Cinta Satu Malam Bersama Tuan. Adipati

Cinta Satu Malam Bersama Tuan. Adipati
kram


__ADS_3

Merasakan tubuh Vanessa yang kembali tegang, Candra tak mau mengambil resiko memancing amarah wanita itu lagi dan pertengkaran ketiga di mulai, jadi dengan segera ia bangkit sembari menarik tangan Vanessa berdiri lalu membawa wanita itu ke arah kamar tidur. Vanessa menurutinya tanpa membantah. Sejenak sebelum tidur, ia memutuskan ke kamar mandi dan membersihkan diri, lalu setelahnya ia menyiapkan pakaian yang akan dikenakannya esok hari untuk ke sekolah. Kemudian bersiap-siap tidur. Baru saja Vanessa bermaksud menyelimuti tubuhnya ketika Candra muncul,


"Aku membongkar isi koper ku besok saja, aku benar-benar sangat lelah." Ujar Candra sembari melangkah mendekati Vanessa


"Sepertinya kau kehabisan stok bahan makanan, bagaimana jika besok kita berbelanja ke kota? Ku rasa itu akan membuatmu rileks, kau terlalu lelah dan tertekan Vanessa." Sekali lagi Candra berujar sambil membelai lembut puncak kepala Vanessa yang sudah terbaring. Vanessa sontak terbangun, keadaan seperti ini mengingatkannya kembali pada malam itu di apartemen pria ini. Tetap seperti inilah posisinya ketika itu, bedanya saat ini ia sadar dan malam itu ia mabuk dan pasrah.


"Tidurlah," Candra menahan tubuh Vanessa agar tetap tertidur. Ia menyadari wanita itu tak nyaman dengan posisinya, maka dengan segera Candra menjauhkan diri dari tubuh Vanessa.


"Be... besok aku harus bekerja." Ucap Vanessa tergagap. Sentuhan tadi lagi-lagi membuat Vanessa tercekat dan menahan nafas.


"A... apa yang ka... kau lakukan Tuan Adipati?" tanya Vanessa dengan terkejut saat melihat apa yang dilakukan Candra di depannya. Pria itu melepas kaus biru yang dikenakannya.


"Aku Melepas kaos ku." Jawab Candra dengan santai lalu melempar kaosnya ke samping.


"Sekarang aku akan melepaskan celanaku." Ujar Candra lagi sambil membuka kancing celananya dan menurunkan resleting nya dengan pelan, lalu membiarkan celana itu melorot mencapai lantai, membukanya lalu memungutnya kembali dan menggantung di gantungan pakaian bersama kaus yang tadi dilepasnya. Setelah selesai, Candra membalikkan badannya menghadap Vanessa, ia benar-benar bersikap tidak peduli meskipun ia hanya mengenakan ****** ***** hitam ketat.


"Apa kau tidak kedinginan? Selimuti tubuh mu, Cepat!" ujar Candra ketika melangkah mendekati Vanessa.


Bagaimana dengan Vanessa? Lagi-lagi Candra sukses membuatnya merona hebat, tenggorokannya kembali tercekat, nafasnya tertahan, rasa panas menjalari wajahnya dan tubuhnya terasa tegang. Vanessa terlalu terkejut dengan tindakan Candra, sekarang ia hanya bisa menatap pria itu melangkah mendekati dirinya, sebelah tangannya menggenggam selimut yang entah mengapa membuat telapak tangannya tiba-tiba berkeringat sedangkan tangannya yang lain berada di depan dada, mencoba menenangkan degup jantungnya yang menghentak hebat.

__ADS_1


"Kau tampak menggiurkan dengan wajah seperti itu, Sayang." Ujar Candra, sambil menangkap pundaknya dan membiarkan matanya yang hitam pekat menikmati tubuh Vanessa dengan sorot penuh penghargaan.


Meski gaun tidur warna biru Vanessa sudah tidak baru lagi, Vanessa tetap menyukainya karena terasa nyaman jika dipakai. Gaun tanpa lengan dengan garis leher rendah itu menampakkan belahan dadanya, ia tak bermaksud menggoda Candra dengan pakaiannya itu, hanya saja ini baju yang terasa paling nyaman untuk dikenakan ketika perutnya sudah mulai membuncit karena gaun tersebut berpotongan cukup longgar. Selama ini Vanessa tak pernah menyadari betapa tipisnya gaun itu jika dikenakan, hingga saat ini dan ia mulai merasa jengah menyadari tubuhnya yang telanjang di balik gaun tidur itu. Apalagi karena Candra mengamati dirinya dengan cara yang sangat err- intim.


