
"Tapi nyatanya dia keliru!" ucap sang dokter sambil mengangkat bahu dan tersenyum lebar, berharap dengan senyumnya dapat menenangkan wanita muda yang menampakkan raut terkejut di wajahnya.
"Kemarin saya hanya memeriksakan sakit perut biasa dokter" ujar Vanessa meyakinkan bahwa apa yang dikatakannya benar, semua hanya sakit perut biasa.
"Sakit perut yang anda derita itu sudah muncul jauh sebelum kita mengenal virus, itu yang disebut ngidam, Nyonya" kata dokter itu tak mau kalah, ia merasa Vanessa meragukan hasil diagnosanya. Padahal ada banyak pasangan yang menginginkan segera punya momongan tapi kenapa wanita ini tidak percaya, begitulah yang difikirkan dokter bersurai pendek itu.
Vanessa kemudian terdiam dan menatap sang dokter, berbisik seolah menegaskan bahwa apa yang didengarnya tadi salah
"Apa anda serius dokter? Saya benar-benar mengandung?" tanya Vanessa lirih namun masih bisa tertangkap oleh indra pendengaran pria yang ada dihadapannya.
"Apa anda tidak bahagia mendengar berita ini nyonya?" tanya sang dokter yang melihat ekspresi kaget di wajah Vanessa yang pucat.
Vanessa bingung apa yang harus ia lakukan sekarang? Haruskah ia bahagia? Bahwa ia bisa menjadi ibu layaknya wanita pada umumnya, Atau ia harus menangis tersedu karena aibnya akan segera terbongkar. Penat itulah yang dirasakan Vanessa saat ini, dilema antara bahagia dan takut, takut jika keluarganya tahu tentang ini, bahwa ia gagal menjaga diri dan menjaga nama baik keluarga serta kepercayaan yang diberikan oleh orang tuanya.
"Saya tidak menikah, dokter" celetuk Vanessa disela kebingungannya, dokter itu masih menatap Vanessa, tatapan gadis itu kosong, wajahnya pucat dan tampak frustasi.
"Ayah bayi ini..." ucapan sang dokter ingin tahu, bagaimana pun juga ia tak ingin kliennya bermasalah, terutama dalam trisemester kehamilan Vanessa yang bisa berdampak buruk pada janinnya nanti.
__ADS_1
"Sulit dihubungi" ucap Vanessa memotong perkataan sang dokter, ia mencoba berbohong, namun tetap saja ia bukan orang yang pandai berbohong.
"Ehhem" sang dokter ber deham di balik punggung tangannya, dokter itu tahu Vanessa berbohong, namun ia tak ingin memaksa wanita itu mengatakan apa yang tak ingin dikatakannya, ia tahu itu bukan urusannya dan kliennya memiliki privasinya sendiri.
"Kalau anda sudah mengambil keputusan dalam beberapa hari ini..." ucap sang dokter berhati-hati
"Kita bisa menggugurkan kandungan ini" ucap dokter yang bernama Alib itu melanjutkan.
"Aborsi?" tanya Vanessa sambil menatap kosong, ide itu membuat Vanessa bergidik ngeri, mendengarnya saja sudah membuatnya mati kutu.
"Tidak, saya tidak akan melakukannya" jawab Vanessa segera setelah ia kembali tersadar betapa kejamnya jika ia melakukan itu, membunuh darah dagingnya sendiri.
"Tidak" ucap Vanessa memotong perkataan dokter berkaca mata bulat itu, lalu melanjutkan ucapannya
"Saya tidak akan pernah melakukan itu, terima kasih dokter" ujar Vanessa lalu berdiri akan meninggalkan tempat itu, ia membungkuknya badannya sebagai ucapan terima kasih sebelum pergi, ia butuh waktu untuk sendiri dan berfikir saat ini. Berfikir apa yang akan dilakukannya sekarang, setelah ia tahu ada kehidupan kecil dalam dirinya.
"Silahkan menemui resepsionis sebelum anda pulang, dan mengambil obat ke apotik, mengingat ini kehamilan pertama anda, saya ingin anda memeriksakannya sebulan sekali" pesan Alib kepada Vanessa. Vanessa pun hanya mengangguk mengiyakan pernyataan sang dokter setelahnya Vanessa melangkahkan kakinya pergi.
