
Ia melirik Vanessa melalu meja bar lalu dengan pelan menuangkan minuman itu ke dalam dua gelas minuman, sepertinya keadaan tadi tidak hanya membuat Vanessa panik tapi juga menguras tenaganya, Vanessa duduk bersimpuh di sofa dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
Dari semua kemungkinan yang terjadi, Candra menyelamatkan seorang gadis di dalam lift? Candra tersenyum kecut menyadari itu, mengingat ia selalu merasa terganggu dengan makhluk yang bernama wanita, walau tak jarang juga ia mengencani wanita-wanita itu.
Kembali ia menatap Vanessa, melihat gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki, ia menyelamatkan gadis yang sangat cantik tetapi tak berdaya sehingga dibopong ke apartemennya, dan sekarang nasib wanita itu berada di tangannya. Lalu ia melangkah mendekati sofa tempat Vanessa terduduk, tak akan ada yang mempercayai kejadian yang dialaminya.
Lalu apa yang harus dilakukannya, apa dia harus mencampakkan gadis itu di jalanan setelah kejadian listrik padam? Itu konyol, walaupun hatinya dingin tapi dia bukan orang yang bejat. Lalu apa yang harus dilakukannya pada gadis itu sekarang? Menghubungi seluruh penghuni apartemen dan mencari teman si gadis yang tadi dikunjunginya? Tidak entah kenapa alam bawah sadarnya tak mengijinkan ia untuk melakukan itu. Biarlah gadis itu di sini, setidaknya hingga ia benar-benar baikan.
"Ini minumlah" ucap Candra lalu mendekatkan bibir gelas ke bibir Vanessa yang tampak rapuh. Mata pucat gadis itu terbuka, kala merasakan rasa yang aneh dari minuman yang baru saja melewati tenggorokannya,
Candra dapat melihat raut kebingungan dari wajah Vanessa dan Candra sempat tersenyum samar ketika melihat Vanessa terbatuk-batuk dan nyaris tersedak. Sepertinya Vanessa bukan gadis Shopisticated, meskipun melihat dari blus sutra yang ia kenakan menyiratkan selera yang cukup tinggi.
"Lagi?" tanya Candra
Vanessa mengangguk dan membuat Candra tercengang saat ia meraih tangan Candra dan mendekatkan gelas itu ke bibirnya. Ia meneguk isi gelas itu hingga habis dan menyandarkan kepalanya pada bantalan sofa dan mendesah dalam-dalam. Tindakan Vanessa terkesan polos, meskipun lekuk payudara di balik blus yang ketat itu menggugah gairah Candra.
Setelah meletakkan gelas Vanessa diatas meja, Candra meminum minumannya sendiri. Mengingat keadaan wanita itu saat ini, rasanya tidak adil jika Candra menatapnya seperti itu, walaupun reaksinya saat ini bisa dibilang manusiawi.
Candra mengawasi Vanessa saat gadis itu terbaring di atas bantalan sofa. Dengan kepala mendongak keatas, leher lengkung yang tampak menggairahkan, mata separuh terpejam, serta bibir merah yang lembab setelah meminum minuman mahal. Pipinya yang chuby dihiasi rona merah yang menggoda, hidungnya yang mancung namun tidak besar dan bibirnya...
Ohhh Candra sebaiknya kamu tidak memandangnya lama-lama.
__ADS_1
Leher Vanessa yang jenjang memperlihatkan tulang selangkanya, sementara di pangkal lehernya yang putih, nampak denyut nadi yang sedikit cepat tapi teratur. Dada dibalik blus itu terkesan lembut dan mengundang, meskipun tertutup bra. Candra dapat melihat pola renda dan tali satin bra itu.
Pinggang Vanessa ramping dengan ukuran Dada yang errrr diatas rata-rata. Begitu juga dengan paha dan pinggulnya ya proporsional. Tangan Candra terasa gatal ingin menyentuh gadis itu. Candra menelusuri pandangannya dari kaki Vanessa hingga wajah gadis itu, mata Vanessa terbuka dan ia memandang kosong langit-langit apartemen Candra.
"A... aku tadi ti... tidak bisa bernafas" ucapnya masih dengan nada bergetar, lalu menggigit bibir bawahnya agar tidak bergetar.
