Cinta Satu Malam Bersama Tuan. Adipati

Cinta Satu Malam Bersama Tuan. Adipati
Datang


__ADS_3

Sampai matipun Vanessa akan melindungi bayinya. Dan Tiba-tiba suara cempreng anak kecil menyadarkan Vanessa.


"Aku mau pegang" ucap bocah yang berada di samping kanan Vanessa


"Gak, aku" sahut anak kecil yang dipanggil Gafar


Itulah yang selalu terjadi ketika jam istirahat berlangsung, bocah-bocah itu akan mengerumuninya dan berebut ingin menyentuh perutnya, mereka senang bahwa guru favorit mereka akan memiliki seorang bayi.


"Bayinya gerak!" teriak Gafar saat merasakan gerakan kecil di perut Vanessa


"Gak" sahut anak satunya yang juga tak mau kalah dan meletakkan tangannya di perut buncit Vanessa, lantaran ia tak bisa merasakan gerakan tersebut tadi karena sibuk memandangi Gavar karena merasa bocah itu mengganggunya.


"Iya, bayinya gerakkan kan Guru" tanya Gavar pada Vanessa sambil memandang mata bulan wanita bersurai indah itu


Dengan penuh kesabaran Vanessa menyingkirkan tangan-tangan kecil yang menyentuh perutnya


"Ya,bayinya bergerak Gafar, nah sekarang sudah waktunya kalian masuk kelas" ucap Vanessa dengan lembut pada bocah-bocah yang mengerumuninya.


"Selain itu, jam istirahat kalian juga sudah habis" lanjut Vanessa sambil memandu anak-anak kecil yang antusias ingin menyentuh perutnya itu ke kelas mereka masing-masing.


"Gak adil, aku kan belum pegang" protes seorang bocah dengan menggembungkan pipinya, hal itu membuat Vanessa tersenyum melihat tingkah konyolnya.


"Mungkin besok, kalian bisa melakukannya lagi" sahut Vanessa seraya menghitung jumlah mereka. Dan itu membuat si bocah kembali tersenyum

__ADS_1


"Benarkah?" tanyanya antusias, ia juga ingin merasakan gerakan dari bayi yang ada di perut gurunya


"Iya" jawab Vanessa tulus


"Aku juga mau pegang bayinya"


Vanessa membeku. Bagaimana ia bisa mengenal suara ini? enam bulan sudah berlalu sejak peristiwa itu, namun ia langsung tahu siapa yang saat ini berada di belakangnya dan membuatnya terkejut. Saat Vanessa mencoba menyakinkan diri dengan membalikkan tubuhnya, ia dapat melihat jelas sosok itu, pria itu menyeringai, lalu melangkah mendekati Vanessa. Tak lupa dengan gayanya yang arogan, setelah berada tepat di hadapan Vanessa ia berbisik


"Kau tampak cantik, Amanda Vanessa Hudgens!" lalu menangkup wajah Vanessa dengan telapak tangannya yang lebar, dan menciumnya.


Ciuman itu terasa hangat, spontan, dan agak kasar. Saat pria itu menjauhkan diri, matanya berbinar nakal bercampur senang melihat keterkejutan Vanessa. Sedangkan bocah-bocah yang tadinya akan digiring Vanessa ke kelas masing-masing, kini telah diambil alih oleh Jessie (Guru lain). Iya, gadis berambut coklat itu adalah rekan mengajar Vanessa, di kelas Kindergarten 2. Selain Nona Vivian (Kepala sekolah), Jessie juga mengetahui perihal kehamilan Vanessa di luar nikah, namun karena gadis itu memiliki rasa setia kawan yang tidak perlu diragukan maka ia lebih memilih menutup mulut dan selalu membantu serta mendukung Vanessa.


Kembali lagi pada cerita Vanessa dan pria arogan yang tiba-tiba datang dan menciumnya, pria itu pun akhirnya menurunkan tangan dari pipi Vanessa. Baru saja Vanessa akan memprotes, tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka


"Sepertinya anda berhasil menemukannya," ucap seorang pria berkumis. Pria itu adalah kepala personalia tempat Vanessa bekerja, tadi Candra menemuinya ketika ia tidak bisa bertemu dengan kepala sekolah untuk meminta ijin menemui Vanessa.


