
"Sekarang kau punya hak mengusirku sampai bulan depan, tapi waktu aku mengecek, kau sudah menunggak dua bulan, jadi aku melunasinya. Termasuk telepon, air dan listrik, menurutku semua itu menjadikan aku berhak berada di sini selama sebulan,jadi aku tidak akan pergi" sambung Candra lagi tidak lupa dengan seringai kemenangan.
Vanessa kesal, benar-benar kesal mendengar penjelasan pria angkuh itu,
"A...aku akan menelepon polisi" ucap Vanessa dengan Gugup dan berbalik menuju telepon.
"Kau mau bilang apa, hm? Mengatakan bahwa suamimu tinggal serumah denganmu?" ucapan Candra terkesan menggoda Vanessa, namun wanita ber iris indah itu mengabaikannya
"Ka... kau bukan suamiku, Tuan Adipati" Ujar Vanessa hampir menangis, jujur dia benar-benar takut dan panik berada di dekat Candra.
Candra hanya tersenyum melihat kepanikan di wajah Vanessa, kekacauan nampak jelas di wajahnya
"Semua orang mengira aku suamimu, kau sendiri yang berbohong tentang perpisahan mu dengan suamimu, dan aku hanya mengikuti aturan main mu, Vanessa." Jenius, itulah sebutan yang pantas untuk si Tampan itu, ia selalu bisa memanfaatkan keadaan. Membuat Vanessa melongo tidak percaya.
"Da...dari mana kau tahu itu?" tanya Vanessa terkejut, matanya terbelalak, hampir saja ia limbung, lalu ia mencengkeram sandaran kursi demi membuat dirinya tidak tersungkur.
"Aku mencari mu selama enam bulan" jawab Candra tajam dengan aura dingin.
"U...untuk apa kau mencari ku?" cicit Vanessa, kini keberaniannya patut di pertanyakan, sepertinya pria ini akan selalu mengejarnya. Bayangan buruk menghampirinya, bagaimana jika pria ini mengambil anaknya?.
Alis pria tampan itu bertaut
"Kau punya sesuatu yang juga menjadi hakku, Vanessa" ucap Candra tegas dan kini pandangannya beralih ke perut Vanessa.
Secara spontan Vanessa melindungi perutnya dengan tangan, seolah hanya dengan pandangan saja pria itu bisa merobek perutnya.
"Ti... tidak" bisiknya, ia takut pria itu akan mencelakai dirinya dan si jabang bayi.
__ADS_1
Candra maju selangkah, hal itu justru membuat Vanessa ketakutan, ia memilih bersembunyi di balik kursi yang tadi sandarannya ia cengkeram, sontak hal itu membuat amarah Candra meledak
"Keluar dari balik kursi sialan itu, atau aku akan menyeret mu Vanessa?" ucap Candra, ia benar-benar frustasi menghadapi kekonyolan wanita cantik ini.
Vanessa masih tetap diam, tak bergeming, air mata kini berhasil lolos dari mata indahnya, tubuhnya bergetar, entah mengapa Adipati arogan itu kini melembut, sisi terdalam hatinya tersentuh saat mendengar isakan lembut Vanessa. Lalu ia melangkahkan kakinya mendekati Vanessa, mengulurkan tangannya dan menyentuh pundak wanita itu, menarik si wanita dengan lembut, dan mendudukkan wanita itu di kursi.
"Me...mengapa kau lakukan ini?" cicit Vanessa, ia masih terisak, Candra menatap wajahnya, menghapus air mata sang wanita.
"Itu sudah jelas Vanessa, aku menginginkan bayiku" ucap Candra, mendengar jawaban itu, wajah Vanessa langsung memucat.
"Ba...bagaimana kau bisa menemukan aku?" tanya Vanessa penasaran. Ketegangan masih tampak di wajah bak bidadari miliknya itu, membuat Candra mengingat kembali kenangan itu.
...Flashback...
