
Well Vanessa mengakui, wanita mana yang tak terpesona oleh pesona sang Adipati? Hanya saja Vanessa merasa terlalu tidak percaya diri jika berada di dekat Candra.
"A... apa U... Tuan Adipati serius akan pindah kemari?"
"Apa aku terlihat berbohong, hm?"
"Ta... tapi ke... kenapa?"
Candra mengamati bentuk jari dan kuku Vanessa saat menjawab pertanyaan wanita itu dengan pelan.
"Aku ingin menemanimu melewati ini, melahirkan adalah peristiwa yang harus di jalani kedua orang tuanya, aku ingin melihat anakku lahir." Bisik Candra lembut.
Vanessa membasahi bibirnya, usapan jemari pria itu pada kulitnya menimbulkan sensasi aneh yang menjalar di sekujur tubuhnya. Kenangan tentang kejadian malam itu kembali menghantui Vanessa, meski ia tak menarik tangannya dari genggaman Candra, dibiarkannya pria itu menyentuhnya.
"Ji... jika aku setuju, ba... bagaimana mungkin Tuan Adipati akan tinggal disini sampai bayi ini lahir? Bukankah Anda memiliki kesibukan lain di Tokyo?" ucap Candra, sungguh ia penasaran kenapa pria ini mencarinya. Jika dia hanya menginginkan bayi, bukankah banyak wanita lain yang jauh lebih dari Vanessa akan dengan senang hati memberikannya anak?
"Sederet asistenku akan menyelesaikan pekerjaanku di sana, aku hanya tinggal memberikan rincian pada mereka, jika kau mau..." ucapan Candra terpotong oleh protes Vanessa.
"Tidak." Ucap Vanessa sambil menggelengkan kepalanya.
"Ka... kau pasti punya keluarga, teman, a...apa mereka tidak menanyakan mengapa kau pindah dan meninggalkan Tokyo?" tanya Vanessa lagi, masih banyak hal yang ingin di ketahui Vanessa dari Candra.
"Keluargaku cukup besar Vanessa, suatu saat nanti kau akan bertemu dengan mereka." Ucap Candra sambil memandang mata indah Vanessa. Sontak Vanessa merona, selain pandangan teduh Candra, yang membuat hatinya begitu senang adalah kata-kata pria itu barusan.
"Tentang teman, aku tak cukup banyak memiliki teman, ku rasa dengan sekilas melihatku kau pasti dapat menduga aku bagaimana, Vanessa." Jelas Candra lagi.
"Dan masalah yang lainnya..." ucapan Candra terpotong kembali oleh pertanyaan spontanitas dari Vanessa
"Wanita lain?" sungguh keberanian dari mana yang Vanessa miliki sehingga ia bisa mengucapkan pertanyaan itu. Tapi tak apa toh ia memang ingin tahu lebih banyak tentang Candra.
__ADS_1
"Aku belum pernah menikah, aku tak menjalin hubungan dengan wanita mana pun dan seperti yang pernah ku katakan, setelah bercinta denganmu aku bahkan tak pernah menyentuh wanita lain Vanessa." Jelas Candra, dia paham rasa ingin tahu Vanessa, mungkin dengan penjelasannya secara gamblang seperti ini akan memudahkan Vanessa untuk menerima kehadirannya.
"Bagaimana dengan keluargamu?" kini Vanessa yang bertanya kepada Vanessa.
"A...aku?"
"Iya kau." Ucap Candra sambil menatap wajah cantik Vanessa.
"Aku juga ingin tahu tentangmu." Lanjut Candra lagi.
"Aku Yatim Piatu, aku memiliki keluarga di Panti asuhan Keluargaku pun cukup besar, aku memilih keluar dari panti saat berumur 17 tahun untuk mandiri dan sekarang aku menjadi guru." Jelas Vanessa, sungguh ia tak ingin menceritakan apapun tentang dirinya.
"Apa kau memiliki kekasih?" tanya Candra dengan wajah sarkastis.
"Tidak." Jawab Vanessa jujur.
"Kenapa?" Candra mencoba menggoda Vanessa.
"Sudah ku katakan, setelah bercinta dengamu aku tak pernah lagi berhubungan dengan wanita lain." Jelas Candra mengulang ucapannya tadi.
"A... aku tidak percaya." Ucap Vanessa dengan rona merah di pipinya.
