
Hubungan Tasya dan Revan terjalin sangat baik.
Semakin besar kasih sayang dan cinta yang diberikan Revan untuk Tasya.
Begitu juga Tasya merasa jatuh cinta dengan Revan.
Baru pertama Tasya mendapatkan seorang laki-laki yang setia menemaninya hanya lewat panggilan telepon.
"Aku rindu Sya." Suara Revan dari seberang telepon.
"Kan setiap hari telpon." Jawab Tasya.
"Aku pengen ketemu, mau lihat kamu." Kata Revan yang sudah tidak sanggup lagi menahan rindu.
Tasya tidak menjawab.
"Sya. Boleh ya?" Revan memohon.
Tetap saja tidak ada jawaban dari Tasya.
"Sekali saja Sya, kamu bisa keluar sama aku nanti tahun baru."
"Enggak bisa." Jawab Tasya.
"Kita ajak Dania sama Arya. Mau ya Sya."
"Nanti kita lihat."
"Iya. Tapi aku sangat berharap kamu bisa. Ntar kamu ambil cokelatnya di Dania ya, kemarin aku titip." Pesan Revan.
Revan sudah tidak sanggup menahan Rindu setelah 8 bulan dari pertemuan mereka di pasar malam.
Sesekali Revan menitip cemilan untuk Tasya melalui Dania.
Revan sehari-hari bekerja disebuah bengkel di desanya. Dia mandiri dan pekerja keras.
"Dania sebentar lagi tahun baru, kemana rencanamu?" Revan menghubungi Dania.
"Enggak tahu nanti Arya ajak aku kemana."
"Kita ke pantai aja. Kamu bujuk Dania dari sekarang." Pinta Revan.
"Baiklah. Biar aku kasih tahu Arya juga."
Tahun baru telah tiba Tasya sudah menyetujui ajakan Revan untuk pergi ke pantai.
Dania dan Arya bersiap pergi. Tasya pergi bersama bibi Nesa. Bibi Nesa saudara dari bapaknya Tasya. Dia janda beranak satu, makanya selalu siap untuk diajak pergi sama Tasya. Tasya dan Revan sudah berjanji untuk bertemu di pantai.
"Kak, aku malu nih ketemu sama Revan. Aku enggak percaya diri kak." Kata Tasya yang khawatir dengan kencan pertamanya.
__ADS_1
"Percaya diri dong Tasya. Kamu itu cantik. Apa yang buat kamu malu sama pacar sendiri." Dania meyakinkan Tasya.
Revan sudah kelihatan dari jauh, lelaki yang selalu memakai Hoodie itu kemudian menghampiri Tasya.
"Kita mandi dulu yuk Bi." Ajak Dania supaya mereka memberikan waktu berdua untuk Tasya dan Revan.
"Tunggu... Aku juga mau ikut mandi." Kata Tasya menjadi salah tingkah. Terasa jantungnya berpacu kencang.
Dania, Arya, dan Bibi Nesa bergegas meninggalkan pasangan kekasih itu.
"Udah lama nunggu?" Tanya Revan membuka pembicaraan diantara mereka.
"Eng... Enggak kok." Jawab Tasya gugup.
"Kamu enggak malu kan punya pacar seperti aku?" Tanya Revan yang tidak pernah bisa mengalihkan perhatiannya dari Tasya sedari tadi.
"Mmm.." Tasya tidak bisa berkata apa-apa.
"Maaf ya pacar mu jelek, maklum kerja dibengkel." Timpal Revan.
Dari kejauhan Arya dan Dania memperhatikan mereka. Yang sedang asyik mandi dengan pelampung.
"Lihat tu Tasya seperti mati kutu." Kata Arya kepada Dania.
"Hehe... Maklum baru pertama pacaran."
"Setau ku sih. Karena dia hanya cerita sama aku, kalau lagi ada cowok yang ngedeketin dia, dan cuma Revan yang aku lihat bisa jadi pacar Tasya." Jelas Dania.
"Waaah... Hebat Revan bisa menaklukan Tasya."
"Sya.... Sini... Gabung." Teriak Dania yang melihat adiknya sudah salah tingkah.
"Mau mandi?" Tanya Revan.
"E'em" Tasya mengangguk.
Revan membuka Hoodie nya, dia memakai kaos lengan panjang. Dia memegang tangan Tasya berjalan menuju pantai.
Tasya mendongakkan kepalanya menatap Revan.
"Ayo buruan nyebur ke dalam air." Teriak Bibi Nesa.
"Aku sewa pelampung dulu." Kata Revan.
Mereka kemudian ikut bergabung bersama yang lainnya.
Sepasang kekasih itu sangat menikmati moment kebersamaan mereka.
"Bi Nesa kita makan duluh deh." Dania mengedipkan mata memberi kode kepada Bi Nesa untuk meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
"Iiihh Kak Dania apa-apan sih. Tadi manggil, belum lama kita disini sudah ditinggal." Kesal Tasya dalam hatinya.
Mereka segera meninggalkan mereka, dan berlalu untuk memesan makanan.
"Sya, Aku sayang kamu. Kamu jangan pernah ninggalin aku ya." Bisik Revan sembari menggenggam erat tangan Tasya di atas pelampung.
"E'em" Tasya mengangguk.
Kemesraan mereka semakin erat ditengah ombak pantai. Betapa bahagianya Revan bisa sedekat itu dengan Tasya.
"Sya." Revan berusaha dekat dengan pipi Tasya seperti ingin mendaratkan ciuman hangat dipipi putih Tasya.
Tasya berusaha menghindar.
Perlahan-lahan Tasya merasa dekapan tangan Revan sudah berada di pinggangnya.
Tasya bingung entah apa yang harus dia lakukan.
Semakin Tasya menghindar semakin erat tangan Revan mendekap pinggang Tasya.
Revan dimabuk cinta ditengah gelombang laut. Ia berharap kemesraan ini akan berlanjut selamanya.
Tasya yang merasa tidak nyaman dengan dekapan Revan berusaha melepas tangan Revan, tetapi tidak ingin membuatnya kecewa.
"Kita makan dulu, aku udah laper." Kata Tasya memberi alasan.
"Nanti dulu sayang." Bisik Revan lembut tidak mau melepas tangannya dari pinggang Tasya.
Jantung Tasya berdetak sangat kencang.
"Apa yang membuatku bisa lepas darinya" Bisik Tasya didalam hati.
"Tasya... Revan... Makan dulu, makanannya sudah siap." Teriakan Dania membuat Revan melepas tangannya seketika.
"Hah..." Dania menghembuskan nafas lega.
Revan tidak ingin momen itu berakhir.
Mereka segera bergabung untuk menyantap makanan di pinggir pantai.
"Ini pacarnya Tasya." Bibi Nesa melirik Revan dan Tasya.
"He... Iya Bi." Jawab Revan tersipu malu.
Revan yang membayar semua makanan yang disantap saat itu.
"Ditraktir bos nih." Kata bibi Nesa.
"Ahh. Bibi, jangan ngomong begitu."
__ADS_1