
Vanessa mengganti pakaiannya dengan pakaian longgar dan menyamankan diri di atas kasur, ia bermaksud beristirahat sebentar. Berharap tidur bisa mengurangi bebannya, setelah itu ia akan mengangkut barang-barang di ruang tamu itu keluar dari rumah dan mengunci pintu pagar jika perlu.
S.K.I.P
"Bagaimana kau bisa tidur ketika terjadi kesibukan seperti ini di rumah, hm?" bisik seseorang di telinga Vanessa. Suara dalam dan lembut itu membangunkan Vanessa dari tidurnya yang lelap.
"Huum?" ucap Vanessa sambil membuka setengah matanya, lelah dan kantuk masih menghinggapi dirinya.
"Sepertinya dia sedang mengamuk. Menuntut jatah makan malam, walaupun kau sendiri belum lapar." Ujar Candra sambil mengelus perut Vanessa.
Vanessa mengernyitkan dahi
"Hm makan malam?" tanya Vanessa setengah sadar, menggeliat dan berguling terlentang.
Kemudian ia tersentak, dan mata indahnya terbuka lebar.
Candra sedang berjongkok di samping tempat tidur. Walau pun tubuh Vanessa tertutup selimut, tangan Candra berada di baliknya, menyingkap sedikit pakaian Vanessa hingga tangannya mengelus perut telanjang Vanessa.
"Ka... kau sedang a... apa?" tanya Vanessa tergagap dan parau, tenggorokannya terasa kering dan pikirannya kacau karena baru terjaga dari tidur, sebenarnya yang sangat membuat Vanessa kacau adalah pria itu, pria yang tengah meraba perut telanjangnya. Rona merah kembali menghiasi wajah sayu Vanessa.
Candra suka melihat perubahan rona wajah Vanessa, apalagi itu karena dirinya, ia menyeringai dan mendekatkan wajahnya ke telinga Vanessa
"Aku mengagumi keajaiban ini." Bisiknya dan rabaan itu terasa menenangkan di tubuh Vanessa yang tegang.
"Apa yang sedang dilakukannya di dalam sana?" ekspresi Candra dan nadanya terasa menyiratkan kebahagiaan.
__ADS_1
Sejenak Vanessa terharu menyaksikan luapan suka cita pria itu terhadap keberadaan si jabang bayi. Tanpa terasa tangan pria itu telah menyingkap selimut dan pakaian yang dikenakan Vanessa. Membelai lembut perut buncit itu, lalu perlahan-lahan jemari panjang dan kokoh itu merambat naik dan berhenti pada belahan dada Vanessa yang tak mengenakan bra, sontak dengan segera Vanessa meraih selimut ingin menutupi bagian tubuhnya yang berbuka.
"Biarkan aku melihatmu." Ucap Candra dengan nada suara dan pandangan memohon.
Vanessa tertegun, ia merasa terhipnotis oleh pandangan mata itu, dibiarkannya jemari itu menelusuri dadanya. Jangan tanyakan bagaimana wajah Vanessa yang telah berubah warna seperti buah kesukaan Candra.
Apel merah.
"Memesona" bisik Candra parau, sementara jarinya masih sibuk berkelana di bagian dada Vanessa. Sentuhan itu terasa ringan namun sangat menggetarkan dan menjalari sekujur tubuh Vanessa. Sambil menggigit bibir bawah Vanessa mencoba menahan erangan nikmat yang hampir lolos dari bibirnya. Tubuhnya menegang saat melihat Candra bangkit dan mencondongkan tubuh demi mencium lembut lekuk di antara *********** yang ranum dan hangat.
Saat pandangan mereka bertemu, mata Vanessa tampak berkaca-kaca.
"Kau sudah siap makan malam, Vanessa?" tanya Candra lembut sambil mengelus puncak kepala Vanessa.
"Makanannya sudah siap." Lanjut Candra.
"Ka... kau keluarlah dulu, na...nanti aku akan menyusul mu." Ucap Vanessa tergagap, sungguh Vanessa terhanyut oleh sentuhan lembut itu.
