
Pening menyerang kepalanya, entah mengapa dia menginginkan wanita itu saat ini juga. Sembari memijat pangkal hidung demi mengurangi rasa pusing, tiba-tiba ia teringat sesuatu, bukankah semalam ketika di lift si gadis mengatakan ia berada di apartemen ini untuk menemui salah seorang temannya, mengapa tidak menghubungi mereka saja?.
Mengetahui ada titik terang, Candra hampir saja menghancurkan gedung apartemen itu demi mencari kawan si gadis, namun nihil tak ada diantara mereka (penghuni apartemen) yang mengaku kedatangan tamu bernama Vanessa dengan ciri-ciri yang disebutkan Candra.
Pria itu kembali ke apartemennya dengan frustasi, tak pernah dia segila ini oleh wanita. Melangkah menuju telpon sekali lagi ia memutar nomor telpon lobi.
"Halo"
"Bisa kau memberiku siapa saja orang yang sedang tidak berada di apartemen saat ini?" tanya Candra to the poin
"Maaf Tuan Adipati, tapi kami tidak bisa sem..." perkataan Resepsionis itu terpotong oleh Candra
"Aku menemukan kartu kredit seorang gadis, aku harus mengembalikannya, ku rasa salah satu diantara mereka ada pemiliknya!" ucap Candra sekenanya, itu kebohongan paling mudah dan logis yang dapat di buat oleh otak jeniusnya yang sedang kacau saat ini.
"Oh begitu, baiklah" si resepsionis diam sejenak mengecek daftar pada komputernya,
"Kau tahu siapa di antara mereka yang kedatangan tamu dengan nama Vanessa kemarin malam?"
resepsionis itu mengecek komputernya, sebenarnya Candra sudah benar-benar tidak sabar, namun ketika ia akan melontarkan ucapan pedasnya, orang di seberang telepon menjawabnya
"Nona Angelina, kamar nomor 322 lantai 22, tapi saat ini mereka sedang keluar kota."
"Ada nomor mereka yang bisa aku hubungi?"
"Maaf Tuan Adipati, tapi mereka tidak meninggalkan nomor telpon, mungkin sedang tidak ingin di ganggu" jelas si resepsionis
"Jika mereka kembali, tolong hubungi aku, Terimakasih" jawab Candra lalu menutup telponnya.
...End Flashback...
"Bu...bukankah Tuan Adipati tak berhasil menemui mereka, bagaimana Anda bisa menemukanku?" tanya Vanessa sangat penasaran, sejenak ia melupakan ketakutannya tentang keberadaan pria itu saat ini.
__ADS_1
"Ku akui, mencari mu sangat sulit, setelah beberapa minggu aku baru bisa menemui mereka" jawab Candra masih menerawang.
"Iya, setelah kepulanganku, mereka bilang akan pergi ke Korea, suaminya punya bisnis disana, dan untuk beberapa saat mereka akan tinggal dalam waktu yang lama, tergantung seberapa lama pekerjaan itu bisa diselesaikan" jelas Vanessa, sambil mengingat cerita sahabat Ceria nya tentang karir si suami.
"Iya, itu juga yang mereka katakan, saat aku menemuinya dan menanyakan alamatmu"
"A... apa Tuan Adipati menceritakan kejadian ma..."
"Aku mengatakan bahwa aku menemukan kartu kredit atas namamu dan aku ingin mengembalikannya" jelas Candra paham akan maksud pertanyaan Vanessa.
Vanessa memiringkan kepalanya, melihat kearah Candra, pertengahan alisnya sedikit mengkerut,
"Kenapa? Alasanku aneh?" tanya Candra ketika menyadari ekspresi Aneh yang ditunjukkan Vanessa.
"Hanya itu satu-satunya alasan yang terpikir olehku saat itu" jawab Candra lagi tetap dengan wajah datarnya.
Vanessa hanya tersenyum, sedikit rona merah nampak di pipinya yang tembam, Candra sekilas mengamatinya, ingin rasanya ia menerkam wanita itu saat ini juga, namun otak sehatnya memberi alarm supaya hal itu tak dilakukannya, Vanessa mau mengobrol seperti ini saja sudah cukup baginya untuk saat ini.
"Sayangnya, mereka memberiku alamatmu yang lama" jawab Candra, ada nada penyesalan dari ucapannya itu, namun tak terlalu kentara.
