
Pertemuan Revan dan Tasya di pantai terdengar oleh kakak sepupu laki-laki Tasya.
"Tasya. Kamu beneran pacaran sama Revan?" Selidik Dafi kepada Tasya.
"Kakak, mana ada pacarku." Jawab Tasya mengelak.
"Kamu kok pacaran sama orang kaya gitu. Kamu kalau pacaran cari cowok yang bener." Kata Dafi menasehati Tasya.
"Kenapa kakak ngomong begitu. Seenaknya menilai orang." Tasya membela diri.
"Memang kamu sudah kenal Revan itu siapa?Apa kamu tidak lihat tatonya Revan. Tasya... Tasya..." Dafi menggelengkan kepala merasa heran dengan adiknya yang salah pilih pasangan.
Tasya tidak percaya dengan omongan Dafi.
Dafi adalah anak bibi Nesa. Dafi sangat protektif kepada Tasya, apalagi dia sudah tahu Tasya pacaran dengan Revan.
Dafi sangat kenal Revan itu siapa. Wajar Dafi menasehati Tasya seperti itu.
"Mana aku tau dia punya tato. Aku tidak pernah ketemu sama dia." Tasya berdalih.
"Terus yang kemarin dipantai?" Selidik Dafi.
"Kan enggak berdua aja. Aku ke pantai sama bibi juga kan kemarin."
"Awas kalau sampai kakak lihat kamu berdua sama dia." Ancam Dafi kepada Tasya.
"Pantas saja dari kemarin Revan selalu memakai Hoodie." Bisiknya dalam hati.
Apa Tasya harus mengakhiri hubungannya dengan Revan yang sudah berjalan 8 bulan.
__ADS_1
"Kak Dania, kenapa kak Dafi tau aku pacaran sama Revan?" Tanya Tasya heran.
"Di pantai banyak orang Sya, siapa tau ada temannya kak Dafi disana yang lihat kamu kemarin."
"Tadi kak Dafi marah-marah sama aku kak."
"Dia marah kenapa?" Selidik Dania penasaran.
"Pacaran kok sama orang seperti Revan. Awas aja kalau sampai kakak lihat kamu berdua sama dia." Tasya berusah mencopy kata-kata Revan untuk disampaikan ke Dania.
"Sya... Sya... Itu aja kamu pikirin." Kata Dania terlihat santai.
"Kak Dania gampang banget sih ngomong." Tasya kesal dengan sikap Dania.
"Sampai kapan kamu diawasi kak Dafi. Kamu itu sudah dewasa. Wajarlah pacaran." Kata Dania meyakinkan.
"Iya sih. Kalau enggak sama Revan mungkin kak Dafi enggak marah. Kata kak Dafi, Revan punya tato."
"Aku aja enggak percaya kak. Dia seperti terlihat kalem gitu."
"Setau ku sih dia dulu di sekolah, orangnya nakal, usil, sering bolos juga sih." Dania mendeskripsikan Revan saat masa sekolah.
"Iiih... Kak, aku jadi ragu nih. Apa aku akhiri saja ya?" Tasya terlihat mengangkat bahunya mendengar deskripsi Dania.
"Jangan Sya. Revan sayang sama kamu, kamu juga pasti udah sayang banget kan sama dia. Jangan sampai kamu mudah terpengaruh omongan orang. Kalau memang pantas diperjuangkan, ya diperjuangkan." Kata Dania menasehati Tasya.
Tasya sudah terlanjur menaruh hati kepada Revan.
"Sudahlah, yang penting aku tidak ketemu dengannya." Kata Tasya mengobrol sendiri yang sedang memikirkan perkataan Dafi.
__ADS_1
***
"Tasya nanti aku belikan boneka ya?" Kata Revan yang sedang mengobrol dengan Tasya melalui sambungan telepon.
"Enggak usah kak." Tasya selalu menolak dengan pemberian Revan.
"Kok panggil kakak sih. Panggil Abang dong sayang, masa sudah 9 bulan pacaran belum bisa dibiasakan." Kata Revan protes karena dipanggil kakak terus oleh Tasya.
"Abang..." Suara Tasya terdengar lirih.
"Iya sayang." Revan antusias menjawab Tasya yang hanya terdengar lirih.
"Siapa juga yang manggil." Tasya menjadi tersipu malu.
"Itu kan tadi. Ayolah malu sama siapa sih. Kita udah pacaran 9 bulan masa masih malu."
"Abang..." Tasya terus saja berusaha mengucapkannya, terasa geli sekali didalam hatinya, karena dia tidak bisa mengeluarkan suara tawanya.
"Dibiasakan ya. I Love You sayang." Ucap Revan lembut.
"E'em." Kata Tasya.
"Dijawab dong. Masa Abang seperti jatuh cinta sendiri." Protes Revan.
"I Love You too." Kata Tasya.
"Yang lengkap." Pinta Revan.
"I Love You too Abang." Tasya berusaha keras mengucapkan kalimat itu.
__ADS_1
Sementara diseberang telepon Revan sangat bahagia.