Cinta Satu Malam Bersama Tuan. Adipati

Cinta Satu Malam Bersama Tuan. Adipati
Terbangun


__ADS_3

"Ta... tapi itu tidak menjelaskan ke..kenapa aku sampai terbangun di tempat tidurmu, setelah diperkosa" ucap Vanessa dengan nada emosi, ia marah, marah pada dirinya sendiri dan keadaannya sekarang, ia tak bisa mengingat kejadian setelah lampu mati itu. Rasa takut membuatnya kehilangan kesadaran diri.


"Diperkosa! Kau bahkan menikmatinya BODOH!" ucap Candra dengan nada tinggi.


"Ya, diperkosa. Aku takkan mungkin mau tidur denganmu begitu saja." Ucap Vanessa tak kalah tinggi, ia marah, benar-benar marah pada pemuda di hadapannya.


Vanessa mengawasi pemuda itu sedang berusaha keras menguasai diri, menahan emosinya agar tak menyerang gadis itu lagi. Matanya tampak berkilat, tajam menahan amarah dan frustasi saat menatapnya. Namun bukan Candra namanya jika ia tak bisa mengendalikan wajah datarnya.


Hening


"Apa kau menyadari kalau kau menderita klaustrofobia?" tanya Candra akhirnya saat ia telah mampu mengendalikan emosinya.


"..." Vanessa tak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya.


"Kau pasti tidak ingat urutan kejadiannya, karena saat itu kau benar-benar terguncang" kata Candra melembut, walau masih terkesan arogan.


"Sedangkan mengenai itu, akan ku jelaskan nanti jika kau sudah tenang" Candra lalu beranjak dan membuka pintu yang berada di dekat lemari


"Ini kamar mandinya, mandilah agar kau tenang, nanti setelahnya temui aku di meja makan, kita akan membicarakannya agar kau mengingat rangkaian kejadiannya" ucap pemuda itu lalu pergi meninggalkan Vanessa sendiri di kamarnya. Vanessa masih menatap pintu kamar mandi yang terbuka itu.


Hingga pemuda itu kembali membawa blazer, sepatu serta tas jinjing Vanessa yang semalam tergeletak di ruang tamunya. Pemuda itu tetap tak mengatakan apa-apa setelah meletakkan barang-barang Vanessa lalu keluar meninggalkan Vanessa lagi, kali ini ia ingin mandi.


Vanessa tidak menyia-nyiakan waktu, dengan segera ia masuk ke kamar mandi, membasuh dirinya, ia merasa kotor, benar-benar nista. Ia menangis, bagaimana ia bisa begitu ceroboh? bisakah kejadian ini dikatakan hanya sekedar kecerobohan?

__ADS_1


"Oh Tuhan, maafkan aku" bisiknya


Setelah merasa cukup bersih dan tenang dengan segera Vanessa meraih pakaiannya, tangannya gemetar saat mengenakan pakaian itu.


Siapa sebenarnya pemuda itu? Ia tak tahu dan ia takkan pernah tahu, juga tak mau tahu. Yang terfikir oleh Vanessa saat ini adalah, pergi meninggalkan tempat ini.


Dengan hati-hati Vanessa membuka pintu kamar dan mengintip keluar, saat dirasa keadaan aman, Vanessa mengendap-endap menuju pintu depan, ia tak melihat pemuda tadi saat keluar, entah ia berada dimana. Vanessa merasa senang karena itu, ia bisa pergi tanpa ada hambatan.


"Selamat tinggal Tuan entah siapa namamu" bisik Vanessa saat ia telah berada di depan apartemen itu, lalu bergegas menuju lift dan menekan tombol. Saat pintu lift terbuka dengan segera ia berhambur masuk, dalam hati ia berdoa


"Semoga orang tadi belum menyadari kepergian ku!" Ia hanya takut pemuda itu menyadarinya dan segera menelpon lobi dan security menahannya di lobi hingga pemuda itu menemukannya.


Saat lift berdenting dan pintunya terbuka dengan segera Vanessa keluar, berjalan terburu-buru menuju pintu keluar, ia mengabaikan sapaan security dan resepsionis yang menyapanya ramah. Saat ini yang ada di kepalanya adalah kabur sejauh dan secepat mungkin.