__ADS_1
Vanessa memasuki mobil lalu melaju melintasi jalanan kota Osaka, mobil murah yang ia beli dari gajinya selama mengajar disekolah taman kanak-kanak, dengan cara kredit tentunya, Vanessa saja memiliki mobil tanpa harus menyicil seperti itu, mengingat keluarga nya mampu, hanya saja setelah bekerja ia memilih keluar dari rumah, agar bisa mandiri, dan perlahan-lahan memenuhi kebutuhannya dengan hasil kerja sendiri.
Vanessa menghentikan mobilnya di depan jalanan kecil rumah sewaannya, ia memijat pelipis yang seakan berdenyut oleh beban berat dipikirannya, bagaimana jika teman-teman ditempat ia mengajar tahu tentang kehamilan ini, akankah ia masih diijinkan bekerja disana? Sementara ia sudah sangat mencintai pekerjaan itu.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku akan kehilangan pekerjaanku, setelah itu bagaimana?" ucapnya pada diri sendiri, ia mendongakkan kepalanya pada sandaran jok mobil, sesak, sulit bernafas itulah yang dirasakannya saat ini. Vanessa lalu mendorong pintu mobil dan melangkah menuju pintu rumahnya. Rumah itu tampak kecil dan terkesan tua, namun gadis itu menyukainya. Di sinilah ia akan hidup bersama si bayi yang akan menjadi keluarga baru baginya, bayi yang tak pernah terbayangkan akan berada di rahimnya. Dia akan mencintai bayi itu, dan bayi itu pun akan mencintainya.
Vanessa merebahkan diri di sofa dan menyangga kaki dengan bantal, hal itu terasa nyaman baginya, saat di sekolah tadi ia harus berdiri seharian, dan itu membuatnya lelah. Vanessa tersenyum sambil mengusap-usap perut yang mulai membuncit, orang-orang di tempatnya mengajar sudah tahu perihal kehamilan wanita bersurai indah itu.
Sudah 2 bulan setelah ia tahu bahwa dirinya sedang mengandung bayi dari pria yang tidak dikenalnya, namun itu tak mengurangi rasa cintanya pada si jabang bayi. Saat mengetahui dirinya hamil, dengan segera keesokan harinya Vanessa menceritakan masalah ini kepada kepala sekolah tempat ia mengajar, bahwa ia mengandung dan tak bersuami.
Ia menceritakan yang sejujurnya pada Vivian Yuhi yang menjabat sebagai kepala sekolah, dan Vanessa juga menjelaskan bahwa dirinya masih ingin bekerja disana. Memohon kepada kepala sekolah yang cantik itu untuk tidak memecatnya. Maka Vivian selaku kepala sekolah memberi kebijakan dan akan mengatakan kepada guru yang lain dan para siswa bahwa Vanessa telah menikah, namun suaminya pergi entah kemana.
Berbohong? Hal itu terpaksa mereka lakukan, terutama bagi Vivian yang menganggap bahwa Vanessa adalah guru yang bisa diandalkan di sekolah dan rasa sayangnya kepada gadis itu, ia telah menganggap Vanessa seperti anaknya sendiri, mengingat gadis itu begitu sopan, lembut dan bertanggungjawab dengan tugasnya. Dia tidak ingin gadis itu di depak dari yayasan tempatnya mengajar jika mereka mengetahui yang sebenarnya, mengingat Vanessa yang memiliki dedikasi tinggi terhadap pekerjaannya, tapi setelah Vivian menjelaskan kepada pihak yayasan dan Orang tua murid, syukurlah mereka tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Mengingat kinerja Vanessa yang memang bisa diandalkan disana. Vanessa sangat bersyukur dengan kebaikan Vivian.
"Ibu menyayangimu nak" bisiknya sambil tersenyum, sungguh ia tak ingin kehilangan bayi itu, walau ia tak mengenal ayah si jabang bayi. Keluarganya di panti belum tahu perihal kehamilan ini, bagaimana jika keluarganya tahu? Akankah ia diminta menggugurkan kandungannya? Membunuh buah hatinya?
Tidak!
__ADS_1
Ia tidak akan pernah melakukan itu.