Cinta Suci Lelaki Bertato

Cinta Suci Lelaki Bertato
pertemuan, satu tahun pacaran


__ADS_3

"Mah, masa Tasya pacaran sama lelaki yang punya tato." Dafi memberi tahu ke Nesa kalau Revan punya tato.


"Hah... Siapa bilang kamu?" Nesa terlihat heran.


"Teman-teman Dafi banyak yang kenal sama pacarnya Tasya." Jelas Revan


"Masa sih. Mama lihat orangnya baik, masa punya kelakuan aneh-aneh." Nesa masih saja terlihat heran.


Dafi sangat tidak setuju dengan hubungan Revan dan Tasya. Dafi sangat menyayangi adik sepupunya itu. Dia tidak mau adik sepupunya jatuh cinta kepada orang yang salah.


Dafi mendapat informasi dari teman-temannya yang kenal sama Revan, bahwa Revan itu suka mabuk, orangnya tempramental dan punya banyak tato ditubuhnya.


Berbanding terbalik dengan Revan yang dikenal oleh Tasya.


Selama mereka menjalin hubungan, Revan tidak pernah sekalipun berkata kasar kepada Tasya.


Revan selalu sabar menghadapi sifat Tasya yang keras dan kekanak-kanakan.


***


Mendengar perkataan Dafi perihal Revan yang mempunyai banyak tato, membuat Tasya penasaran dan ingin mencari tahu kebenaran omongan Dafi.


"Sayang kita kan sudah satu tahun pacaran. Kita boleh ketemu lagi." Kata Revan menyampaikan keinginannya.


"Emmm..." Tasya hanya bergumam.


"Boleh ya, nanti malam di taman. Ajak Dania juga." Revan selalu mengandalkan Dania karena dia tahu Tasya tidak akan mau keluar sendirian untuk menemuinya.


"Emmm gimana ya." Tasya masih berfikir. Dia berfikir kalau ini kesempatan untuk melihat Revan apa benar dia punya tato atau tidak.


"Pasti bisa kan. Kita merayakan suksesnya hubungan kita satu tahun ini." Pinta Revan berusaha meyakinkan Tasya.


"Iya Deh." Akhirnya Tasya menyetujui ajakan Revan untuk bertemu nanti malam.


***


"Kak temani aku sekarang ke taman. Revan mau datang." Kata Tasya mengajak Dania untuk menemui Revan.

__ADS_1


"Tumben..." Selidik Dania heran.


"Pokoknya nanti di taman. Kakak minta dia buka hoodienya." Kata Tasya yang sudah tahu kalau Revan akan menggunakan Hoodie.


"Iiih.. kok kakak sih. Kamu sendiri dong."


"Bantuin aku kak. Biar aku tahu, apa omongannya kak Dafi itu benar atau bohong."


"Iya juga sih. Kakak juga penasaran." Kata Dania menyetujui permintaan Tasya.


"Aku ajak Bang Arya ya." Timpal Dania.


Mereka bertiga segera menuju taman. Mereka duduk disebuah kursi. Terlihat Revan yang selalu memakai Hoodie menghampiri mereka.


"Banyak banget cemilannya." Sapa Dania kepada Revan yang terlihat membawa satu kantong kresek besar berisi cemilan dan minuman.


"Iya. Biar kita enggak cuma makan angin." Terlihat senyum tipis dibibir lelaki manis itu yang bisa membuat siapa saja yang melihatnya terpesona.


"Revan kamu pakai Hoodie terus, apa enggak bosan stylenya gitu-gitu aja." Dania terus saja cerocos seperti petasan.


"Sudah terbiasa."


"Bang. Kita ke bangku sana aja deh. Udah gerah disini." Dania mengajak Arya pindah bermaksud meninggalkan Tasya dan Revan berdua.


"Ayo..." Ajak Arya.


"Kita bawa ini ya." Dania membawa kantong kresek itu dan hanya meninggalkan satu botol minuman dan beberapa cemilan untuk sepasang kekasih itu.


Tasya dan Revan duduk berdampingan dibawah cahaya rembulan dan bintang yang menerangi mereka.


"Sayang, terimakasih sudah mau datang." Kata Revan memecah keheningan diantara mereka.


"Iya."


"Kamu mau coklat." Revan membuka cokelat yang ditinggalkan oleh Dania lalu menyuapi Tasya.


"Emmm..." Tasya tidak bisa berkata apa-apa. Refleks dia membuka mulutnya.

__ADS_1


Selagi Tasya memakan cokelatnya, Revan membuka Hoodie, dan hanya tersisa kaus oblong yang menempel di badannya.


Tasya melirik perlahan. Betapa terkejutnya Tasya melihat tangan Revan yang penuh tato.


"Itu hanya tato temporer, mungkin dia hanya membuatnya pakai Henna." Semua pikiran berkecamuk dikepala Tasya, seolah dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Sayang, apa kamu kecewa sama aku?" Tanya Revan yang sedari tadi melihat ekspresi Tasya.


"Hah... Kecewa?" Tasya dikagetkan oleh pertanyaan Revan.


"Maaf selama ini aku tidak jujur sama kamu, aku takut kamu ninggalin aku Tasya."


Tasya tidak bisa berkata apa-apa. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Sayang. Apa bedanya aku dengan lelaki lain yang menginginkan kamu diluar sana, kita sama-sama berjuang untuk membahagiakan kamu, hanya bedanya aku selalu kotor dan kumal, sedangkan orang yang bekerja di kantor selalu bersih dan rapih." Revan menggenggam erat tangan Tasya dan berusaha meyakinkan Tasya karena dia sadar dengan kekecewaan Tasya terhadap dirinya.


"Kamu boleh benci sama aku, tapi kamu enggak boleh ninggalin aku." Revan terus saja berusaha meyakinkan Tasya.


Tasya hanya mengangguk. Lalu Revan mendaratkan ciuman hangat di kening Tasya kemudian memeluk erat tubuh Tasya, berharap Tasya akan selalu bersamanya.


Sontak Tasya kaget karena itu adalah ciuman pertama bagi dirinya.


Tasya mendorong keras tubuh Revan karena melihat kedatangan Dania dan Arya.


"Kenapa." Tanya Revan kaget.


"Kak Dania dan kak Arya datang." Seraya Tasya merapikan rambutnya yang terurai.


"Sya, pulang yuk. Nih jajannya udah habis." Dania menunjukkan sekantong penuh sampah bekas cemilannya.


"Iiih... Kakak, masa udah habis aja dimakan?"


"Makanya Revan kalau mau lama ketemu sama Tasya bawa cemilannya yang banyak ya." Kata Tasya melirik Revan.


Dania juga melirik tangan Revan yang sedari tadi melepas hoodienya.


"Allahuakbar..." Dia kaget dan mengucap takbir didalam hatinya.

__ADS_1


"Abang ayo pulang. Sya, kamu diantar sama Revan aja." Dania menggandeng tangan Arya, dan meninggalkan sepasang kekasih itu.


__ADS_2