Cinta Satu Malam Bersama Tuan. Adipati

Cinta Satu Malam Bersama Tuan. Adipati
Cekcok


__ADS_3

"Kau bilang itu bukan benihku, hm?" ucap Candra, sontak kata-kata Candra membuat wajah Vanessa merah


"Kau bahkan masih perawan pada malam kita bercinta, Amanda Vanessa Hudgens."


"Ini bukan bayimu" ucap Vanessa keras, ia benar-benar frustasi, bagaimana agar orang ini tak lagi mengusik hidupnya dan jabang bayinya.


"Kalau begitu, aku akan tinggal disini hingga bayi itu lahir, kita akan mengetahuinya dari bulan dan tanggal lahirnya" ucap Candra santai.


Vanessa tercekat, ia tak pandai berbohong, berdebat dengan pria ini pun ia pasti kalah, bahunya naik turun menahan emosi. Apa lagi yang harus dilakukannya agar pria ini pergi?.


"Ini anakku, dan aku berniat untuk mendapatkannya" ujar Candra,


"Ka... kau tak mungkin mendapatkannya" jawab Vanessa, ia tak akan melepaskan bayinya, walau nyawa taruhannya.


"Bisa saja" seringai licik muncul di sudut bibir Candra.


"Dengan cara seperti ini" ucap Candra, lalu mendekatkan hidungnya ke perut Vanessa, menciumnya dan membelainya dengan lembut. Vanessa sempat terbuai dengan perlakuan pria itu, namun dengan segera ia menyadarkan dirinya.


"Kau tak perlu sendiri Vanessa, aku akan menemanimu hingga bayi ini lahir, kita bisa bekerja sama bukan?" ucap Candra yang saat ia sudah menegakkan tubuh kekarnya tepat di hadapan Vanessa.


"A... apa maksud..." tanya Vanessa,


"Ya, aku akan menemanimu hingga bayi ini lahir, aku akan disini menjagamu dan bayi itu" jelas Candra saat melihat raut bingung di wajah cantik Vanessa. Sekali lagi ia mendekati Vanessa, menyentuh perut buncit wanita itu, ingin merasakan kehidupan yang ada di rahim si wanita cantik itu, tepat pada saat Candra menyentuhnya, si jabang bayi bergerak berupa sentakan kuat dan tiba-tiba.


"Si bayi?" tanya dengan senyum Candra sumringah, sejenak ia melupakan kemarahan, ego dan arogansinya.


"Y... ya," jawab Vanessa lirih. Ekspresi yang ditampakkan Candra membuat Vanessa tercekat, amarah dan frustasinya sejenak terlupakan, melihat wajah itu membuat Vanessa berkaca-kaca. Makhluk mungil yang ada akibat kebersamaan mereka beberapa waktu lalu telah menjadi pengikat diantara mereka.

__ADS_1


"Aku masih belum mempercayai ini" ucap Candra, ia lalu mengecup perut Vanessa, menangkup perut itu dengan tangannya dengan protektif. Tangan itu kini bergerak ke atas, menyentuh ***********, terus keatas hingga ke tulang lehernya, sekali lagi pemuda Adipati itu menggesek lekukan leher Vanessa, kali ini dengan bibirnya.


"Vanessa..." bisiknya di telinga Vanessa, dan Vanessa hanya bisa diam dengan perlakuan itu, entah ia tak bisa memprotesnya.


Candra menciumnya, ciuman kali ini terasa hangat dan lembut, meskipun ada unsur-unsur lain yang tersirat, gairah-gairah yang selama ini dipendamnya. Candra tidak peduli ketegangan yang mulai menjalari tubuh Vanessa, otot-ototnya yang mengencang dan upayanya untuk melepaskan diri dari pelukan itu, saat itu Candra semakin merapatkan bibirnya.


Akhirnya Candra melepaskan ciuman itu, dengan lembut menyibak rambut Vanessa yang menjuntai menutupi pipi yang kemerahan,


"Kau mau tidur siang atau berbelanja denganku?" tanya Candra.


"Be...berbelanja? Ke kota? U...untuk apa?" tanya Vanessa.


"Beli tempat tidur ukuran king-size. Bisa-bisa aku membuatmu terluka kalau kita tidur di tempat tidur sempit mu itu" ujar Candra santai, namun hal itu sukses membuat Vanessa merona merah dan tercekat.


