
🌹 Happy Reading 🌹
Jangan lupa tinggalin jejak dengan like dan komentarnya yah, ooh iya tekan bentuk hati agar tidak ketinggalan ceritanya yah. Salam sayang dari Author 🤗.
"Jenny...." panggil Bunda Dita.
"Iya Bunda." jawab Jenny sambil berlari menuruni tangga.
"Hati-hati sayang." ucap Bunda Dita khawatir.
"Bunda ayo pergi." ucap Jenny merangkul tangan Bunda Dita.
"Let's go." teriak Bunda Dita penuh semangat.
Mereka berdua naik ke mobil dan mobil perlahan meninggalkan kawasan mansion.
"Bunda mau pergi ke pasar yang mana ?" tanya Jenny karena dia tidak tahu letak pasar di Jakarta.
"Bunda lupa nama pasarnya, tapi Pak Faisal tahu kan pasarnya ?" tanya Bunda Dita.
"Iya Nyonya, kita akan pergi ke Pasar Murah Meriah."
"Wahh." ucap Jenny.
"Jenny, ini pertama kalinya Bunda belanja di pasar." ucap Bunda Dita merasa gugup.
"Bunda tidak tahu cara belanja di tempat seperti itu, kamu bisa kan belanja di pasar tradisional ?"
"Tenang saja Bunda, aku tahu kok belanja di pasar tradisional." ucap Jenny dengan bangga.
"Syukurlah."
"Tapi Bunda, apa tidak apa-apa kita tidak menuruti kak Abizar untuk belanja di pasar ?" tanya Jenny khawatir jika Abizar marah.
"Tidak apa-apa, aku ini Ibunya mana mungkin dia membantahku."
"Jika tidak ingin makan, yah sudah jangan makan." ucap Bunda bodoh amat dengan perkataan Abizar.
Jenny hanya tersenyum kecil karena setuju dengan perkataan Bunda Dita.
Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di pasar tradisional yang terlihat dangat banyak pengunjung dan jalan sedikit macet.
"Wahh, ternyata banyak orang yah." ucap Bunda Dita melihat sekeliling pasar.
"Nyonya saya akan menunggu Nyonya disini." ucap Pak Faisal setelah memarkirkan mobilnya.
"Baiklah, tunggu kami disini yah Pak."perintah Bunda.
Bunda Dita menarik nafas panjang dan menghembusnya, Bunda Dita berusaha menenangkan dirinya dan menatap Jenny dengan penuh semangat.
"Ayo kita belanja." ucap Bunda Dita mengepalkan kedua tangannya dengan penuh semangat.
Bunda Dita turun mobil dengan senyum manisnya dan berjalan masuk ke pasar.
"Bunda tunggu aku." teriak Jenny berlari menyusul Bunda.
__ADS_1
Saat Bunda Dita memasuki pasar tiba-tiba seorang pria keluar dari pasar membawa gerobaknya, yang membuat Bunda digital seketika kaget dan mundur.
"Permisi...permisi.."teriak pria itu yang mendorong gerobaknya yang berisi sampah sayur-sayuran.
"Ahhh..." teriak Bunda Dita menghindari gerobak pria itu.
"Bunda tidak apa-apa." ucap Jenny menghampiri Bunda.
"A.. aku tidak apa-apa kok, tapi kenapa dia membawa sampah sebanyak itu ? apa tidak ada tugas pembersihan ?" tanya Bunda Dita heran karena dia tidak pernah dia melihat hal seperti ini, tugas membersihkan sampah itu dilakukan saat subuh hari dan sore hari saat tidak ada pelanggan.
Jenny hanya diam karena sejujurnya dia tidak tahu harus menjelaskan apa kepada Bunda Dita.
"Ayo kita masuk Bunda."ajak jennie mengandeng tangan Bunda memasuki pasar yang cukup ramai.
Bunda mengamati sekelilingnya yang penuh penjual dan pembeli, selain itu Bunda sedikit kesusahan berjalan karena jalan di pasar sangat becek.
"Ikan Nila 40 ribu.." teriak penjual.
"Sayur...sayur...." teriak masyarakat pasar dan masih banyak lagi.
