
Tasya. Kakak beneran kaget banget lihat Revan tadi malam."
"Apalagi aku, hampir pingsan kak."
"Terus gimana lagi. Kakak harap kamu jangan berpikiran untuk mengakhiri hubunganmu dengan Revan." Tasya mengerenyitkan dahi menyelidik Tasya.
"Aku bingung kak, aku beneran sudah sayang sama Revan. Bagaimana kalau keluarga kita nanti tau kalau Revan punya tato. Siapa yang setuju dengan dia." Kata yang terlihat bingung menjawab Dania.
"Tasya, kamu itu sudah dewasa. Kalau kamu sudah merasa nyaman dengannya. Pertahankan Tasya." Dania memberi saran kepada Tasya.
Mereka membahas pertemuan tadi malam, dan baru tahu yang sebenarnya tentang Revan yang mempunyai Tato.
Ternyata omongan Dafi bukan hanya kebohongan semata.
Tasya menjadi bingung, dan menghindari Revan.
Setiap Revan menghubungi dia beralasan sibuk supaya tidak lama-lama di telepon oleh Revan.
"Sya, kamu sekarang beda. Setiap aku telepon pasti kamu marah-marah dan cuek." Kata Revan dari seberang telepon yang mulai menyadari perubahan Tasya.
"Enggak." Tasya menjawab singkat.
"Apa kamu sudah bosan dengan hubungan kita?"
"Enggak." Jawab Tasya ketus.
"Sayang maaf kalau aku punya salah. Kalau ada hal yang kamu benci dari aku tolong jujur jangan dipendam." Revan berusaha memperbaiki hubungannya dengan Tasya.
Tut...
Tut...
__ADS_1
Tut...
Sambungan teleponnya diputus oleh Tasya.
"Apaan sih Revan, lebay." Sungutnya mengobrol sendiri.
Tasya berusaha membuat Revan untuk membencinya. Tapi sia-sia saja yang dilakukannya. Semakin Tasya berusaha membuat Revan benci semakin Revan berusaha membuat Tasya tersanjung.
Perkataan Dafi masih terngiang di kepalanya. Apalagi kalau keluarga besar mereka tau Tasya pacaran sama orang seperti Revan, pendapat mereka akan sama seperti Dafi.
Dimana orang yang punya tato itu pasti pemabuk, mempunyai jiwa yang kasar dan berandalan.
"Tasya... Temani bibi belanja yuk." Terdengar suara Bibi Nesa yang sudah menunggu di depan rumah Tasya.
"Iya Bi. Tasya ganti baju dulu sebentar." Tasya berlalu menuju kamarnya, kemudian menemui Bi Nesa
"Memangnya Kak Dafi pergi kemana?" Tanya Tasya heran, karena biasanya Dafi yang selalu menemani Bibi Nesa belanja.
Sesampainya didepan toko, banyak anak muda seusia Dafi nongkrong disana. Bibi Nesa melihat salah seorang dari mereka yang mempunyai tato penuh ditangannya.
"Kasihan anak muda sekarang, merusak dirinya dengan tato." Suara Bi Nesa lirih, sembari menatap tongkrongan anak muda tersebut.
"Sya, apa pacarmu punya tato." Selidik Bi Nesa kepada Tasya.
"Eeh... Eeh... Apa Bi?" Tasya kaget mendengar pertanyaan bibinya itu.
"Jangan sampai pacaran sama yang punya tato." Kata Bi Nesa sengaja menyindir Tasya.
"Pasti Kak Dafi yang ngasih tau Bi Nesa perihal Revan dan Bi Nesa sengaja menyindirku." Bisik Tasya didalam hatinya.
***
__ADS_1
Tasya merasa kalut dan galau. Kenapa dia tidak tau dari awal tentang Revan sebelum dia menaruh hati terlalu jauh.
Dia memutar lagu di ponselnya. Tasya mendengar setiap lirik lagu itu. Lagu yang sering disenandungkan Revan ditambah alunan gitar untuknya membuatnya semakin merindukan Revan.
Bagiku semua sangat berarti lagi
Kuingin kau di sini
Takkan pernah ada yang lain di sisi
Segenap jiwa hanya untukmu
Dan takkan mungkin ada yang lain di sisi
Ku ingin kau di sini tepiskan sepi ku bersamamu
Hingga akhir waktu
Hingga akhir waktu, uh
Takkan pernah ada yang lain di sisi
Segenap jiwa hanya untukmu
Dan takkan mungkin ada yang lain di sisi
Ku ingin kau di sini tepiskan sepi ku bersamamu
Hingga akhir waktu
Terasa air mata mengalir dipipinya. Dia tidak ingin ada perpisahan antara dirinya dan Revan.
__ADS_1