Tiba-tiba Candra melepaskan pelukan dan sentuhannya dari tubuh Vanessa, ia tertawa, walau tidak terbahak, pria dingin yang jarang menampakkan ekspresinya ini, bisa tertawa di hadapan Vanessa.


Ohhh beruntungnya dirimu Vanessa Hudgens.


"Kau" jawab si pria dingin.


Vanessa mendengus lelah, bukan kesal, bagaimana bisa pria ini seenaknya menerobos masuk dalam kehidupannya? Demi Tuhan, ia sudah merasa nyaman selama ini menjalani kehidupan yang normal (menurutnya), walaupun masih ada kebohongan yang ia sembunyikan. Kebohongan kepada pihak sekolah, tetangga terutama kebohongan kepada semua orang. Baiklah untuk 6 bulan masa kehamilan dia masih bisa menyembunyikan itu semua dari semua orang, tapi bagaimana jika Teman-teman nya mengetahuinya? Jawaban apa yang harus ia berikan?


"Ka... kau tak bisa seenaknya menerobos masuk dalam kehidupanku!" ujar Vanessa masih tetap dengan pendiriannya.


"Terserah kau, aku akan tetap di sini," ucap Candra lalu menghampiri meja demi mengambil kunci mobilnya.


"Sebaiknya kau tidur siang, Vanessa. Mungkin Tidur bisa mengurangi kejengkelanmu saat aku kembali nanti." Tambah Candra santai, tak menggubris tatapan tajam Vanessa.

__ADS_1


"Kau mendengar apa yang aku katakan bukan, Tuan Adipati?" ucap Vanessa geram, sungguh dia tak habis fikir bagaimana bisa pria ini begitu keras kepala? Well mungkin mereka sama. Sama-sama keras kepala.


"Iya aku mendengarnya, lalu apa? Kau akan mengusirku? Tck, aku tidak mau." Candra melangkah melewati Vanessa, meraih mantel dan kunci yang terletak di atas meja.


"Aku akan membawa kunci cadangan, sehingga ketika aku kembali, aku tak perlu menggangu tidurmu."


Candra melangkah mendekati Vanessa, menatap lembut wajah wanita dihadapannya, Vanessa tampak mungil ketika berdiri berhadapan dengan tubuh kekarnya. Pandangan Candra kini tertuju pada bibir wanita itu, tak berniat membalas tatapan mata si wanita yang masih menatapnya tajam.


"Bibirmu tampak sangat sensual Vanessa," sebuah seringaian menyertai ucapan Candra. Perlahan ia mendekati telinga si wanita bermata bulan itu,


"Apa kau mengingat kejadian malam itu,hm?" tanya Candra bersamaan dengan seringaian jahilnya.


BLUUSSSHHH


Wajah Vanessa sontak memerah. Kenapa, kenapa dia harus diingatkan lagi dengan kejadian malam itu?


"Ti... Tidak" jawab Vanessa mencoba berbohong. Namun Candra tahu wanita di hadapannya tak pandai berbohong, wanita itu terlalu lugu dan rona merah di wajahnya telah mengungkapkan kebohongannya. Candra tersenyum simpul.


"Tentu saja kau ingat Vanessa Hudgens, aku pun masih mengingatnya, dan desahanmu..." Candra menghentikan sejenak ucapannya, menatap Vanessa dan menyeringai


"Aku tak akan melupakannya." Lanjut Candra.


Tubuh Vanessa kaku mendengarnya. Rasa malu, terkejut dan marah menyelimutinya, kejadian malam itu sejenak berkelebat dalam ingatannya. Dengan lembut Candra mendekap tubuh Vanessa, mencium puncak kepalanya.


"Aku pergi." Bisik Candra, lalu meninggalkan Vanessa yang masih berdiri mematung mengamati pria itu melangkah mendekati pintu.


Candra melihat Vanessa sebelum keluar dari rumah, membuka pintu lalu segera menutupnya kembali mencegah masuknya udara dingin.

__ADS_1


Vanessa masih berdiri di tengah-tengah ruangan, belum pernah ia merasa terpojok seperti ini, berhadapan dengan pria yang keras kepala seperti Candra.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" bisik Vanessa. Lalu mengusap wajahnya dengan tangan dan melenggang pergi menuju kamar. Air mata ketidakberdayaan mengaburkan pandangannya. Tubuhnya terasa tidak nyaman, lelah, berat dan tegang. Fisik dan emosionalnya benar-benar terkuras menghadapi pria asing itu.


__ADS_2