Cinta Suci Lelaki Bertato

Cinta Suci Lelaki Bertato
Revan di kantor polisi


__ADS_3

Abang, apa sebaiknya Abang cari penggantiku." Tasya mengirim pesan kepada Revan.


Segera Revan menghubungi Tasya untuk meminta penjelasan atas isi pesannya.


"Apa maksud mu Tasya?"


"Sepertinya banyak yang tidak menyetujui kita"


"Siapa? Kan Dafi sudah setuju kemarin."


"Aku rasa bapakku sudah tahu."


"Ayolah sayang, kenapa kita harus menyerah. Aku belum menunjukkan perjuangan ku di depan keluargamu."


"Sudahlah, cari gantiku saja. Sebelum melangkah terlalu jauh."


"Kamu pikir gampang. Ayolah Tasya hilangkan sifat kekanak-kanakan mu, sudah waktunya untuk mu dewasa dan menghadapi rintangan di depan kita."


Tasya selalu merasa ragu dengan dirinya sendiri. Revan selalu meyakinkan dia dan berusaha mempertahankannya.


***


Suatu hari Tasya mendengar kabar Revan berada di kantor polisi karena dia terlibat perkelahian di kota.


Kenapa dengan Revan yang malah mengungkap sisi negatif dari dirinya.


Tidak ketinggalan Dafi dan Om Pri pun tahu kabar itu.


"Sya, makanya Kakak sudah bilang dari kemarin, dan terbukti sekarang Dafi orangnya seperti apa." Kata Dafi kepada Tasya.


Tasya tidak bisa berkata apa-apa. Tasya di buat malu oleh Revan. Itu yang katanya berjuang, malah bikin masalah.


"Tasya. Tolong jangan tinggalkan aku. Aku butuh kamu disaat seperti ini. Aku diganggu oleh sekelompok orang, dan aku melawan. Tolong kamu temui aku. Nanti aku jelaskan. Aku pinjam handphone petugas disini." Revan mengirim pesan singkat kepada Tasya.


Tasya hanya menatap ponselnya. Dia tidak mau membalas pesan dari Revan.


"Tasya apa kamu sudah tahu kabar tentang Revan?" Dania mengunjungi Tasya ke rumahnya.


"Sudah Kak. Hiks... Hiks..." Tasya menangis dipelukan Dania.

__ADS_1


"Ayo kita temui dia." Ajak Dania.


Tasya menggelengkan kepala pertanda tidak setuju dengan ajakan Dania.


"Kamu enggak boleh begitu Sya, Revan butuh dukungan kamu saat ini." Bujuk Dania.


Setelah Dania berhasil membujuk Tasya, akhirnya mereka pergi menemui Revan ke kantor polisi. Mereka membeli beberapa makanan untuk Revan.


"Terimakasih Sya, sudah mau datang." Revan sangat bahagia melihat kedatangan Tasya yang mau datang menemuinya.


"Kamu Revan, ada-ada saja bikin masalah." Belum sempat Tasya ngomong, Dania sudah menyolot duluan.


"Bukan aku yang bikin masalah. Tapi mereka, dan aku melawan sampai meninggalkan bekas. Itu yang jadi perkaranya." Revan menjelaskan kejadiannya kepada Dania dan Tasya.


"Tidak akan ada asap kalau tidak adak api." Kata Tasya menyindir Revan.


"Aku aja heran, siapa sebenarnya mereka. Mereka meledekku, aku berusaha tidak membalas, lalu mereka menabrak motor ku secara sengaja. Aku tidak bisa menahan emosi ku. Siapa suruh cari masalah." Dafi bercerita dengan emosi karena mengingat kejadian yang dialaminya.


"Semoga masalahnya bisa diselesaikan secara kekeluargaan biar Abang cepat keluar dari sini. Ini kita tadi beli makanan dijalan." Kata Tasya sembari menyerahkan kantong plastik berisi makanan.


"Terimakasih sayang. Bapak ku sedang berusaha menemui pihak keluarga mereka."


Mereka berdua meninggalkan Kantor polisi.


Setelah satu Minggu Revan ditahan di Polsek dia dibebaskan karena masalahnya sudah bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Revan merasa lega. Dia segera pergi ke rumah Tasya untuk menemuinya.


Tok...


Tok...


Tok...


Terdengar suara ketukan pintu, Tasya segera menuju pintu dan membuka pintu.


Terlihat Revan di depan pintu. Belum sempat Tasya menyapanya, Revan sudah mendorong Tasya untuk masuk ke dalam rumah.


"Sayang, aku rindu." Bisik Revan yang sedang memeluk erat Tasya.


"Jangan seperti ini, malu dilihat orang." Kata Tasya yang kaget dengan perlakuan Revan.

__ADS_1


Revan tidak peduli dengan perkataan Tasya.


Revan terus saja memeluk dan perlahan mencoba mencium bibir Tasya.


Tasya berusaha menghindar. Revan yang menyadari tingkah Tasya segera menghentikan aksinya.


Siapa yang tahan melihat wanita cantik seperti Tasya, apalagi sudah lama Tasya menjadi kekasihnya. Jangankan seperti pasangan lain yang bisa bertemu dan bermesraan setiap saat.


Revan datang tanpa sepengetahuannya saja Tasya bisa marah.


"Maaf Sya." Katanya lirih.


Tasya menjadi kesal dengan Revan. Bisa-bisanya dia kerumah Tasya tanpa menghubungi dia terlebih dahulu.


Terdengar suara motor berhenti di depan rumah Tasya. Tasya melihat melalui kaca jendela. Dia melihat Dafi disana.


"Kak Dafi...! Pasti dia berfikir macam-macam tentang kita." Kata Tasya yang kaget dan bingung.


"Jangan khawatir Sya, aku kesini dengan niat baik-baik." Kata Revan menenangkan Tasya.


Dafi sudah sangat marah menunju rumah Tasya.


"Ngapain kamu di sini." Kata Dafi membentak Revan.


"Hanya menemui Tasya." Jawab Revan singkat.


"Apa pantas kalian hanya berdua, apa kata tetangga melihat kalian dirumah berdua seperti ini." Dafi semakin marah.


"Kak, Revan hanya mampir sebentar, dia juga sudah mau pulang." Tasya yang bingung, berusaha menenangkan Dafi.


"Kamu pulang Revan.!!" Dafi mengusir Revan.


Dengan tenang Dafi beranjak meninggalkan rumah Tasya.


"Kamu Tasya jangan lagi berhubungan dengan dia. Dia itu hanya tahunya mabuk-mabuk dan kelahi." Jelas Dafi kemudian meninggalkan Tasya.


Tasya menjadi malu dengan kejadian itu. Bagaimana kalau sampai terdengar ke telinga orang lain, pertemuannya dengan Revan dirumahnya yang dipergoki oleh Dafi.


Tapi serius, merek tidak ngapa-ngapain kok tadi.

__ADS_1


Masih wajar, hanya pelukan sedikit melepas rasa rindu.


__ADS_2