Cinta Satu Malam Bersama Tuan. Adipati

Cinta Satu Malam Bersama Tuan. Adipati
Sebuah kesalahan


__ADS_3

"Aku mengenalnya Tuan Adipati, Dr. Anjas tak akan memberitahukan hal itu kepada siapapun tanpa seijin ku." Ucap Vanessa dalam isakan nya.


"Tck," Candra berdecak kesal.


"Ternyata kau pintar Vanessa Hudgens." Puji Candra dengan seringai nya.


"Ja...jadi dari ma...mana kau memperoleh informasi?" tanya Vanessa penasaran masih dengan nada terisak.


"Dari perawatnya." Akhirnya Candra mengakuinya, percuma membohongi Vanessa.


Vanessa mengakui hal itu, Candra memiliki kemampuan merayu Wanita. Candra pasti telah merayu si perawat itu hingga bersedia membocorkan kondisi Vanessa kepada Candra.


Vanessa menautkan alis


"A...apa kau yang membayar rekening dokter ku?" tanya Vanessa pada Candra.


Candra hanya mengangkat sebelah sudut bibirnya


"Seperti yang dilakukan suami kepada istrinya yang sedang hamil." Jawab Candra tak memperdulikan ekspresi Vanessa yang tiba-tiba tampak sengit.


"Tapi kau bukan suamiku Tuan Adipati, kau bukan siapa-siapaku, aku berbohong hanya untuk melindungi diriku. Mengapa kau tiba-tiba muncul dan mengganggu hidupku?" ucap Vanessa sengit, lalu membenamkan wajahnya ke dalam tangannya, ia menangis. Bahkan aksen gagap pun jauh darinya.


Entah mengapa Candra merasa bersalah, ia melangkah mendekati kursi Vanessa dan berlutut di sana


"Jangan menangis Vanessa." Ucapnya lembut, lalu membelai puncak kepala Vanessa.


Vanessa masih terisak, ia lelah kembali menghinggapi dirinya, tidakkah bisa pria ini enyah dan membiarkannya tenang bersama buah hatinya?


"A...apa yang kau harapkan dariku Tuan Adipati? A...aku tak pernah berharap akan bertemu denganmu lagi." Ucap Vanessa setelah ia mengangkat wajah dan menatap Candra dengan mata indah nya, walau kabur oleh air mata.


"Jika aku menginginkan bayimu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Candra. Oh pria ini, kadang merayu dan kadang memancing amarah Vanessa.


"Tak akan ku biarkan kamu mengambil nya, dia juga milikku." Ucap Vanessa sambil menatap tajam Candra dan menangkup perutnya dalam dekapan tangannya, mencoba melindungi bayinya.

__ADS_1


"Lalu jika ku katakan, aku ingin menjadi pendampingmu, apa yang akan kau lalukan?" Tanya Candra membuat Vanessa terdiam, panas menjalari wajahnya sukses membuat pipinya merona, berusaha keras ia menutupi agar tak terlihat oleh Candra.


"A...aku ti...tidak membutuhkanmu." Ucap Vanessa tergagap. Suaranya tercekat, sungguh ini efek dari tenggorokannya yang tiba-tiba kering, mendengar ucapan dari pria itu membuat tenggorokannya kering seketika.


"Sepertinya malam itu kau tidak berpendapat begitu, pada malam listrik padam." Ucap Candra dengan seringai jahilnya, ia sadar ia sukses menggoda Vanessa dan ia senang mendapati wanita itu merona.


"Wa...waktu itu a...aku tak punya pilihan." Ucap Vanessa mencoba membela diri.


"Kau punya pilihan Vanessa." Ucap Candra mantap, Vanessa mengangkat wajahnya dan menatap manik obsidian Candra.


"Aku sudah memberimu banyak pilihan Amanda Vanessa Hudgens, aku berusaha agar tidak menyentuhmu, tapi demi Tuhan aku adalah pria normal, dan aku menangkap kau menerima ajakanku." Jelas Candra.


"Ma...malam itu aku habis minum-minum bersama sahabatku dan suaminya, aku tak bisa menolak, jadi sedikit aku mencobanya, hanya untuk menghargai jamuan mereka. Sahabatku bilang, minum sedikit tak akan membuatku mabuk." Jelas Vanessa dan sepintas ia mengingat kembali kejadian malam itu.