"****** mu juga berubah warna. Jadi lebih gelap ya? Aku suka perubahan itu." Ucap Candra, ia menyentuh satu puncak dada Vanessa yang sensitif, lalu menyentuh yang satu lagi. Vanessa diam, ia merasa seolah tidak memakai gaun tidur, karena sentuhan lembut Candra pada puncak dadanya terasa membakar kulitnya.


Candra baru akan memasukkan dirinya ke dalam selimut dan merebahkan diri, dengan segera Vanessa bangun dari tidurnya dan duduk,


"Ka... kau tak bermaksud ti... tidur di sini bersamaku kan Tuan Adipati?" tanya Vanessa dengan segera, ia bahkan nyaris tak sanggup bersuara karena sentuhan Candra tadi yang terasa familier di tubuhnya.


"Itu memang niatku, Vanessa." Jawab Candra santai, membuat Wajah Wanita itu memerah


"Ta... tapi itu ti... idak boleh." Lirih Vanessa, ia sungguh merasa gugup.


"Kenapa? Ka... kau bertanya kenapa? Karena i... itu tidak boleh, kau boleh menginap karena sudah larut malam. Tapi besok pagi kau harus pergi. Aku akan mencari jalan keluar untuk... ehh ..." ucap Vanessa terhenti, ia terlihat berfikir untuk mengeluarkan kata yang tepat.


"Masalah kita?" potong Candra dengan seringai nya.


"Ya, masalah kita." Ucap Vanessa balik, merasa kesal dengan sikap tenang Candra.

__ADS_1


Candra membuang muka, jenuh dengan tingkah Vanessa.


"Oh, Tuhan apakah semua wanita ketika hamil akan bertingkah menyebalkan seperti ini?" batin Candra dengan Frustasi


Candra turun dari tempat tidur, berdiri lalu menjambak rambutnya dengan frustasi, oh sudah cukup ia mencoba bersabar menghadapi tingkah Vanessa. Ia berbalik dan bertanya dengan nada kasar.


"Lalu menurutmu aku harus tidur di mana?" Tatapan Candra seakan menembus jantung Vanessa, tajam, sangat Tajam. sikap pria itu terkesan mengancam.


"Di kamar sebelah tidak ada tempat tidur dan aku juga tidak mau memaksakan tubuhku untuk tidur di sofa butut yang kau miliki itu, tinggi ku bahkan tak akan cukup di sana." Ujar Candra marah, matanya masih tetap mengintimidasi, menatap kearah Vanessa


"Se... seharusnya kau sudah memikirkannya sebelum kau ... agh!" erang Vanessa tiba-tiba sambil memegang bawah perutnya, membuat Candra seketika itu pula dilanda kepanikan


"Ada apa?, Ada Apa Ha? Vanessa apa yang terjadi?" ujar Candra ber hambur mendekati Vanessa saat mendapati wanita itu menahan sakit.


"Ti... tidak apa-apa, aku tidak apa-apa." Sahut Vanessa sambil membungkuk, pelan-pelan ia meluruskan tubuhnya kembali seperti posisi semua, sambil menggeser tangan sasuke yang berada di pundaknya.


"A...a aku hanya kram." Sahut Vanessa kembali dengan nafas tersengal, ia mencoba menenangkan dirinya dengan menghirup udara dan mengeluarkan nya dengan pelan-pelan.


"Memang kadang-kadang ini akan terjadi." lanjut Vanessa dengan suara lembut kala melihat tatapan mengintimidasi Candra menjadi tatapan khawatir.

__ADS_1


"Apa kau sudah memberi tahu dokter mu tentang hal ini?" Lanjut Candra lagi dengan nada yang syarat akan kekhawatiran.


"Dia bilang apa? Apa sekarang perut mu masih terasa sakit? Demi Tuhan Vanessa, jangan pernah menakut-nakuti ku seperti ini lagi." Ujar Candra dengan suara lembut lalu ia dengan hati-hati membelai puncak kepala Vanessa, membuat Wanita itu terbuai untuk sesaat


__ADS_2