
🌹 Happy Reading 🌹
Jangan lupa tinggalin jejak dengan like dan komentarnya yah, ooh iya tekan bentuk hati agar tidak ketinggalan ceritanya yah. Salam sayang dari Author 🤗.
"Tapi tenang saja aku tidak akan melakukan hal itu padamu aku akan membebaskan mu melakukan apapun yang kamu mau dan aku akan membiayai semua kebutuhanmu." jelas Abizar.
"Aku bisa kerja ?" tanya Jenny dengan semangat.
"Iya." ucap Abizar dengan heran karena di luar ekspektasinya yang mengira bahwa jeni akan sedih dengan ucapannya.
"Jadi tidak akan ada malam pertama ?"tanya Jenny untuk memastikannya lagi.
"Iya, aku tidak akan melakukannya dengan wanita lain selain kekasihku." jawab Abizar menegaskan.
"Baguslah kalau begitu namun izinkan aku untuk melakukan kewajibanku sebagai seorang istri seperti menyiapkan keperluanmu dan lain-lain."
"Baiklah."
"Kamu tidak usah sungkan padaku anggap saja aku kakakmu, aku sudah menganggap mu sebagai adikku." ucap Abizar sedikit malu.
"Kakak ? baiklah kakak mulai sekarang kamu adalah kakakku." ucap Jenny dengan bahagia dan di balas anggukan oleh Abizar.
"Terimakasih sudah mengerti dengan keputusanku."
"Tidak, aku juga menginginkan hal ini."
"Btw, ini adalah hari pertama kita bertemu dan alangkah baiknya kita saling berkenalan bukan." ucap Jenny tersenyum dan menjulurkan tangannya.
"Benar." ucap Abizar dan menjulurkan tanggannya.
"Perkenalkan aku Abizar, aku berumur 30 tahun, dan aku seorang pengusaha terkenal di Indonesia." Abizar memperkenalkan diri.
"Perkenalkan aku Jenny, umur aku 25 tahun dan aku lulus dari Universitas Indonesia lulusan terbaik dari prodi Tata Busana, dan sedikit penjelasan aku akan mendaftar di perusahaan Kak desainer Dewi untuk melanjutkan cita-citaku atas izin kakak.
"Kamu mau jadi desainer ?" tanya Abizar.
"Iya, aku sangat ingin menjadi desainer terkenal di Indonesia dan sekedar informasi aku adalah penggemar Kak desainer Dewi." ucap Jenny tersenyum bahagia.
"Tenang saja aku akan mendukungmu, dan katakan saja jika memerlukan bantuanku."
"Benarkah..Ahhh makasih." teriak girang Jenny dan memeluk suaminya.
Jenny sadar bahwa dia memeluk suaminya dan dia mengetahui bahwa dia di luar batas.
"Maaf." ucap Jenny menjauh dari Abizar.
"Tidak apa-apa, akukan Kakakmu kamu tidak usah tegang seperti itu." ucap Abizar dengan wajah datarnya membuat Jenny tersenyum dan mengangguk.
"Sudah jam 12 malam sebaiknya kita tidur saja."
__ADS_1
"Ooh iya, btw aku tidur di mana ?" tanya Jenny.
"Tentu saja di kasur."
"Berdua ?" tanya Jenny mengangkat tangannya yang membentuk simbol V.
"Tentu saja berdua, apa kamu tidak dengar suara di luar pintu." tunjuk Abizar pada pintu.
"Kenapa ?"
"Disana ada Oma, Bunda, Bibi, Ayah, dan Asad yang sedang menguping." jelas Abizar memutar matanya dengan malas.
"Haa ? jadi mereka mendengar percakapan kita tadi." Jenny menutup mulutnya.
"Tenang saja, aku sudah memasang peredam suara di kamar kita jadi mereka tidak bisa mendengar percakapan apapun di kamar." jelas Abizar berjalan menaiki kasur.
"Terus kenapa kita harus tidur 1 kamar ?"
"Karena Oma mempunyai kunci kamar kita, tentu saja dia bisa masuk kapanpun dia mau, untuk jaga-jaga sebaiknya kita tidur 1 kasur."
"Kamu tidak keberatan bukan untuk 1 kasur sampai kita bercerai nantinya ?"
"A..aku tidak apa-apa lagi pula kita suami istri jadi sah aja." ucap Jenny ikut berbaring di samping Abizar dan menarik selimut sampai ke atas kepalanya.
"Aku bunuh lampunya yah."
"Oke." jawab jenny mengeluarkan jempolnya kembali membuat Abizar tersenyum.
