
Vanessa merasakan sesuatu terhempas dan terjatuh saat mendengar gemericik lembut pakaian di lantai lift, seolah menyadari rasa penasaran Vanessa pemuda itu berkata
"Aku baru saja melepas jaketku. Kau juga sebaiknya melakukannya, agar tidak sesak" Ujar pemuda itu menatap kearah Vanessa
"..." Gadis itu masih saja terdiam tidak merespon perkataan pemuda yang ada di hadapannya.
"Butuh bantuan?" tanya pemuda itu mencoba mempertahankan sikap sabarnya padahal ia sendiripun merasakan kepanikan dan emosi sebenarnya namun demi gadis yang tidak dikenalnya ini ia mencoba tenang dan tidak memperkeruh keadaan. Jika gadis itu pingsan maka keadaan bisa lebih sulit.
Vanessa masih saja diam, akhirnya pemuda yang tidak sabaran ini maju selangkah mendekati Vanessa, mengangkat tangannya dan menyentuh tubuh Vanessa yang tegang.
"Semua akan baik-baik saja" ucapnya sambil meremas pundak Vanessa, lalu melangkah mendekat
"Ma... mau apa kau?" tanya Vanessa tergagap, ia takut dengan kegelapan ia juga takut kepada pemuda itu, takut jika pemuda itu berlaku kurang ajar kepadanya.
"Membantu melepaskan blazer mu, jika tidak kau akan kepanasan dan semakin sulit bernafas" ucap pemuda itu menjelaskan, ia menyadari ketakutan Vanessa kepadanya, ia tak ingin niat baiknya diartikan buruk oleh orang yang ingin ditolongnya.
"Siapa namamu?" tanyanya mencoba mencairkan suasana agar si gadis bisa lebih tenang
"Va Vanessa" dengan segera Vanessa menjawabnya.
"Nama yang bagus, mungkin sebaiknya kau juga membuka beberapa kancing blus mu, menurutku blus itu membuatmu gerah" kata pemuda itu
"Kau bukan orang Tokyo?" kata pemuda itu santai, sambil mencoba melepaskan kancing mutiara dan menggulung lengan blus Vanessa.
"Bukan, aku sedang berkunjung kemari selama seminggu. Aku akan pulang besok pagi" ujar Vanessa, ia telah merasa sedikit baikan. Hanya sedikit.
"Kau sedang mengunjungi seseorang yang tinggal di gedung ini?"
__ADS_1
"Ya, teman sekamarku waktu kuliah dan suaminya."
"Nah sudah merasa lebih baik?" tanya pemuda itu saat ia telah selesai merapikan blus Vanessa, demi membuat gadis itu merasa nyaman.
Tiba-tiba lampu berkedip-kedip lalu menyala, roda-roda gigi lift mulai bergerak dan setelah itu meluncur ke bawah. Kedua orang asing itu saling memandang dalam jarak yang sangat dekat. Mata mereka sama-sama menyipit.
Wajah Vanessa tampak pucat. Melihat wajah itu, pemuda yang berada di hadapan Vanessa merasa khawatir, walau hal itu tak tampak di wajah tampannya. Namun terlihat dari sorot matanya yang melembut.
Pemuda itu menyeringai jahil, pemuda itu menyentuh bahu Vanessa. Vanessa tampak seakan nyaris kehilangan kendali dirinya, ia terlonjak kaget.
"Tenanglah, semua sudah kembali normal" ucap pemuda itu.
Bukannya memberi jarak pada dirinya dengan pemuda itu atau mengucapkan terima kasih tapi Vanessa malah pelan-pelan roboh ke pelukan pemuda itu. Mencengkram kuat-kuat bagian depan kemeja pemuda itu dengan tangannya yang lembab oleh keringat, dan menangis di dadanya.
Pemuda itu bisa merasakan tubuh Vanessa bergetar dan ia hanya mengelus punggung Vanessa untuk menenangkan gadis itu.
Mereka sampai di lobi dengan mulus. Pintu lift terbuka. Pemuda itu dapat melihat sesosok pria dengan rambut silver dan gigi runcing di depan pintu lift, sepertinya orang itu akan menuju apartemennya, saat melihat seseorang yang dikenalnya akan keluar dari lift laki-laki berjenggot itu dengan segera menghampiri tuannya.
