayangan tentang Dada Vanessa yang errrr besar dengan puncak dada berwarna gelap terpatri di benak Candra.


"Vanessa" erang Candra, akal sehatnya dan respons tubuhnya saling berdebat di benaknya


"Kau tidak tahu, perbuatanmu ..."


"Ku mohon" potong Vanessa atas perkataan Candra.


Akhirnya Candra pun merebahkan diri bersama Vanessa, hanya selama beberapa saat saja. Hanya sampai gadis ini tertidur, janjinya pada diri sendiri. Namun Vanessa masih memeluknya dengan erat, dan tuntutan feminim gadis itu terasa begitu lembut dan mendesak, dan mampu membungkam protes hati kecilnya.


Tangan Candra mulai mengusap-usap tubuh Vanessa mencoba menenangkan gadis itu. Tubuh Vanessa terasa begitu hangat di bawah sentuhan jarinya. Candra akhirnya mencium bibir Vanessa dalam keremangan dengan bergairah. Menindih tubuh yang ringkih itu dan menjelajahinya.


"Ohhh Tuhan"


Ini salah. Ia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang gadis ini yang kini lebih pantas di sebut wanita. Namun apa yang telah dilakukannya pada wanita itu? Berbagai peringatan muncul di benaknya. Tetapi bibir menggairahkan dan rasa tubuh wanita ini membuat Candra melupakan akal sehatnya.

__ADS_1


Candra tidak pernah ragu menggunakan cara-cara licik dalam upaya memperoleh apapun yang ia inginkan. Tetapi, ia belum pernah memanfaatkan seorang gadis seperti ini, dia masih gadis ketika Candra melakukan itu, gadis itu benar-benar mabuk sehingga tak menyadari apa yang dilakukannya. Sementara Candra tahu apa yang harus ia lakukan seharusnya dan bukan malah menikmati sensasi itu.


Vanessa pelan-pelan membuka matanya, sekali, dua kali mengerjapkan mata pucat itu, lalu menguap, dan membuka matanya sekali lagi dengan malas.


Vanessa pelan-pelan membuka matanya, sekali, dua kali mengerjapkan mata indah nya itu, lalu menguap, dan membuka matanya sekali lagi dengan malas.


Tiba-tiba matanya terbelalak lebar, ia sedang berbagi bantal dengan seseorang yang benar-benar asing baginya. Pria itu pun mendadak terbangun dan menatap tajam kearahnya. Vanessa menjerit kaget dan berusaha bergerak menjauhi pria itu.


Oh... Tuhan tangan pria itu berada di Dada Vanessa. Vanessa pun dengan segera berguling menjauhi orang itu, Candra mengawasinya seakan Vanessa tidak waras. Menatap wanita itu Dengan Mata hitam pekatnya


Vanessa meringkuk di pojok tempat tidur, mencengkeram ujung seprai , kemudian menariknya sampai ke batas dagunya.


"Si...siapa kau dan dimana a... aku?" tanyanya walau takut namun ia mencoba memberanikan diri.


"Tch, apa kau tidak ingat bagaimana kau bisa ada di sini?" decih Candra, sebenarnya inilah yang dibenci oleh Candra, harus menjelaskan pada gadis itu tentang apa yang terjadi, berbeda jika ia tidur dengan wanita-wanitanya selama ini, ketika terjaga mereka akan mengerang manja dan memeluk Candra, bahkan tak mengijinkan Candra untuk pergi, namun gadis ini berbeda, ia menatap Candra dengan ketakutan yang luar biasa, seolah dikepung oleh sekelompok pasukan tembak.


"A... aku hanya tahu ka... kalau aku berada disini bukan karena kemauanku, si... siapa kau?" tanya Vanessa kembali


"Damn!"


Candra mengumpat sekali lagi kebodohannya, kemudian menatap Vanessa dengan mata tajamnya


"Aku tahu kau tak akan ingat, kau minum Alkohol terlalu banyak"


"A Alkohol?" ucap Vanessa tercekat, karena kaget, ia sama sekali tak pernah menyentuh minuman seperti itu, di dalam keluarganya sangat tidak diijinkan meminum Alkohol apalagi wanita. Mengingat ia berasal dari keluarga baik-baik.


"Ka...kau memberiku Alkohol? Lalu apa lagi? Narkoba?" ucap Vanessa histeris, ia kehilangan kendali dirinya.

__ADS_1


"Tch, biar ku jelaskan" ucap Candra malas, namun memang ia harus menjelaskan, ia menyadari ini salahnya walaupun Pria itu enggan mengakuinya, mengingat sifatnya yang angkuh.


"Sekarang, jelaskan sekarang juga!" pekik Vanessa


"Lalu dimana pakaianku?" tanya Vanessa saat menyadari ia benar-benar seperti bayi baru lahir sekarang.


Candra menyibakkan selimutnya, lalu berdiri. Wajah Vanessa langsung pucat melihat sosok pemuda telanjang di hadapannya. Pemuda itu berjalan dua langkah menuju lemari dinding sebelum mendengar erangan putus asa.


Vanessa membekap mulutnya dengan tangan untuk meredam kepanikannya saat melihat bercak merah kecoklatan di seprai itu.


Dengan mata berkaca-kaca Vanessa menatap pemuda itu, dan untuk pertama kalinya pemuda itu kelihatan salah tingkah walau tersembunyi di balik ekspresinya yang datar.


"Aku tidak tahu kalau kau masih perawan" ia mengangkat kedua tangannya tanpa memperdulikan ketelanjangannya dan seolah ekspresi Vanessa terlalu berlebihan baginya.


"Bagaimana aku bisa tahu itu sebelumnya semua terjadi Vanessa?" kata pemuda itu lagi.


Vanessa terbelalak kaget, ia menurunkan tangannya yang tadi membekap bibir


"Ba... bagaimana ka... kau tahu namaku?"


Candra tak menjawab pertanyaan Vanessa, ia melangkah menuju lemari dan mengambil jubah mandi dari bahan handuk putih, kemudian menyodorkannya kepada Vanessa. Saat Vanessa mengabaikan pemberiannya, pemuda itu memilih meletakkannya saja di hadapan Vanessa. Lalu berbalik


"Kau menyebut namamu saat di lift, kau tak ingat satu lift denganku hm?" tanya Candra tanpa menoleh ke arah Vanessa, ia tahu Vanessa mengenakan jubah mandi yang diberikannya. Ia memilih untuk tak melihatnya sebelum ia menyerang lagi gadis itu karena tak sanggup menahan diri. Lalu Candra meraih celana yang semalam sempat ia hempaskan begitu saja dan mengenakannya kembali.


"Kau bilang, kau habis menemui seseorang di gedung apartemen ini!" ucap Candra mencoba mengingatkan Vanessa. Gadis itu mencoba mengingat-ingat, menyentuh pelipisnya yang berdenyut saat ia memaksa memori otaknya untuk membongkar kenangan kemarin sebelum ia berada di kamar ini, dengan pria menyeramkan itu tentunya.


Iya sekarang Vanessa ingat, kemarin ia datang kemari untuk mengunjungi sahabatnya yang sudah menikah saat kuliah dan, tiba-tiba ia di cegat oleh dua preman dan di bawa ke lorong dan beberapa menit kemudian Seorang pria menolongnya dan ia meminta tolong untuk dibawa ke apartemen ini dan tiba-tiba lampu mati dan lift terhenti dan setelah itu, setelah itu mereka.

__ADS_1


Vanessa menggeleng kan kepalanya untuk sesaat.


__ADS_2