Cinta Satu Malam Bersama Tuan. Adipati

Cinta Satu Malam Bersama Tuan. Adipati
Rumah


__ADS_3

Bahwa seorang perempuan tidak hanya pintar dan cantik secara fisik namun juga dari perilaku. Jadi sekarang Vanessa hanya mampu memandang nanar Candra.


"Kau tidak bisa lolos dariku, Amanda Vanessa Hudgens" desis Candra, lalu mengaitkan jari-jari mereka, melangkah menuju kelas Vanessa, ia membiarkan Vanessa masuk kelas dan memilih menunggu Vanessa di lobi. Seorang Adipati bersedia menunggu? Wah itu kemajuan atau kemunduran?


S.K.I.P


Bel pulang berdentang, Vanessa merasa lelah luar biasa baik secara fisik, mental dan emosional.


"Mengapa pria itu berada di sini? Untuk apa dia mencari ku?" batin Vanessa, tak habis pikir dengan lamunannya, pria tampan itu kini malah berdiri di depan kelasnya.


"Sudah siap, sayang?" tiba-tiba suara maskulin itu mengejutkan Vanessa, sontak Vanessa memberikan pandangan tajam kepada pria yang kini berdiri di pintu dan akan melangkah masuk.


(ingat ini bagian dari sandiwara mereka).


"A... aku bukan sayangmu!" ucap Vanessa sambil menata beberapa kertas gambar hasil karya anak-anak yang telah diwarnai. Ia memilih menyibukkan diri dari pada meladeni pria tidak jelas yang menerobos masuk dalam kehidupannya.


"Keh, kau sok jual mahal, Hudgens" ucap Candra sinis ketika jaraknya dan Vanessa hanya beberapa langkah.


Sekarang Vanessa memutar tubuh dan menghadap pria itu untuk melampiaskan kekesalannya


"Ja...jangan bicara begitu, lagi pula untuk apa kau di sini? Ba... bagaimana kau bisa menemukan aku? Apa maumu? A... aku minta penjelasan!" ucap Vanessa sedikit berteriak, memberondong Candra dengan pertanyaan yang ada di kepalanya. Dia masih berusaha mengontrol suaranya agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi rekan-rekannya yang lain.

__ADS_1


"AKU JUGA VANESSA HUDGENS!" balas Candra galak, iya membentak Vanessa


Temperamen Candra yang mendadak berubah membuat Vanessa kaget dan terdiam. Iya, kini wanita bersurai indah itu memilih untuk diam dan menundukkan kepalanya, hampir saja ia meneteskan air mata karena bentakan itu, namun ia bukanlah wanita lemah, maka ditahannya mutiara itu agar tidak merosot melewati pipinya yang chubby.


Candra memandang wanita di hadapannya dengan tajam, menunggu wanita itu mengangkat wajah dan melontarkan emosinya kembali, namun tak juga ia dapati Vanessa melakukannya. Lalu Candra menyentuh dagu Vanessa, saat wajah mereka berhadapan, Candra dapat melihat setitik tumpahan air mata yang sempat lolos dari pelupuk mata Vanessa. Candra terkejut, ia tidak bermaksud membuat wanita itu merasa jengah. Sadar ia hanya akan membuat Vanessa tertekan, Candra memilih menggenggam tangan Vanessa dan mengajak wanita itu menyusuri lorong-lorong sekolah yang telah sepi menuju parkiran.


Begitu sampai di parkiran, Vanessa langsung beranjak ke pelataran parkir. Di sebelah mobil mungil rongsokan nya tampak mobil sport hitam yang mulus. Tidak perlu di ragukan lagi siapa pemiliknya.


"Saya tidak punya utang apa-apa kepada anda Tuan Adipati, juga tidak hutang penjelasan. Anda buang-buang waktu kemari, dan saya sangat berterima kasih kalau anda tidak mengganggu saya lagi" ucap Vanessa sambil membuka pintu mobil, kesan gagap dan pemalu sirna sudah dari dirinya. Sekarang hanya ada tatapan dengan sorot mata dingin.