"Aku tidak tahu hal itu, dan aku pun tak tahu bahwa malam itu kau masih perawan."


Vanessa menatap Candra dengan tatapan tajam.


"A...apa setelahnya kau bangga menceritakan hal itu kepada teman-temanmu?" tanya Vanessa dengan sikap defensif.


"Menurutku kepolosanmu benar-benar memikat." Tambah Candra ketika amarahnya mulai mereda.


"I...itu aneh, Tuan Adipati, aku tak sama dengan wanita-wanita sophisticated yang pernah tidur denganmu sebelumnya." Ucap Vanessa lirih.


"Memang" jawab Candra tegas membenarkan ucapan Vanessa.


Entah mengapa hati Vanessa sedikit perih ketika Candra membenarkan pernyataannya? Vanessa berharap Candra membantah pernyataan itu, yang mengatakan bahwa ia pernah tidur dengan banyak wanita sebelumnya.


"Mengapa kau pergi pagi itu, bahkan ketika kita belum sempat bicara Vanessa?" nada suara Candra melembut.


"A... aku tak butuh bicara, aku tak ingin apa-apa darimu, aku tak ingin mengenalmu, aku hanya ingin pergi dan melupakan segalanya. Awalnya A... aku mengira tidak akan ha... hamil," ucapan Vanessa terhenti, wanita itu menghela nafas lalu melanjutkan lagi ucapannya


"Karena dokter pernah memvonis aku mandul. Tapi kita memang harus menanggung segala kesalahan yang pernah kita perbuat." Jelas Vanessa lagi.

__ADS_1


Sejenak Candra geram mendengar penjelasan Vanessa.


"Kau menganggap ini sebuah kesalahan?" tanya Candra ketus.


"Ya!" jawab Vanessa tegas.


"Awalnya hidupku berjalan normal dan teratur, aku tak pernah mengharapkan apapun dari siapa pun, lalu sekarang lihat hidupku yang mulai berantakan ini. Bagaimana jika keluargaku tahu?" air mata kembali merebak membasahi pipinya.


"Jadi hidupmu yang berantakan kau asosiasi kan kepada ku?" tanya Candra tak kalah geram, ia marah Vanessa menyalahkannya.


Ok, pertengkaran kedua malam ini sukses, membuat Candra benar-benar frustasi, emosi Vanessa begitu mudah terpancing, yang dia tahu Vanessa adalah gadis lemah lembut, sopan dan pemalu walau tak dapat ia pungkiri wanita itu amat kukuh dan keras kepala. Apakah ini efek dari wanita hamil? Membuat Vanessa stress hanya akan membuat buruk kondisi psikologis Vanessa dan si jabang bayi.


Candra berfikir kali ini tak ada salahnya jika ia mengalah, bukankah kondisi Vanessa dan si bayi lebih penting daripada egonya?


Candra berjongkok di dekat kursi Vanessa, membelai rambutnya dan menghapus air mata dari pipinya.


"Ja... jangan ganggu a... aku Tuan Adipati"ujar Vanessa terisak.


"A... aku tak sanggup melawan mu baik secara fisik maupun adu argumen, aku lelah, aku lelah dengan keadaan ini." Lanjut Vanessa tanpa mau menatap Candra.


"Untuk saat ini kau hanya perlu memakan makan malammu Vanessa." Sahut Candra tak menanggapi ucapan Vanessa.


"A...aku ti...tidak lapar." Ujar Vanessa dan mencoba menjauhkan tangan Candra dari rambutnya.


"Tentu saja kau lapar." Ucap Candra lalu mendekatkan piring Vanessa.


S.K.I.P


Vanessa sedang duduk meringkuk di pojok sofa, menerawang sembari menghirup secangkir ocha herbal, sedangkan Candra duduk telentang di sofa sambil menyelonjorkan kakinya yang panjang. Tanpa perasaan risih, ia meraih jemari Vanessa.


"Kau kelihatan cantik di bawah cahaya lampu, Vanessa." Ucap Candra sambil mendekatkan jemari Vanessa ke bibirnya dan memberikan kecupan singkat di punggung tangan Vanessa.


Vanessa menghela nafas karena perlakukan Candra, ia tak berdaya, sejenak Hinata memandang Candra penuh selidik.

__ADS_1


"Kau terpesona padaku, hm?" tanya Candra dengan wajah tak berdosanya.


__ADS_2