
Tasya kakak sebentar lagi akan menikah." Dania memberitahukan kabar bahagia itu untuk Tasya.
"Serius kak...!!" Tasya sangat kaget mendengar berita bahagia Dania.
"Serius lah Sya. Kemarin Bang Arya lamar aku, dan keluarganya sudah menemui orangtuaku." Jelas Dania kepada Tasya.
"Kakak... Hiks... Hiks..." Tasya menangis dan memeluk erat Dania.
"Tasya kenapa nangis. Bahagia dong." Dania mengelus lembut kepala Tasya dalam pelukannya.
"Kalau kakak nanti sudah menikah, siapa teman aku nanti kak." Tasya masih saja terisak.
Tasya tidak bisa membayangkan jika Dania akan menikah nanti. Tidak akan ada lagi yang menemani dia dirumah. Apalagi sekarang dia menggantung hubungannya dengan Revan.
***
"Revan, hari Senin nanti adalah hari resepsi pernikahan ku. Kamu datang ya." Tidak lupa Dania menghubungi Revan untuk mengabarkan kabar bahagianya.
"Serius Dania. Kamu udah mau nikah aja sih." Sama seperti Tasya, Revan juga kaget setelah dikabari Dania.
"Iya gimana lagi, Bang Arya udah kebelet kawin." Canda Dania diiringi tawa kecilnya.
"Aku sudah tidak bisa minta bantuan kamu lagi. Apalagi Tasya sekarang sudah jarang ngobrol sama aku." Revan menceritakan masalah hubungannya ke Dania.
"Apa sih yang enggak bisa. Gak usah sungkan sama aku. Oh iya. Kamu kalau datang nanti pakai baju warna coklat mocca, biar samaan bajunya sama Tasya." Dania memberi saran kepada Revan. Karena Dania sudah merencanakan pada saat acara resepsi pernikahannya nanti bridesmaidnya memakai baju berwarna coklat mocca.
***
Acara yang ditunggu-tunggu pun tiba.
Tibalah hari bahagia untuk Arya dan Dania mengucapkan janji suci sehidup semati dalam sebuah ikatan pernikahan.
Kedua keluarga dari kedua mempelai dan tamu undangan sudah hadir untuk memberikan dukungan dan menyaksikan proses sakral pernikahan itu.
Acara pernikahan dilangsungkan di Masjid, sementara untuk resepsinya digelar di sebuah panggung seni di Desa.
Arya dengan gagah berani menjabat tangan Ayah Dania yang sebentar lagi akan menjadi ayah mertuanya.
"Saudara Arya Permana bin Hermanto Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Dania Septiani Putri dengan maskawin seperangkat alat sholat dan emas 10 gram dibayar tunai." Ayah Dania mengucapkan kalimat ijab kabul dengan lantang.
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Dania Septiani Putri binti Priatmojo Wijaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 10 gram dibayar tunai." Arya nampak grogi dan tergesa-gesa mengucap kalimat ijab kabul.
"Sah... Sah... Sah..." Suara riuh terdengar dari keluarga kedua mempelai dan tamu undangan yang hadir.
"Alhamdulillah." Ucap Tasya yang bahagia melihat Dania, walaupun sebenarnya dia belum rela dengan pernikahan kakak sepupunya itu.
Tasya memeluk Dania dan menangis haru.
"Sudah Sya. Nanti make up mu luntur, cantiknya hilang. Ayo iringi kakak keluar." Dania menenangkan Tasya.
Tasya yang memakai gaun brokat berwarna coklat mocca tampak anggun mengiringi sepasang insan yang sedang berbahagia untuk naik ke atas pelaminan.
Tasya bersama bridesmaid lainnya berdiri menyambut dan menyalami tamu undangan.
__ADS_1
Perhatian Tasya teralihkan kepada seorang laki-laki memakai baju batik lengan panjang berwarna coklat mocca. Lelaki itu memakai kaca mata hitam dan masker menutupi mulutnya. Tampak dia memegang kado berukuran sedang ditangannya.
Semakin dekat lelaki itu dengan Tasya, nampak lelaki itu terlihat sangat keren dengan stylenya.
Lelaki itu mulai melepas kaca mata dan maskernya.
"Sya." Suara lembut lelaki itu yang ternyata Revan menyapa Tasya.
Revan kemudian berlalu menuju pelaminan untuk memberikan selamat kepada Dania dan Arya.
"Selamat ya Dania dan Arya." Revan memberi ucapan selamat kepada mereka kemudian menyerahkan kadonya secara langsung.
"Terimakasih Revan, repot-repot bawa kado. Kamu datang aja aku sudah senang." Kata Dania tersenyum bahagia.
Revan hanya duduk sendiri di acara itu. Tasya tidak mau menghampiri dia.