"Aku akan menemui mu di rumah" ucap Candra santai sambil menyeringai, ia masih menatap Vanessa dengan pandangan yang sulit di artikan. Kini ia melangkah menuju mobil mewahnya, membuka pintu mobil, namun sebelum memasukkan tubuh kekarnya ke dalam ia berkata


Vanessa hanya bisa menggerutu dalam hati, bagaimana bisa pria itu menemukannya? Pria asing yang akan memporak porandakan hidupnya, lelah! ia benar-benar lelah, dengan langkah berat Vanessa memutuskan untuk masuk mobil dan segera meninggalkan bangunan sekolah yang megah itu, membayangkan berada di rumah sangat menyenangkan. Namun kembali ingatan Vanessa tertuju pada pria yang baru saja pergi meninggalkannya


"Ya Tuhan, apa lagi ini?" ujar Vanessa, bukan, ia bukan mengeluh, hanya saja mengapa masalah seolah tak pernah berhenti dari hidupnya.


"Mulai saat ini aku harus bersikap tegas, membuang semua ketakutan itu, demi aku dan bayiku!" gumam Vanessa, ia tidak memungkiri kehadiran pria itu yang tiba-tiba, bisa saja hanya untuk mengambil bayinya. Siapa yang bisa menjamin bahwa pria arogan itu akan bersikap baik padanya? Tadi saja ia sudah dibentak.


S.K.I.P


Candra telah memarkir mobilnya di halaman rumah Vanessa, ia berdiri di depan pintu dengan aksen kuno tersebut, Vanessa mengamati dengan kaget saat ia turun dari mobil. Keterkejutan si gadis cantik itu bertambah ketika pria itu merogoh kantong mantel dan mengeluarkan kunci lalu membuka pintu.

__ADS_1


"Da...dari mana kau mendapatkan...?" pertanyaan Vanessa terpotong oleh jawaban Candra


"Masuklah!" ucap pria itu, datar namun terkesan tidak mau di bantah


"Jawab aku Tuan Adipati, dari mana kau mendapatkannya?" ucap Vanessa, ia kesal, lelah, bahkan ia melupakan aksen gagap serta sopan santunnya, bisakah pria ini pergi dan tidak mengganggunya?.


"Tck" Candra mendecak kesal, ia melangkahkan kaki panjangnya untuk menjemput Vanessa yang hanya beberapa langkah dari dirinya.


"Aku sudah menduga pasti akan ada keributan" ucap Candra sambil menarik tangan Vanessa, lebih tepatnya menyeret, namun Vanessa masih tetap kukuh dengan pendiriannya, ia tidak akan masuk jika pria tidak jelas itu juga ikut masuk.


Kini Candra memandang tajam Vanessa, seolah hanya dengan pandangannya saja sudah bisa membunuh wanita itu.


"Masuk dengan kepala dingin dan melewati pintu sialan itu, atau aku akan mengendong mu dengan cara paksa Nona Vanessa Hudgens?" pertanyaan yang dilontarkan Candra layaknya buah simalakama bagi Vanessa, tidak ada yang bisa dipilih.


Setelah mempertimbangkan baik buruknya, Vanessa memilih masuk, melangkah melewati pintu, tanpa harus di gendong. Vanessa membelalakkan mata, saat melihat kejutan yang diberikan pria itu padanya. Tampak dua koper besar di tengah-tengah ruang tamunya, sepotong jas segala musim tergantung di gantungan mantel, dan sebuah tas kerja tergeletak di atas meja. Dengan tubuh bergetar menahan emosi Vanessa membalikkan tubuhnya


"A... angkat barang-barang mu dan pergi dari rumahku." Usir Vanessa


"Rumah ku!" ralat Candra, ia lalu merogoh saku dan mengeluarkan selembar kwitansi, melambai-lambaikan nya di depan wajah Vanessa. Saat melihatnya sontak wajah Vanessa memerah dan pucat.


"Kontrak sewamu hanya berlaku setahun Vanessa, lagi pula masa sewamu akan habis bulan depan. Aku sudah membayar sewa bulan ini, menandatangani sewa baru, dan membayar lunas di muka. " Ujar Candra sambil memandang Vanessa yang mencoba mengontrol emosinya.

__ADS_1


__ADS_2