"Baiklah," ucap Candra santai, namun dengan pandangan sayu, sebenarnya ia belum ingin mengakhiri sentuhan itu, tapi ia tak boleh egois, Vanessa terutama si jabang bayi butuh makan.
Begitu Candra keluar, Vanessa segera menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya di wastafel. Air hangat yang menerpa wajahnya sukses mengusir kantuk dari matanya, berkumur lalu menyisir sedikit rambutnya yang agak kusut karena tidurnya. Setelah merasa penampilannya cukup layak, ia melangkah ke dapur.
"Tu tuan Adipati." panggil Vanessa,
"Demi Tuhan Vanessa, hentikanlah," potong Candra saat menyadari apa yang ingin di katakan oleh Vanessa, hah dia tahu wanita di hadapannya itu lembut namun sama keras kepalanya dengan dirinya. Untuk kali ini saja bisakah Vanessa berhenti mengajaknya ribut.
__ADS_1
"Aku tak bisa mengajakmu berdebat dengan perut kosong Vanessa, dan kau punya dua perut kosong yang harus diisi, perutmu sendiri dan perut bayi itu." Ucap Candra dingin, lalu menghadap Vanessa dan menuntun wanita itu duduk di kursi tepat berhadapan dengannya.
"Ta...tapi aku ingin bicara denganmu," ucap Vanessa mencoba melawan.
"Jangan buat aku mengulangi ucapanku Vanessa, aku sudah bilang aku tak ingin berdebat. Jadi sebaiknya sekarang lekas duduk." Ucap Candra sambil menuding kursi dengan gaya otoriternya.
Vanessa tak bergeming, ia tetap berdiri dan menatap wajah Candra, sebenarnya ia ingin tertawa, entah mengapa pria berwajah stoick ini begitu banyak bicara layaknya perempuan. Sedangkan Candra, ia menahan geram, jika kata-kata tak bisa membuat Vanessa menurut maka tindakan adalah jalan lain yang di tempuh sang Adipati. Maka dengan satu langkah panjang ia maju, mendekati Vanessa, menghimpit tubuh buncit Vanessa di antara tubuh kekarnya dan kursi di belakang Vanessa.
"Dan sekarang..." ucap Candra
"Ba...baiklah," jawab Vanessa memotong perkataan Candra, lalu dengan terburu-buru ia menjatuhkan diri ke kursi. Ia tahu apa yang akan Candra lakukan jika kali ini ia membantahnya. Bukan tidak mungkin apa yang terjadi di kamar tadi bisa terulang kembali di meja makan. Ah bukankah itu sama saja dengan menyerahkan diri.
"Aku telah menemui Dr. Anjas, dia bilang keadaanmu dan bayimu baik-baik saja." Jelas Candra saat mulai menikmati makanan yang tersaji di atas meja. Ok, mungkin untuk malam ini mereka harus puas hanya dengan menu masakan instan yang tadi di beli Candra. Terlalu lelah dan lama jika harus memasak, terlebih lagi ia tak ingin merepotkan Vanessa.
Vanessa yang mendengar ucapan Candra menghentikan kegiatannya, baru saja ia akan memasukkan makanan itu ke mulutnya, pelan ia menurunkan tangan dan meletakkan peralatan makannya di atas piring, lalu menautkan jemari di pangkuannya.
"Ka...Kau bicara dengan Dr. Anjas?" tanya Vanessa tegang.
"Te...tentang aku?" lanjutnya kembali.
"Ya," jawab Candra tegas.
"Kau...kau jahat" ucap Vanessa setengah berteriak, semua kehangatan yang mulai di rasakannya lenyap seketika, dan sekarang perasaan dingin menyelimuti hatinya karena merasa dilecehkan.
"U...untuk apa dia mendiskusikan pasiennya dengan orang asing?" tanya Vanessa walau tak menuntut jawaban, ia merasakan air matanya kini mulai mengalir di pipi putihnya.
__ADS_1
"Aku mengatakan seperti yang kau katakan kepada semua orang, bahwa aku adalah suamimu, walau kita hidup berpisah, kau sedang mengandung anakku dan aku ingin tahu keadaanmu." Jelas Candra.