Tasya menjadi bingung dan salah tingkah. Sebelumnya dia tidak tahu bahwa Revan akan datang dihari pernikahannya Dania.
"Ngapain kesini?" Tasya mengirim chat kepada Revan.
"Memangnya kamu enggak suka aku ada disini. Aku kesini datang untuk Dania dan Arya." Balas Revan.
"Bukannya gitu. Nanti kalau kak Dafi dan keluarga ku yang lain lihat kamu gimana." Balas Tasya kesal.
"Terserah kamu Tasya. Maaf kalau aku bikin kamu malu dan kesal dengan kehadiranku."
Tanpa pikir panjang Tasya menghampiri Revan dan membawakannya segelas minuman dan sepiring makanan kecil.
"Terus siapa, masa hantu." Sembari Tasya meletakkan yang dibawanya tadi diatas meja.
"Terimakasih." Ucap Revan.
"Sama-sama. Minum dulu deh." Tasya mengambil segelas minuman dan memberikan kepada Revan. Lalu Tasya duduk disamping Revan.
Sementara Dania tersenyum-senyum melihat pasangan kekasih itu.
Tidak hanya Dania yang melihat, keluarga mereka juga tampak memperhatikan mereka berdua. Karena baru kali ini melihat Tasya bersama laki-laki.
Tasya merasa risih dengan pandangan orang-orang disekitarnya. Dia merasa seolah-olah semua mata tertuju kepadanya.
"Kakak pulang dulu deh." Tasya menyuruh Revan pulang.
"Tasya kenapa kamu panggil aku kakak, memangnya kamu sudah tidak anggap aku lagi?" Revan merasa sedih mendengar ucapan Tasya.
"Ehh.. iya... Abang maksudnya." Tasya menjadi salah tingkah.
Sementara Dania memberikan kode kepada Revan untuk mengajak Tasya menuju pelaminan dan foto bersama dengannya.
"Sayang. Tuh Dania manggil." Kata Revan menyuruh Tasya melihat Dania.
"Sini... Sini..." Kata Dania yang hanya terlihat gerakan bibirnya saja.
Revan tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia menarik tangan Tasya dan akhirnya mereka bisa berpoto bersama Dania dan Arya.
__ADS_1
"Revan jangan pulang dulu. Nanti ikut kerumah kita makan." Kata Dania berbisik kepada Revan.
"Apaan sih kak." Tasya kesal mendengar Dania.
"Kan aku yang ajak. Walaupun kamu enggak setuju tetap Revan akan ikut. Iya kan Revan, iya kan Bang." Dania menatap Arya dan Revan.
Arya dan Revan mengangguk secara bersamaan.
Tasya merasa ini tidak adil karena Dania dan Revan sekarang berpihak kepada Revan.
Jam 12:00 wib acara resepsi pernikahan Dania dan Arya ditutup.
Dania dan Arya pulang berganti pakaian. Tidak lupa juga Revan dan Tasya menuju rumah Dania.
Semua keluarga berkumpul dirumah Dania.
"Abang kita diluar aja." Kata Tasya menahan langkah Revan.
Dafi datang menghampiri mereka kemudian duduk disamping Revan.
"Tasya kamu bikin kopi dulu sana. Kakak pingin ngopi. Revan kamu mau kopi.?"
"Iya."
"Sekalian juga untuk Revan." Pintah Dafi.
Sementara Tasya pergi menemui Dania.
"Kak. Masa kak Dafi duduk didepan sama Revan." Tasya menceritakan karena tidak percaya dengan sikap Dafi.
"Bagus dong." Jawab Dania santai.
"Aku takut nanti dia mengintrogasi Revan. Aku bikin kopi dulu kak. Takut nanti kak Dafi ngomong macam-macam." Khawatir Tasya.
Tasya kemudian membawa nampan berisikan dua gelas kopi. Dafi mengambil segelas kopi dan berlalu meninggalkan mereka.
"Kak Dafi ngomong apa tadi?" Selidik Tasya penasaran.
"Enggak ada kok. Dia cuma minta rokok aja tadi." Kata Dafi.
"Temannya Tasya ya." Tanya om Pri ayah Dania.
"Iya om." Kata Tasya buru-buru menjawab pertanyaan om nya itu.
"Ayo masuk dulu kedalam kita makan." Ajak om Pri.
"Iya om." Revan merasa sungkan.
"Ajak dong temannya Sya."
Mereka kemudian makan bersama, setelah makan mereka istirahat sebentar.
Sore harinya mereka membereskan rumah sisa dari acara resepsi tadi pagi. Revan juga ikut membantu. Tiba jam 8 malam baru Revan meninggalkan rumah Dania.
__ADS_1