"Kau akan percaya sebentar lagi, Sayang." Ucap Candra dengan seringai nya
"Aku menginginkanmu Vanessa, dan aku menginginkan bayiku." Ucap Candra berbisik di telinga Vanessa dengan suara parau.
"Setelah kejadian itu, aku bisa saja mendekatimu pelan-pelan dan mengajakmu berkencan, tapi itu bukanlah diriku, aku akan tampak konyol jika melakukan itu. Selain itu sabar bukanlah salah satu sifatku Vanessa. Aku terbiasa mendapatkan hasil dengan cepat." lanjut Candra lagi, kali ini ia telah kembali pada posisinya semula.
Vanessa memandang Candra, kali ini ia membenarkan perkataan Candra, bisa saja ia dan Candra melakukan pendekatan pelan-pelan dan berkencan, lalu bagaimana jika masyarakat tahu, ia berkencan dengan seorang pria dalam keadaan hamil, itu akan lebih memperburuk keadaan. Baiklah kebohongan ini cukup menyelamatkannya.
__ADS_1
"Apa kau masih merasa tidak nyaman dengan keberadaan ku?" tanya Candra saat mendapati pandangi Vanessa yang dalam padanya.
"Ti... tidak," jawab Vanessa jujur.
"Apa kau masih jijik padaku?"
Vanessa menggeleng, ia tak jijik pada Candra, awalnya ia hanya jijik pada dirinya sendiri. Menyesali begitu ceroboh dirinya.
"Jika tidak, lalu apa yang menjadi masalahnya?" Candra bertanya kepada Vanessa, mengapa wanita itu begitu gigih mengusir Candra dari kehidupannya.
"Ki... kita belum Benar-benar saling mengenal..."
"Aku bahkan tahu setiap jengkal tubuhmu, Sayang." Well ucapan Candra kali ini lagi-lagi membuat Vanessa merona.
"Ki... kita be... belum saling mengenal dengan cara yang termasuk wajar," jelas Vanessa sambil menunduk. Helaian Rambutnya di dahinya menutupi wajah ayunya.
Candra meraih Vanessa dan membawa wanita itu ke dalam dekapannya, menekankan kepala Vanessa di dada bidangnya.
"Itu sebabnya aku di sini Vanessa, aku ingin kita saling mengenal, sebelum dia lahir." Ucap Candra lembut sambil mengusap perut buncit Vanessa.
Seketika tubuh Vanessa mengkerut secara defensif dalam dekapan Candra.
"Setiap kali aku menyentuhmu mengapa kau selalu tegang? Mengapa kau seolah menarik diri ketika ku belai Vanessa?" tanya Candra lembut.
Vanessa menelan ludah dengan susah payah, apa yang Candra katakan benar. Suara Vanessa tergagap dan ia berusaha terdengar marah, walau tak yakin itu akan berhasil.
"A...aku tidak terbiasa dengan keberadaan pria asing di sekitarku, pria yang datang tiba-tiba dalam hidupku, melakukan hal yang tak sepantasnya kami lakukan. Ba...bagaimana jika kau berada di posisiku?" tanya Vanessa kepada Candra.
Candra menangkup wajah Vanessa dengan kedua tangannya, menatap mata wanita itu yang sangat kontras dengan iris matanya. Mata Vanessa abu-abu keperakan sedangkan matanya hitam pekat. Entah bagi Candra menatap mata Vanessa sama menyenangkannya dengan menatap wajah lembut wanita itu. Namun yang terpenting Candra menemukan hal lain di sana, sebuah kebohongan.
__ADS_1
"Masih ada hal lain yang kau sembunyikan, pada malam kau di apartemenku aku merasakannya, kau merasa kesepian, kau merasa sendiri dan haus akan cinta, seolah ada kesedihan dalam dirimu, Vanessa Hudgens. Aku melihat itu dari matamu dan kau tak pandai berbohong." Ucap Candra lalu mengecup bibir Vanessa sekilas. Hanya sebuah sentuhan ringan di ujung bibirnya.
Vanessa sekali lagi tercekat, selain jago beradu mulut, Candra juga jago mengungkap kebohongan, Candra yang terlalu peka atau dirinya yang memang tidak jago berbohong? Vanessa membenarkan yang Candra katakan, ia sendiri, ia kesepian dan ia butuh seseorang.