"Tck, sial ia kabur" gumam seorang pria saat ia memasuki kamar yang semalam ia gunakan untuk melewati malam panjang bersama gadis itu. Saat tak mendapati yang dicari, dengan segera ia meraih gagang telpon dan menelpon ke lobi apartemen, meminta mereka berjaga-jaga jika ada wanita ber iris indah dan berambut hitam pekat sepunggung melewati pintu.
"Kau tak akan bisa lepas dariku" ucapnya, gemerutuk giginya terdengar samar, akibat menahan amarah.
"Jangan sebut aku Adipati jika tak berhasil menemukanmu" sambungnya lagi.
Kini Candra meraih Handphonenya, mencari nomor tujuan yang akan di hubungi, memanggil ketika nomor itu berhasil ia temukan, menunggu jeda sesaat hingga seseorang di seberang sana menjawabnya.
"Halo Ada ap..." ucapan orang di seberang telepon terpotong oleh Candra.
"Bili, cari tahu tentang wanita bernama Vanessa di seluruh hotel, penginapan atau losmen yang ada di kota ini" perintahnya
"Vanessa siapa? Banyak Vanessa di kota ini, bahkan di negara ini" ucap orang di seberang sana yang diajak bicara oleh Candra, pria itu adalah teman sekaligus bawahannya.
__ADS_1
"Hm, itu tugasmu"
"Kau gila, kau kira mudah mencari orang hanya dengan nama panggilannya saja? Setidaknya beri aku nama marganya, ciri fisiknya atau kotanya berasal!" protes orang di seberang telepon
"Mata indah, matanya sangat cantik, rambut hitam pekat sepunggung" ucap Candra, lalu menutup sambungan telpon itu. Ia terduduk di kasur yang menyimpan kenangan itu, jubah mandi masih di kenakan nya, titik-titik air masih menetes dari rambut si pemuda.
Mata tajam itu tersembunyi di balik kelopak matanya, Ohhh baru kali ini ada wanita yang menolak pesona si Tuan Adipati. Wanita itu pergi meninggalkannya setelah permainan panas semalam, bukankah ia yang biasanya meninggalkan wanitanya? Dan lagi wanita-wanita itu akan selalu berebut menghampirinya. Kali ini berbeda, ia wanita yang berbeda. Darah dalam tubuh Candra berdesir mengingat malam panas semalam, bahkan di ranjang pun wanita itu sangat berbeda.
Desah nafas, rintihan dan pujian-pujian itu terngiang kembali di telinganya, dari sekian wanita yang sempat ditiduri, hanya semalam Candra merasakan kepuasan tiada tara, ia tahu itu pengalaman pertama Vanessa, gadis itu tidak sejago wanitanya yang lain, namun kepolosan, keluguan dan kejujuran wanita itu saat mengungkapkan apa yang diinginkan dan dirasakannya membuat Candra selalu ingin melakukan lebih dengan Vanessa. Candra merindukan kehangatan tubuh wanita mungil itu. Merindukan aroma yang menguar dari tubuhnya, merindukan wanita itu memanggil merdu namanya.
"Damn, kau membuatku kacau." Seru Candra, sambil mengacak rambut nya.
Tiba-tiba suara handphone menyadarkan Candra dari lamunan panasnya, segera menerima panggilan itu, dia berharap si penelpon adalah Bili yang ditugaskan mencari tahu tentang Vanessa. Benar saja, feeling Candra tak pernah meleset, setidaknya delapan puluh persen tepat.
"Kau menemukannya?" tanya Candra to the poin
"Aku menemukan hotel tempatnya menginap, mereka mengatakan gadis itu telah pergi."
"Kau tahu marganya?" tanya Candra antusias, setidaknya dengan mengetahui marga gadis itu, akan sedikit mempermudah pencarian.
"Dia check-in hanya menggunakan nama Vanessa"
"Dari mana kau tahu itu dia?"
"Mereka bilang ciri-ciri gadis itu seperti yang kau sebutkan tadi"
"Gunakan otak mu dan kerahkan anak buahmu, cari dia dan aku tak mau kau gagal!" perintah Candra tak mau di bantah. Lalu dengan segera ia menutup telepon.
__ADS_1