
"Kemarin Kak Dafi ngomong apa sih" Tasya menanyakan Revan yang sedang bercakap melalui sambungan telepon dengannya.
"Enggak ngomong apa-apa." Jawab Revan.
"Jawab yang serius dong. Masa enggak ngomong apa-apa dan hanya saling tatap gitu aja selama aku bikin kopi." Kata Tasya yang sangat penasaran.
"Dia cuma ngomong. Jangan macam-macam sama Tasya, tolong jaga dia baik-baik katanya." Revan memberitahu pesan Dafi kemarin kepada Tasya.
"Masa Kak Dafi ngomong gitu." Tasya tidak percaya dengan omongan Revan.
"Beneran sayangku. Dikasih tau malah enggak percaya."
"Berarti Abang dapat lampu hijau dong dari kak Dafi?" Kata Tasya sembari tersenyum.
"Sepertinya. Aku lihat keluargamu juga welcome banget sama Abang kemarin." Kata Revan percaya diri.
"Ah... Masa..." Tasya menggoda Revan.
Revan sangat bahagia kemarin bisa bercengkerama sama keluarganya Tasya.
Hanya Bapak Tasya kemarin yang tidak hadir di acara resepsi pernikahan Dania. Ayahnya Tasya sudah minta ijin sama Priatmojo bapak Dania kalau dia tidak bisa hadir karena masih sibuk dengan urusan pekerjaannya.
***
Dania menghubungi Tasya untuk mengajak dia bikin puding kesukaannya, supaya dia tidak merasa sendiri dan sedih dirumahnya.
Tasya sebenarnya enggan pergi, karena merasa tidak enak sama Arya. Tapi Dania tetap saja memaksanya.
"Nah, akhirnya datang juga." Kata Dania yang dari tadi menunggu kedatangan Tasya didepan rumahnya.
"Kakak sih maksa. Aku lagi males banget sebenarnya kak." Tasya berbicara kesal.
"Kamu mah enggak pernah ada rajinnya."
"Tasya, mana teman mu yang kemarin, telepon dia ajak kesini." Pinta Om Pri yang tiba-tiba menghampiriku dan menanyakan Revan.
Belum sempat aku menjawab Om Pri, kak Dania sudah cerocos aja mulutnya.
"Telepon Revan Sya, biar nanti pudingnya bisa kita makan ramai-ramai disini." Timpal Kak Dania yang mendengar perkataan Om Pri kepadaku.
"Kakak aja yang telepon." Pinta Tasya kepada Dania.
__ADS_1
"Emangnya Revan pacar kakak." Kata Dania.
"Iiih... Mulutnya itu kak. Coba dijaga sedikit." Kata Dania mengertakkan giginya karena kesal kepada Dania.
Dania menelepon Revan dan meminta dia agar segera ke rumahnya. Tidak perlu waktu lama untuk Revan bersiap menuju rumah Dania karena sudah tidak sabar ingin bertemu Tasya lagi.
Sesampai dirumah Dania, Revan diajak ngobrol oleh Om Pri dan Arya. Sementara Dania, Tasya dan Bi Lastri ibunya Dania sibuk didapur membuat puding.
"Dari desa mana?" Tanya Om Pri memulai pembicaraan.
"Desa Suka Maju."
"Oh... Kenal sama orang namanya Gani?"
"Dia Paman saya."
"Serius. Terus kamu anaknya siapa. Om hampir kenal semua orang disana. Waktu muda dulu Om sering ke rumah Gani."
"Anaknya pak Alan."
"Emmm... Sepertinya Om kurang tau bapak mu, nanti salam sama Gani. Bilang salam dari Om Pri dari Padasuka."
"Baik Om." Revan hanya menjawab singkat dari tadi.
"Om enggak suka nih yang lembek-lembek. Dinikmatin aja ya, Om mau istirahat." Om Priatmojo berlalu meninggalkan mereka.
"Mana Dania?" Tanya Arya kepada Tasya.
"Masih didalam."
"Aku makan pudingnya kedalam aja." Aryapun berlalu meninggalkan mereka.
Mereka tinggal berdua diruang tamu, menikmati puding yang dihidangkan Tasya. Revan sangat suka puding itu, sampai jatah untuk Om Pri dimakan juga olehnya.
"Enak nih. Siapa yang bikin."
"Bi Lastri."
"Kirain sayang ku yang bikin." Bisik Revan.
Baru kali ini Revan menikmati waktu berdua bersama Tasya. Mereka bercanda mengisi waktu. Benar kata Dania, Revan orang yang mengasyikan.
__ADS_1
"Aku pulang dulu ya, masih ada pekerjaan dibengkel. Titip salam sama Om Pri."
"Aku kasih tahu Dania sama Bi Lastri dulu." Dania menuju ruang tengah dimana Dania, Arya, dan Bi Lastri sedang menonton Tv.
Revan pamit pulang kepada mereka.
"Siapa nama temanmu tadi Tasya, aku lupa tanya." Kata Om Pri yang baru bangun setelah kepulangan Revan.
"Revan."
"Kok bisa kamu kenal sama orang dari desa Suka Maju."
"Emang kenapa Om?" Tanya Tasya penasaran.
"Orang disana terkenal suka mabuk dan tawuran. Apalagi si Revan itu keponakannya Gani. Gani itu ketua Genk disana." Jelas Om Pri.
"Nah terus Bapak kok bisa tahu?" Tanya Dania heran.
"Iya dulu bapak satu group sama Gani."
"Berarti bapak dulu juga mabuk dan tawuran."
"Eeee... Iya, tapi kan sekarang sudah enggak." Terlihat Om Pri malu menjawab Kak Dania.
"Kamu enggak usah dekat lagi sama dia." Om Pri sudah memberi peringatan.
Apalagi kalau Om Pri tahu Revan punya tato. Maka dia akan melarang keras hubunganku dan Revan.
***
Bapak Tasya pulang kerumahnya dengan waktu yang cukup lama.
"Tasya. Buka pintu nak." Pak Budi memanggil anak semata wayangnya itu.
Tasya berlalu menuju pintu, kemudian menyapa dan memberi salam kepada bapaknya.
"Bapak tumben pulang enggak telepon dulu." Kata Tasya sambil mencium tangan bapaknya.
"Ponsel bapak mati, lupa di cas." Pak Budi memperlihatkan ponselnya kepada Tasya.
"Makan dulu Sya, nih bapak bawa ayam geprek kesukaanmu." Sembari mengambil kantong plastik berisi dua porsi ayam geprek beserta nasinya.
__ADS_1
Mereka sangat menikmati moment saat makan bersama karena moment itu jarang terjadi.
.