Cinta Tumbuh Karena Nyaman

Cinta Tumbuh Karena Nyaman
Perkara Tanda Merah


__ADS_3

🌹 Happy Reading 🌹


Jangan lupa tinggalin jejak dengan like dan komentarnya yah, ooh iya tekan bentuk hati agar tidak ketinggalan ceritanya yah. Salam sayang dari Author 🤗.



Jenny memberontak namun tidak berhasil lepas dari gendongan Abizar, saat sampai di kamar Abizar meletakkan Jenny dengan pelan di kasur dan berdiri di depan Jenny sambil menatapnya.



"Apa yang kakak lakukan padaku semalam ?" tanya Jenny membuka kera bajunya."



"Aku tidak akan meminta maaf padamu, karena semalam aku terpaksa melakukannya agar mereka tidak curiga dengan pernikahan kita." ucap Abizar.



"Arogan sekali dia."batin Jenny.



"Emangnya semalam apa yang terjadi ?" tanya Jenny meminta penjelasan.



"Semalam Oma masuk ke kamar kita."



"Apa..astaga Oma benar-benar masuk ke kamar untuk mengecek." ucap Jenny tidak menyangka.



"Lalu apa yang akan kita lakukan jika Oma terus masuk ke kamar, apa Kakak akan setiap hari memberiku \*\*\*\*\*\* ini." ucap Jenny memperlihatkan lagi bekas \*\*\*\*\*\* di tubuhnya.



"Tutup tubuh mu itu." ucap Abizar mengalihkan pandangannya lagi.



"Tenang saja aku sudah mengambil kunci dari Oma, jadi Oma tidak akan masuk lagi ke kamar ini." ucap Abizar memperlihatkan kunci di tangannya.



"Baguslah kalau begitu." ucap Jenny tersenyum bahagia.



"Ooh iya aku ingin kita pura-pura menjadi pasangan yang bahagia di depan keluarga kita dan jangan pernah mengatakan yang aku katakan semalam padamu."



"Iya, aku mengerti." jawab ketus Jenny.



Jenny berjalan ke kamar mandi dengan kesal, Jenny menatap pantulan dirinya di cermin dan semakin kesal melihat banyak bekas \*\*\*\*\*\* di leher dan dadanya.



"Ahhh..kenapa banyak sekali." teriak Jenny membuat Abizar kaget.



"Sial seharusnya tadi aku bercermin dulu jika aku tahu banyak bekas sialan ini aku tidak akan keluar kamar, huwaaa ibuuu." teriak Jenny.



"Maaf aku sungguh terpaksa melakukannya." batin Abizar menyesal namun tetap memasang wajah datarnya.



\#Flash Back\#

__ADS_1



"Oma mau masuk, apa yang harus aku lakukan." gumam Abizar sedikit panik.



Abizar mengingat cerita sahabat yang mengerjai wanitanya, Abizar membuka 3 kancing piyama Jenny dan mengacak-acak rambut Jenny.



"Kenapa dia terlihat seperti habis berkelahi." gumam Abizar menatap aneh pada Jenny yang tertidur.



Abizar kembali ingat dengan cerita sahabatnya yang memberi banyak \*\*\*\*\*\* di dada wanitanya, Abizar sempat ragu mencium Jenny namun saat suara kunci mulai di buka dengan sigap Abizar memberi \*\*\*\*\*\* yang banyak di dada Jenny sebelum Oma berjalan ke kasur mereka.



Belum selesai Abizar melakukannya tiba-tiba Oma menyalakan senter membuat Abizar diam membeku memeluk dengan wajahnya berada di dada Jenny.



"Astaga pasangan yang penuh api gairah." gumam Oma tertawa kecil.



Oma mematikan senter hpnya dan mengendap-endap keluar dari kamar Jenny dan Abizar.



"Ibu apa yang terjadi di dalam ?" bisik Bibi Intan.



"Shuut.." Oma perlahan menutup pintu dan menguncinya.



"Fhuuu... selamat." gumam Abizar, dia menatap Jenny dan mengancing baju Jenny.