"Aku punya akses untuk memperoleh data, dokumen, dan para penegak hukum di tempatmu berada sebelumnya, aku meminta bantuan mereka dan keberadaan mu berhasil di lacak" jelas Candra dengan seringai entah apa itu.
"Da...dan, setelah itu, kau langsung menemui ku?" tanya Vanessa penasaran
"Tidak, aku menemukanmu beberapa bulan lalu" jawab Candra,
"Karena aku sedang sibuk menangani permasalahan salah satu perusahaan kami dan ini perintah langsung dari Ayahku, maka aku tak bisa meninggalkannya, tapi aku punya orang-orang..."
"Ja...jadi ka...kau memata-matai ku?" tanya Vanessa dengan nada suara sedikit meninggi, ada nada kemarahan dalam suaranya.
"Hanya itu cara yang bisa aku lakukan sebelum aku datang menemui mu" jelas Candra angkuh
__ADS_1
"A... apa melecehkan ku secara fisik masih belum cukup? Sehingga kau juga melecehkan privasiku?" tanya Vanessa bangkit dari duduknya, entah mengapa ia merasa marah di memata-matai seperti ini, layaknya seperti ******* yang menjadi tersangka kasus pengeboman.
"Duduklah Nona Vanessa Hudgens, kau tahu darah tinggi tak baik pengaruhnya untuk si bayi" ucap Candra dingin,
"Bayi ini tanggung jawabku" ucap Vanessa, ia bayi itu miliknya, hanya miliknya
"Aku juga berhak atas dirinya, setelah malam panas itu" jawab Candra tak mau kalah.
"I... itu hanya kecelakaan, insiden yang tidak menyenangkan" jelas Vanessa, ia menjadi semakin marah ketika Candra mengatakan bahwa dia berhak atas bayinya, rasa takut jika pria itu akan mengambil bayinya kembali menyelimuti Vanessa.
"Benarkah?" tanya Candra dengan seringai iblis, mata hitam itu nyalang menatap Vanessa, entah mengapa ia muak ketika mendengar Vanessa mengatakan itu hanya kecelakaan dan insiden kecil yang tak berarti apa-apa.
"A... aku merasa jijik" lirih Vanessa, sambil mendekap dirinya.
"Kepadaku?" tanya Candra, mata hitam pekatnya masih setia menatap Vanessa.
"Ke... kepada diriku sendiri, A... aku tidak mau bicara i... itu lagi" jawab Vanessa.
"Tapi aku mau" jawab Candra
"Bagaimana pendapatmu tentang percintaan kita, hm?" lanjut Candra lagi, kali ini ia mendekati gadis yang berdiri dihadapannya itu, selangkah saja sudah membuat tubuh mereka berhimpitan, saling bersentuhan.
Vanessa menggigil, pria itu berada begitu dekat dengannya, hembusan nafas si pria itu mengenai keningnya, aroma parfum mahal yang menguar dari tubuhnya memenuhi rongga hidung Vanessa. Imajinasinya kembali pada malam panas itu. Vanessa tersentak saat mendapati, hidung pria itu berada di lekukan lehernya, menggesekannya, menyesap aroma Mawar dari tubuhnya. Tubuh Vanessa membeku, tak bergerak.
"Itu sangat indah, kau begitu cantik" bisik Candra di telinga Vanessa,
"He...hentikan" ucap Vanessa sambil mencoba mendorong tubuh si pria Adipati yang mendekapnya.
"Payudaramu lebih besar" ujar Candra, saat dia berhasil menyentuhkan tangannya pada bagian tubuh Vanessa yang menonjol itu.
"A... apa?" tenggorokan Vanessa tercekat, sungguh pria ini benar-benar melecehkannya.
__ADS_1
"Payudaramu lebih besar karena bayi itu, hm?" tanya Candra sambil tetap menyentuh payudara Vanessa.
"Ba... bayi ini bukan urusanmu, ba... bayi ini bukan milikmu" bentak Vanessa, kali ini ia mencengkeram pergelangan tangan Candra yang dilingkari arlogi emas, mencoba menjauhkan tangan yang menggoda payudara itu dari tubuhnya. Selain membesar, payudara Vanessa juga menjadi lebih sensitif ketika hamil.