"Oh Tuhan" bisiknya lagi, bagaimana mungkin hal ini terjadi padanya? Ia baru seminggu di Tokyo dan ia begitu lengah dengan keadaan. Bayangan pemuda itu tak bisa hilang dari ingatannya, wangi tubuhnya masih menjalari sensor otak Vanessa, sehingga masih lekat di ingatannya.


"Bagaimana caranya melakukan itu, hingga aku tak menyadari apapun? Bahkan aku tidak merasa sakit walau pertama kali melakukannya?" pekiknya frustasi, ia benar-benar lelah saat ini.


Dia memang tampan, sangat tampan bahkan, mungkin banyak orang menganggap Vanessa beruntung bisa menikmati one night stand dengan pemuda setampan itu, tapi menurut Vanessa itu tetap bencana.


"Bagaimana jika ia telah beristri? Bagaimana jika ia memiliki penyakit menular dan menularinya kepadaku? Atau bagaimana jika pemuda itu menderita kelainan seksual?"


Vanessa menggelengkan kepalanya, menghilangkan kekhawatiran dalam dirinya. Apapun itu semua telah terjadi, hanya satu yang membuatnya tenang saat ini, dokter telah memvonisnya mandul, karena indung telurnya terlalu rentan, serta rahimnya yang berukuran sedikit lebih kecil dari seharusnya. Hal itu membuatnya tenang, dia tidak akan hamil dan ia tak perlu menjalin hubungan dengan pria manapun.

__ADS_1


Bagaimana jika ia telah beristri?


Bagaimana jika ia memiliki penyakit menular dan menularinya?


Atau bagaimana jika pemuda itu menderita kelainan seksual?


Vanessa menggelengkan kepalanya, menghilangkan kekhawatiran dalam dirinya. Apapun itu semua telah terjadi, hanya satu yang membuatnya tenang saat ini, dokter telah memvonisnya mandul, karena indung telurnya terlalu rentan, serta rahimnya yang berukuran sedikit lebih kecil dari seharusnya. Hal itu membuatnya tenang, dia tidak akan hamil dan ia tak perlu menjalin hubungan dengan pria manapun.


"Anda hamil nyonya"


Vanessa menatap dokter itu dengan pandangan kosong beberapa saat sebelum ia tertawa kecil dengan nada tak percaya


"Itu tidak mungkin dokter" ucap Vanessa, masih memandang kosong tak percaya dengan pendengarannya dan sang dokter hanya tersenyum penuh pengertian.


"Tentu saja itu mungkin. Saya bahkan bisa memberitahu anda sedang memasuki minggu kesepuluh. Apa anda tidak pernah merasakan gejala-gejalanya? Seperti pusing atau mual misalnya?" Tanya dokter itu sambil melihat Vanessa dari balik kaca mata bulatnya.


Vanessa menggeleng yakin untuk menjawab pertanyaan sang dokter lalu berkata


"Itu mustahil, saya mandul, dulu dokter pernah memvonis saya mandul, karena indung telur saya terlalu rentan, serta rahimnya yang berukuran lebih kecil dari seharusnya" jelas Vanessa dan mengingat kembali kenangan ketika ia berusia 16 tahun, saat semua teman-temannya mengalami haid, sedangkan hanya Vanessa yang belum mengalaminya tapi setiap bulan ia merasa sakit di area rahimnya, maka Vanessa memilih untuk memeriksakan diri ke dokter ditemani oleh sang ibu, dan itulah yang dokter katakan ketika hasil diagnosa keluar. Baiklah saat itu Vanessa menerima mentah-mentah apa yang didengarnya, terlalu polos untuk mengerti, hingga akhirnya dia berfikir bahwa ini bisa menjadi perisai untuk melindungi diri dan tidak berkomitmen dengan pria manapun, serta hal ini juga yang menjadi penguatnya saat ia mengingat kembali bagaimana ia terbangun di ranjang bersama pria tak dikenal itu.


Vanessa mengela nafas sebentar lalu melanjutkan penjelasannya


"Waktu itu dokter memberitahu ibu panti saya dan berkata bahwa saya tidak akan pernah bisa punya anak." Ucap Vanessa mencoba menjelaskan walaupun hatinya sekarang sedang tidak baik.

__ADS_1


__ADS_2