
🌹 Happy Reading 🌹
Jangan lupa tinggalin jejak dengan like dan komentarnya yah, ooh iya tekan bentuk hati agar tidak ketinggalan ceritanya yah. Salam sayang dari Author 🤗.
Jam 8 Jenny keluar dari kamar menggunakan dres berwarna pink, dia berjalan mengamati lantai 3 dia melihat 1 pintu di lantai ini. Jenny karena penasaran ingin membuka pintu itu, namun sadar bahwa dia masih termasuk tamu disini dan tentu saja tidak boleh sembarang menyentuh barang disini.
Jenny turun ke lantai 1 menggunakan tangga, sebenarnya ada lift di rumah ini namun Jenny lebih memilih naik tangga karena sekalian olahraga pagi.
Jenny dari lantai 2 melihat Nenek, Dita, dan Intan sibuk memerintah pelayan untuk membariskan beberapa troli berisi gaun, serta tas, dan Heels. Jenny kebingungan melihat mereka sangat sibuk.
" Oma, apa yang terjadi di sini ?" tanya Jenny pada Nenek yang masih memberikan instruksi pada pelayan.
" Ehh Jenny, kamu sudah datang." ucap Nenek dengan girang.
" Duduk disini dulu." ajak Nenek pada Jenny untuk berdiri di tengah-tengah barang-barang bran.
" Merlin cepat bawa gaun itu." perintah Nenek pada lelaki tapi bergaya wanita.
" Siap Nyonya." jawab Merlin dengan melembutkan cara bicaranya.
" Silahkan Nona manis, gaun ini sangat cocok untuk mu dengan renda yang berkilau bagaikan sinar bulan menyinari gelapnya malam seperti dirimu yang akan menyinari suamimu." ucap cerewet Merlin memperlihatkan 1 gaun putih yang cantik terpajang di manekin.
" Tentu saja dia gadis sempurna yang pernah aku temui." puji Dita merapikan anak rambut Jenny membuat Jenny tersipu malu.
" Ini juga cantik." Intan mengangkat heels berwarna merah.
" Itu terlalu mencolok untuk pernikahan." tegur Nenek.
" Padahal ini cantik looh."ucap Intan cemberut.
" Untuk hari H tidak cocok untuk sepatu itu, tapi nanti dipake untuk pesta dansa nanti." ucap Satria.
__ADS_1
" Betulkan Kak ?" tanya Satria pada Ayah Surya.
" Iya sepatu itu cocok untuk acara pesta dansa nanti."
" Ahhh ada pesta dansa, pasti sangat seru dan Jenny kita akan menjadi sorotan karena kecantikannya."
" By the way, ini heels Kak bukan sepatu." ucap Intan mengangkat sepatu itu.
" Ooh iya heels." ucap Ayah Surya dan Satria.
" Sini coba dulu sayang." ajak Intan mendudukkan Jenny di sofa dan jongkok di depan Jenny.
" Bibi, biar aku yang memasangnya." cegah Jenny saat Intan melepas sandal Jenny.
" Biar Bibi yang pasangkan." tegas Intan membuat Jenny nurut.
Intan menarik pelan Jenny ke tengah dan menyuruh Intan berputar, semua orang tersenyum.
" Sangat cantik." puji Dita.
" Terimakasih Bibi."
" Sangat cantik, Jenny kemari dan gunakan dres merah ini." panggil Nenek dan menunjuk dres yang tergantung.
Jenny di antar oleh beberapa pelayan untuk ganti baju di kamar tamu, setelah 30 menit Jenny pergi ganti baju akhirnya dia keluar membuat semua mata tertuju padanya.
" Wow..." ucap Dita dan Intan.
__ADS_1
" Wow, Jenny kami sangat cantik." puji Nenek memutari Jenny.
" Gaun ini sangat cocok untukmu, dia menambah aura ke cantikan mu." tambah Nenek. Jenny tersenyum malu mendengar pujian mereka.
Jenny dipilihkan baju oleh Nenek, Bibi Intan, dan Bibi Dita selama 3 jam lebih. Pada akhirnya pilihan mereka jatuh pada gaun putih Ball gown dan gaun merah A Line dress yang sangat indah.
Tak terasa malam sudah tiba dan waktunya mereka untuk makan malam. Mereka makan malam bersama namun calon suami Jenny tidak pernah muncul padahal Jenny sudah genap 3 hari di mansion ini.
" Surya Jenny ada yang ingin Oma katakan." ucap Oma setelah melihat Ayah Surya dan Jenny selesai makan.
" Apa yang ingin Bibi katakan ?" tanya Ayah Surya bingung.
Oma hanya memberikan isyarat tangan untuk mengikutinya, Oma berjalan ke ruang keluarga dan duduk di sofa, semua orang berjalan mengikuti Oma. Ayah Surya dan Jenny ikut duduk di sofa dengan kebingungan.
" Jenny, Oma ingin bertanya sebelum mengatakan hal penting ini." ucap Oma membuat Jenny semakin bingung.
" Jenny apa kamu yakin ingin melanjutkan pernikahan ini ?" tanya Oma membuat Jenny mengalihkan pandangannya.
" Sebenarnya aku belum siap tapi aku tidak ingin Ayah khawatir dan tidak tenang saat dia sudah pergi dari dunia ini." batin Jenny.
" Setelah Oma pikirkan, sepertinya keputusan Oma untuk menjodohkan kalian adalah keputusan yang egois." jelas Oma.
" Oma tidak mau kalian menikah di bawah tekanan perjodohan." tambah Oma. Ayah, merangkul Bahu Jenny.
" Jenny kamu bisa menolak nak jika tidak ingin melakukan pernikahan ini." bujuk Ayah karena ia sejujurnya tidak rela untuk menikahkan anaknya karena dia tahu bahwa Jenny memiliki banyak cita-cita yang ingin dia raih sebelum menikah.
Jenny diam merenung mendengar ucapan Oma dan Ayah, Jenny menghela nafas panjang dan mendongak tersenyum ke arah Oma.
" Aku setuju kok Oma Ayah untuk menikah." jawab Jenny tersenyum, sebenarnya dari lubuk hatinya dia ingin mengatakan tidak tapi dia harus pura-pura tersenyum dan setuju dengan pernikahan ini.
__ADS_1
Thanks you for reading 🌹🌹