"Ya, betul" jawab Candra datar dan singkat seperti biasa, tak ada ekspresi apapun yang dapat terbaca dari wajah rupawan nya.


"A... ano... me... mengapa Tuan Adipati mencari saya?" tanya Vanessa kepada Candra dengan sangat formal, dan memberanikan diri menatap Candra. Ia baru saja mengetahui marga pria itu, saat Pria tadi menanyainya. Pria berkumis yang mendengar nada bertanya Vanessa agak mengerutkan alisnya.


"Apakah aku bisa berlagak seakan tidak mengenal atau mengingat pria ini? Ah... Tidak ada salahnya di coba!" Batin Vanessa.


Candra memandang Vanessa dengan tatapan tajam dan mengintimidasi,

__ADS_1


"Kau mau bersandiwara denganku Vanessa? Baik akan aku ladeni!" batin Candra Menyeringai


"Tenang, Vanessa" gumam Candra pelan dan lembut, lalu menyeringai licik, tentu saja itu tak terlihat oleh Pria berkumis yang tengah sibuk memandangi Vanessa dengan tingkah malunya.


"Tentu saja dia mencari mu Vanessa," ucap pria berkumis itu senang


"Suamimu tadi ke kantorku, saat tidak bisa bertemu dengan Vivian, ia menceritakan kepadaku bahwa kalian sudah rujuk kembali" tambah pria itu lagi sambil tersenyum lebar


"Su...su...suami?" tanya Vanessa tergagap, rona merah menjalari wajahnya yang putih, ia kaget mengapa bisa-bisanya pria ini mengaku suaminya?.


Pria itu tertawa melihat tingkah Vanessa yang terlihat lucu di matanya, dia sangat mengagumi gadis itu, dia lembut, baik dan bertanggungjawab.


"Hufh..." keluh pria itu


"Tidak perlu malu begitu Vanessa, aku mengerti kau sepertinya belum terbiasa dengan keberadaannya di sampingmu" ucapnya lagi sambil mengacak rambut indah Vanessa, Pria berkumis itu sudah menganggap Vanessa seperti anaknya sendiri sama halnya dengan Vivian, ia tahu wanita itu sendiri di kota ini. Tidak sulit memang untuk menyayangi Vanessa, mengingat sifatnya yang baik.


"Dia pasti akan terbiasa lagi," ucap Candra santai, sambil menatap Pria itu dengan pandangan tajam, melihat pria itu telah lancang menyentuh miliknya, ia marah. Oh miliknya? Iya setelah malam itu, Candra sudah menganggap Vanessa adalah miliknya, hanya miliknya.


Merasa tidak nyaman, Pria itu meminta ijin untuk kembali ke kantornya, ia memilih untuk memberikan privasi kepada dua sejoli yang sedang saling merindukan, setidaknya itulah yang ada di pikiran Pria berkumis itu.


"Ayo kita masuk, di luar berangin" kata Candra lalu menggandeng wanita di sampingnya untuk memasuki gedung, mengingat mereka tadi mengobrol di areal bermain anak yang terbuka, Vanessa terkejut diperlakukan seperti itu oleh Candra, andai saja pikirannya tidak sedang kacau, mungkin ia akan tertawa menanggapi sandiwara ini. Ingat ini hanya sandiwara Candra dan Vanessa.


"Sa... saya tidak tahu tipu muslihat apa yang sedang anda rencanakan Tuan Adipati, ta... tapi..." lirih Vanessa, namun saat ia akan melanjutkan ucapannya Candra menginterupsi

__ADS_1


"Sebaiknya kau ikuti saja sandiwara ini Vanessa, karena pria tadi tampaknya senang melihat kita bersama kembali" seringai nya yang memesona tampak tidak selaras dengan ketegangan yang mewarnai suaranya.


Vanessa hanya bisa menatap Candra, ingin rasanya ia menampakkan emosinya, menjambak rambut indahnya, meneriakkan kekesalannya pada pemuda yang membuat kekacauan di kehidupannya. Namun Vanessa telah belajar tentang pengendalian diri dan tata krama sejak kecil, orang di panti selalu menegaskan tentang hal itu.


__ADS_2