Abizar mematikan lampu dan menarik selimut untuk masuk ke alam mimpi, dan disisi lain Jenny yang gugup perlahan tertidur. Tanpa Jenny sadari Abizar membuka selimut yang menutupi kepalanya dan melipatnya sampai di dada Jenny agar Jenny tidak sesak nafas saat tertidur, Abizar merapikan anak rambut Jenny sambil tersenyum.
"Terima kasih sudah mengerti atas keputusanku yang egois." gumam pelan Abizar di telinga Jenny yang tertidur pulas.
Abizar mengambil ponselnya dan melihat rekaman kamera cctv depan kamarnya, dia tersenyum melihat rekaman cctv.
"Kenapa tidak ada suara dari dalam ?" tanya Oma yang menempelkan kupingnya di pintu.
"Iya benar kenapa tidak ada suara apapun dari jalan." ucap Bibi Intan dengan membisik.
"Apa jangan-jangan mereka tidak melakukannya ?" gumam Bunda Dita.
"Atau jangan-jangan Kakak impoten." ucap Asad.
"Shuut, jangan asal ngomong kamu bocah." tegur Oma.
"Sial kenapa tidak suara sedikitpun dari dalam." ucap kesal Oma.
__ADS_1
"Sepertinya Abizar memasang alat peredam suara di kamarnya." sahut Ayah Satria yang tiba-tiba muncul di belakang Bunda Dita.
"Sayang." ucap Bunda Dita kaget dengan kehadiran suaminya karena Bunda meninggalkan suaminya saat dia tertidur.
"Apa yang Bunda lakukan di sini ?" tanya Ayah Satria.
"Hehehe."
"Apa itu peredam suara ?" tanya Oma yang tidak tahu apa benda itu.
"Benda itu berfungsi agar suara di dalam ruangan itu tidak keluar dari ruangan itu." jelas Asad.
"Astaga dasar cucu tengil, pantas saja kita tidak mendengar suara dalam ternyata dia memasang alat itu, membuat Oma penasaran saja dan lelah duduk menguping di sini." omel Oma berdiri dibantu oleh Asad dan Bibi Intan.
"Ayo kita kembali untuk istirahat saja ibu." ajak Bibi Intan.
"Tidak, aku ingin masuk untuk memastikannya sendiri." ucap Oma mengambil kunci di dalam sakunya.
"Apa yang bibi lakukan ?" tanya Ayah surya yang sudah dari tadi hanya diam memperhatikan kelakuan bibi yang sangat penasaran.
"Aku aku ingin melihat mereka apakah mereka melakukannya atau tidak." ucap Oma mencari kunci kamarnya.
"Tapi." ucap Ayah Surya namun di tahan oleh Ayah Satria memberitahu bahwa Oma memeng memiliki sifat yang keras kepala dan sangat penasaran.
Abizar yang melihat Oma akan membuka pintu kamarnya Abizar dengan cepat meraih Jenny dan memeluknya.
Oma dengan pelan-pelan masuk ke kamar mereka dan menyalakan senter di hpnya, Oma mendekati kasur dan melihat mereka berpelukan Oma tersenyum dan kembali mengendap-endap untuk keluar dari kamar mereka, Oma menutup pintu dan kembali mengunci pintu kamar Abizar dan Jenny.
"Ibu apa yang terjadi ?" tanya Bunda Dita.
"Mereka berpelukan." ucap Oma tersenyum bahagia.
"Ayo kita kembali." ajak Oma kepada mereka.
Sebenarnya bukan soal memeluk yang membuat Oma bahagia, namun pakaian Jenny yang tampak masih acak-acakan walaupun sudah menggunakan piyama Abizar. Oma mengira mereka sudah melakukan malam pertama dan Jenny menggunakan piyama Abizar setelah melakukan pertempuran itu.
"Apa mereka melakukan itu ?" tanya Bibi Intan.
"Iya mereka melakukannya." jawab Oma dengan girang.
"Ahh, Jenny berhasil tidak sia-sia aku memberikan parfum pemikat untuk Jenny gunakan." ucap Bunda Dita.
"Kakak memberi Jenny parfum yang kakak selalu gunakan ?" tanya Bibi intan dan dibalas anggukan.
"Kerja bagus." ucap Oma mengacaukan jempolnya.
"Kamu mau kemana, ayo kembali ke kamar." Ayah Satria menarik Bunda Dita ke kamarnya, mereka semua juga ikut kembali ke kamar mereka masing-masing.
__ADS_1
Thank you for reading 🌹 🌹🌹