\#Flash Back On\#



Jenny keluar dari kamar mandi dan melihat sekalian kamar namun tidak melihat Abizar, Jenny berjalan mendekati kasur dan membaringkan tubuhnya.



"Aku tidak melakukan apapun tapi kenapa aku sangat lelah hari ini." gumam Jenny menyelimuti dirinya dan perlahan menutup matanya, tidak berapa lama dia pun tertidur.



Abizar yang sedari tadi berada di balkon melihat Jenny yang tertidur, Abizar terus menatap Jenny dengan wajah datarnya entah apa yang dia pikirkan hanya dia yang tahu.



Abizar perlahan meminum kopinya sambil menatap Jenny yang tertidur seperti bayi, dia meletakkan cangkirnya dan kembali mengerjakan pekerjaannya yang tertunda di laptop.



Abizar mengerjakan pekerjaan kantornya sampai jam 12.44 dia merentangkan tubuhnya karena sudah berjam-jam duduk dengan posisi sama. Abizar memperbaiki barangnya dan masuk ke kamar, dia melihat Jenny yang masih tertidur dengan nyenyak.



"Dia tidur atau mati." gumam Abizar karena pasalnya Jenny sudah tidur sedari pagi sampai sekarang.



"Hai bangun sampai kapan kamu mau tidur." ucap Abizar menggoyangkan tubuh Jenny menggunakan hpnya.


__ADS_1


"Emmh, 10 menit lagi Ayah." gumam Jenny menarik selimutnya dan menutupi wajahnya.



"Bangun sekarang jika tidak aku akan menyiram mu dengan air sebaskom." ancam Abizar.



"Iih, Ayah kok tega." ucap Jenny membuka selimutnya dan menatap dengan tatapan imut pada Abizar yang dia kira Ayahnya.



Jenny yang melihat Abizar membuatnya sangat kaget, Jenny segera bangun dari tidurnya walaupun dia oleng.



"Kak Abizar, apa yang kakak lakukan di kamarku ?" tanya Jenny masih belum sadar.



"Ini kamarku." ucap ketus Abizar dan meninggalkan Jenny.



"Ooh iya aku lupa, heheh." ucap Jenny menatap Abizar yang duduk di sofa sambil menatapnya dengan tangan yang melipat di dadanya.



"Kenapa kakak menatapku seperti itu ?" tanya Jenny.



"Barusan ada Ayah yang memberitahuku bahwa dia dan Ayahmu akan berangkat ke Paris besok lusa." ucap Abizar membuat Jenny membulatkan matanya.



"Ayahku berangkat ke Paris besok lusa ?"



"Iya, aku harap kamu bisa merelakannya pergi sendiri."



"Apa aku tidak bisa ikut ?" tanya Jenny karena masih tidak rela melepaskan sanga Ayah pergi sendiri untuk berobat.



"Tidak bisa, statusmu sekarang sebagai istriku apa yang akan orang katakan jika seorang istri meninggalkan suaminya saat pernikahan kita masih 4 hari." tegas Abizar.



Jenny menunduk sedih, dia mengerti bahwa dia sekarang sudah berganti status menjadi seorang istri dan tentu saja dia tidak boleh bertindak sembrono seperti dulu, namun disisi lain dia tidak bisa meninggalkan Ayahnya yang sakit pergi berobat sendiri.



"Tenang saja ada Ayahku yang menjaganya dan aku akan mengirim beberapa pengawalku untuk menjaga mereka." ucap Abizar berusaha menenangkan Jenny yang sedih.



"Benarkah." ucap Jenny mendongak menatap Abizar dengan tatapan sendu.



"Iya, anggap saja ini sebagai bentuk terimakasih karena kau sudah setuju dengan keputusanku." jelas Abizar tidak ingin memberi kesan baik pada Jenny.



"Terimakasih." gumam Jenny mulai menangis.



"Jangan menangis di hadapanku." ucap Abizar memutar bola matanya dan berdiri meninggalkan Jenny di kamar yang sedang menangis.


__ADS_1


Thanks you for reading 🌹🌹


__ADS_2