"Tadi memang mengerikan tapi sekarang sudah berakhir" ucap Candra menyentuh kening Vanessa dan membelai rambutnya, mencoba meyakinkan gadis itu bahwa semua telah berakhir.
"Tadi itu sangat gelap" ucap Vanessa dengan suara lirih, lalu memejamkan matanya kembali.
"Kau tadi benar-benar ketakutan? Maafkan aku" ucap Candra menyadari ketakutan Vanessa yang bertambah saat ia mendekati Vanessa dan mencoba membuka kancing pakaian gadis itu. Lalu dengan segera ia merengkuh tubuh Vanessa dan memeluknya.
Tiba-tiba saja Vanessa bukan lagi terkesan seperti gadis lemah yang membutuhkan pertolongan Candra, melainkan gadis yang lembut dan feminim, dan terasa jauh lebih menyenangkan dibandingkan wanita-wanita lain yang pernah dipeluknya selama ini.
"Vanessaa" bisik Candra parau
Vanessa mengangkat kepalanya, mata pucatnya yang bagaikan bulan itu membelalak
"A... aku takut"
"Tenanglah, kau aman sekarang" ucap Candra tegas. Vanessa kelihatan puas lalu menyurukkan kepalanya pada leher Candra, saat bibirnya menyentuh kulit leher Candra, ia merasakan sensasi menjalar hingga ke pusat gairahnya.
__ADS_1
Tanpa disadarinya, Candra mulai menghujaninya dengan kecupan-kecupan ringan di rambut dan pipi Vanessa. Candra mengangkat dagu Vanessa lalu memberikan ciuman pada bibir gadis itu, ia dapat merasakan rasa alkohol yang tadi diminum Vanessa. Pertahanan Candra kini benar-benar runtuh.
Candra kini menekankan bibirnya di bibir Vanessa. Sesaat Candra merasakan tubuh Vanessa menegang, namun tak berapa lama menjadi rileks kembali, pelan-pelan lidah Candra menyelinap masuk dan bibir Vanessa merekah.
Pada awalnya Candra sedikit ragu, namun saat Vanessa mengerang, kendali dirinya lepas. Sembari menggeram pelan, Candra menjadi semakin agresif.
Secara otomatis lidahnya menguasai dan menjelajah ke seluruh rongga mulut Vanessa. Tangan Vanessa mencengkeram erat bagian depan kemeja Candra. kakinya meregang. Ia mengerang lirih. Ya Tuhan apakah saat ini ia sedang berada dalam alam mimpi yang sensual? Tangan Candra meraba bagian depan tubuh Vanessa, bermaksud melingkarkan lengannya ke tubuh gadis itu, dan mempererat pelukannya. Tapi Dada Vanessa itu tampak sangat menggoda sehingga ia mengurungkan niatnya dan malah membelai payudara itu dengan lembut.
Candra mengamati wajah Vanessa saat ia menyelinapkan tangannya kembali ke payudara Vanessa. Dengan perlahan dan lembut ia menangkup dan membelainya. Vanessa memejamkan mata dan mendesah panjang, sementara senyum kecil tersungging di bibirnya yang indah.
Candra semakin berani mengusapkan jemarinya dengan gerakan berputar di dekat puncak dada Vanessa. Candra bisa merasakan, meskipun hanya lewat blus dan bra, respon Vanessa terhadap sentuhannya.
"Vanessaaa" bisik Candra dengan suara berat sebelum ia menempelkan bibirnya di bibir Vanessa, ciuman Candra semakin dalam dan belaiannya semakin intensif.
Ia menjelajahi sekujur tubuh Vanessa, seluruh lekuk sambil menikmati gemericik bunyi pakaian mereka.
Posisi mereka di sofa membuat Candra merasa frustasi karena geraknya menjadi terbatas. Candra akhirnya bangkit dan membopong Vanessa ala bridal style saat itu Candra menyadari bahwa Vanessa mabuk, bukan dimabukkan.
Namun sesuatu di dalam tubuh Candra sudah tidak bisa di hentikan, Candra mengutuk kekonyolannya, sambil berharap agar nafsunya segera mereda.
"Sebaiknya kau beristirahat di kamar" Gumam Candra kepada dirinya sendiri
__ADS_1