Candra Anom Adipati.
"Aku baik-baik saja!" ucap pemuda yang tadi di panggil Candra oleh pria berjenggot itu.
"Anda tadi di dalam lift saat ..." belum selesai pertanyaannya tiba-tiba Candra langsung memotong ucapannya
"Ya, tapi aku baik-baik saja" jawab Candra menyadari apa yang akan ditanyakan anak buahnya. Kini mata anak buahnya melihat gadis yang berdiri lemah disamping tuannya, Candra enggan memberikan penjelasan, maka dengan segera ia mengalihkan pembicaraan
__ADS_1
"Katakan pada Ayah ku besok aku akan menemuinya"
"Tapi beliau menunggu anda sekarang Tuan Candra" kata anak buahnya mengingatkan Candra bahwa perintah ayahnya tidak bisa diabaikan.
"Katakan saja aku sedang tidak enak badan, besok akan ku temui Ayah di kantornya" seperti tidak ingin di bantah lagi dengan segera Candra memencet tombol agar pintu lift segera tertutup. Ia memilih kembali ke apartemennya,
mengingat keadaan gadis yang sekarang berada di pelukannya. Tak mungkin ia meninggalkan gadis itu dalam keadaan rapuh tanpa perlindungan seperti itu.
Lift membawa mereka menuju lantai 22, setelah terdengar suara ting sebagai pertanda mereka tiba, dengan segera pintu lift terbuka dan menampakan koridor apartemen Candra.
Candra menahan tubuh Vanessa dengan sebelah tangannya, lalu tangan yang satunya sibuk memunguti jaket, blazer serta tas jinjing Vanessa. Kemudian ia membopong tubuh Vanessa dan berjalan menyusuri koridor hingga mencapai apartemennya yang terletak di ujung, lalu dengan hati-hati meletakkan Vanessa dengan posisi berdiri.
Lalu ia merogoh saku celana panjangnya dan mengeluarkan kunci, memasukkan kunci itu ke lubangnya dan pintu apartemen terbuka lebar.
Candra sekali lagi menggendong tubuh Vanessa, melangkah masuk dan merebahkan Vanessa di sofa yang sangat empuk. Saat Candra berbalik untuk pergi, Vanessa mengangkat tangannya seolah ia tak ingin ditinggal pergi oleh pemuda itu, mengerti dengan ketakutan Vanessa Candra pun berbisik
"Sebentar, aku akan segera kembali". Lalu buru-buru menuju pintu dan menekan sederetan nomor untuk mematikan sistem alarm, yang secara otomatis akan menyala dalam jangka waktu 15 detik jika ada orang lain memasuki apartemen itu.
Setelah itu ia segera menutup dan mengunci pintu apartemennya lalu menyalakan lampu sebagai penerangan serta mengatur intensitas cahayanya. Dengan tiga langkah panjang Candra menyebrangi ruangan itu lalu berlutut di depan sofa.
"Vanessa?" panggilnya memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja walaupun keadaannya masih labil sekarang, mendengar namanya dipanggil Vanessa membuka matanya perlahan, Vanessa melihat Candra dengan pandangan kosong, dua butir air mata mengaliri pipinya yang putih seputih pualam,
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Candra saat menyadari Vanessa merespon panggilannya
"A... aku tahu ini konyol, ta... tapi aku benar-benar takut" ucap Vanessa sesenggukan
"Sudah, kau sudah aman" ucap Candra mencoba menenangkan Vanessa. Kini pemuda itu duduk di samping Vanessa ia merengkuh tubuh Vanessa menempelkan wajah Vanessa di lehernya dan membelai lembut rambutnya.
__ADS_1
Lalu mengusap lembut punggung Vanessa, meyakinkan kepada gadis itu bahwa ia telah benar-benar aman. Candra lalu melepaskan pelukannya lalu berkata
"Sepertinya kau stres, kau butuh sesuatu yang menenangkan dirimu!" ucap Candra lalu berjalan meninggalkan Vanessa, menuju meja bar nya. Ia pun tegang menghadapi keadaan tadi, dan ia pun membutuhkan minuman itu untuk menenangkan dirinya untuk saat ini.