
Mbak bungkus satu porsi." Pinta Revan kepada pelayan warung bakso.
"Terimakasih atas waktunya Dania. Titip ini ya untuk Tasya." Revan memberikan sebungkus bakso kepada Dania.
"Sama-sama. Lain kali jangan sungkan buat ajak kita ketemu, dan semoga Tasya selalu enggak bisa." Senyum Dania merekah di bibirnya.
"Jangan gitu dong. Bujuk Tasya biar kapan-kapan bisa aku ajak ketemu." Kata Revan.
"Bercanda kok. Itu semua gampang diatur yang penting kamu selalu hubungi aku." Dania mengacungkan jempolnya.
"Aku pulang dulu. Titip salam buat Tasya." Revan berlalu meninggalkan Dania dan Nita.
***
"Sya... Buka pintunya." Teriak Dania di depan pintu rumah Tasya.
"Mmm... Ada apa?" Muka Tasya terlihat kesal.
"Kenapa kesal gitu mukanya Sya? Makanya ikut tadi biar happy." Seru Dania menggoda Tasya.
"Siapa yang kesal." Tasya berdalih.
"Nih. Revan titip ini buat kamu." Dania menyerahkan sebungkus bakso kepada Tasya.
"Kenapa tidak dimakan semuanya disana tadi." Tasya semakin menjadi kesal.
"Ciiiee... Yang jealous," Dania terus saja menggoda Tasya. "Aku enggak nginap ya malam ini."
"Iya. Tapi besok datang lagi ya."
"Pastinya." Dania berlalu meninggalkan Tasya.
Sesampai di dalam rumah buru-buru Tasya membuka baksonya. Dia yang sedari tadi lapar menyantap baksonya dengan sangat lahap.
"Waooow... Tau aja si Revan kesukaan aku." Tasya mengobrol sendiri melihat bakso dihadapannya dengan porsi jumbo.
__ADS_1
"Sudah makan baksonya cantik." Chat Revan kepada Tasya.
"Sudah. Terimakasih." Balas Tasya ketus.
"Kamu sudah log in ke akun Facebookku?" Tanya Revan penasaran.
"Sudah. Kenapa?"
"Biar kalau ada yang chat aku kamu aja yang balas."
"Enggak bisalah. Balas aja sendiri. Aku enggak mau ikut campur urusan orang lain."
"Oh ya udah . Kamu tidur dulu yah. Enggak baik cewek begadang. Semoga mimpi indah Tasya."
Tasya senyum-senyum sendiri membaca isi chat Revan kepadanya.
Tasya memang orangnya cuek kepada cowok.
Dari dulu mana ada cowok yang betah chatting sama dia. Kebanyakan dari mereka selalu mengalah memilih meninggalkan Tasya.
***
"Keluar kemana?" Balas Tasya heran.
"Di depan rumahmu." Jawab Revan singkat.
Tasya berlari membuka pintu. Dia terkejut melihat Revan yang masih duduk di atas motornya.
"Ngapain kesini?" Tanya Tasya kesal kepada Revan.
"Cuma mau nganter ini aja." Revan memberikan sebuah cokelat bergambar love kepada Tasya.
"Malu dilihat tetangga. Udah sana pulang."
"Iya... Iya. Ini juga pulang." Revan berlalu meninggalkan Tasya.
__ADS_1
"Kenapa dia tau rumah aku? Pasti Kak Dania nih biang keroknya." Sementara perasaan Tasya menjadi tidak karuan. Baru pertama kali ada lelaki yang berani menyampari ke rumahnya.
"Tasya maaf ya tadi aku bikin kamu terkejut." Revan chat Tasya setelah dia sampai rumahnya.
"Kenapa sebelum datang enggak telpon dulu."
"Kalau aku telpon dulu kamu pasti nolak."
"Tapi setidaknya kasih tahu dulu dong. Jangan tiba-tiba nongol kaya tadi. kok kakak tahu rumah aku?" Tanya Tasya penasaran.
"Hati ku yang menuntun aku ke rumah mu." Jawab Rehan.
"Jangan Lebay deh."
"Serius. Tasya boleh aku telpon? Aku mau ngomong sesuatu."
"Iya udah."
Mereka berdua beralih berbicara di panggilan telepon.
"Tasya." Panggil Revan lembut.
"Iya."
"Kamu mau jadi pacar aku?" Revan menyatakan perasaan kepada Tasya.
"Belum kenal juga. Masa udah diminta jadi pacarnya." Jantung Tasya mulai berdetak kencang. Dia berusaha menenangkan dirinya.
"Aku serius. Kamu kasih jawaban dong." Revan berharap.
"Enggak kak. Aku enggak bisa jawab."
"Tinggal jawab iya atau enggak aja. Kamu mau aku nyatain perasaan langsung?" Revan memilih mengungkapkan perasaannya lewat telepon karena dia tahu Tasya susah diajak ketemu.
"Enggak. Nanti aja aku jawab kak." Gini nih. Kalau playboy bilangnya gampang jawab iya atau enggak.
__ADS_1
"Enggak apa-apa. Aku tetap menunggu jawaban kamu." Masih ada harapan untuk Revan diterima oleh Tasya.
Sementara Tasya masih dengan perasaan yang tidak karuan. Kenapa secepat itu Revan menyatakan perasaan kepada dirinya.