"Bunda mau beli apa ?" tanya Jenny berbalik kepada Bunda yang masih mengamati sekitar pasar.
"Bunda.." panggil Jenny pada tidak mendengar panggilan Jenny karena terlalu fokus mengamati sekeliling pasar.
"Ahhh iya, kamu panggil Bunda ?" tanya Bunda pada Jenny dengan tatapan bingung.
"Jenny tanya Bunda mau beli apa ?"
"Oke." ucap Jenny membaca sambil mencari bahan yang mereka cari.
"Pak, ayamnya 1 ekor berapa ?" tanya Jenny.
"80 ribu dek."
"Mahal banget Pak, boleh yah 60 ribu." tawar Jenny.
"Tidak bisa dek, ini sudah termasuk murah, di tempat lain tidak ada yang menjual semurah ini apalagi ayam yang saya jual sangat segar dan besar." tolak Penjual itu.
"Masa sih Pak ?" ucap Jenny tidak percaya.
"Serius saya dek, kalau tidak percaya coba lihat." tunjuk Penjual itu memberikan Jenny ayam yang termasuk besar.
Jenny melihat dan memeriksa ayam itu, diapun mengangguk seperti percaya dengan perkataan penjual.
"Bagaimana kalau 70 ribu dehh pak, kalau bapak mau saya beli ayamnya." tawar Jenny lagi membuat Bunda bingung karena pasalnya Bunda tidak pernah menawar seperti itu.
"Aduh tidak bisa dek, harganya tetap 80 ribu."
"Aishh, kalau begitu saya pamit dulu yah pak." ucap Jenny meninggalkan penjual ayam itu.
"Jenny kenapa tidak beli ayam itu ?" tanya Bunda.
__ADS_1
"Beli kok Bun, tunggu saja sebentar." ucap Jenny membuat Bunda semakin bingung.
"1...2...3..." Jenny menghitung dan tiba-tiba penjual itu memanggil Jenny.
"Dek...dek.." teriak penjual ayam membuat Jenny tersenyum dan berbalik.
"Iya Pak."
"Yah..udah 70 ribu." ucap penjual itu tersenyum kecut.
"Yeahhh." gumam kecil Jenny membuat Bunda tersenyum kecil.
"Saya beli 3 ekor yah pak." pesan Jenny.
"Ini ayamnya." ucap penjual ayam dengan senyum terpaksa.
"Ini uangnya Pak, makasih." Jenny memberikan 300 ribu dan meninggalkan penjual ayam itu.
"Dek..uangnya lebih."
"Buat bapak aja." ucap Jenny tersenyum membuat Bunda tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Selesai mereka membeli semua bahan dapur, mereka memutuskan untuk pulang ke mansion.
Mobil Jenny dan Bunda Dita sampai di depan mansion, mereka keluar dari mobil dan mengambil tas belanjaan mereka.
"Wahh... hari yang sangat menyenangkan." ucap Bunda dengan girang.
"Kalian sungguh dari pasar tradisional ?" tanya Bibi Intan.
"Iya dong." ucap Bunda dengan sangat senang.
Mereka pun berjalan memasuki mansion dan membawa tas belanjaan mereka ke dapur.
"Bi tolong bersihkan belanjaannya ya." perintah Bunda memberikan tasnya pada kepala pelayan mansion.
"Baik nyonya." ucapnya mengambil tas belanjaan.
"Astaga sudah jam 16.00, aku harus masak makan malam buat kak Abizar." gumam Jenny dengan bahagia, saat Jenny berjalan ke arah dapur tiba-tiba hpnya berdering.
"Hallo kak, ada apa ? tumben nelpon." tanya Jenny pada Abizar.
📞 : "Maaf nona, ini saya sekertaris tuan Abizar."
"Ooh iya." ucap Jenny.
📞 : "Saya di tugaskan untuk memberi tahu anda bahwa, nona tidak perlu membawa makan malam ke perusahaan karena tuan sedang keluar untuk makan malam dengan orang penting." jelas sekertaris.
"Oalah, ya udah terimakasih atas infonya kak." ucap Jenny.
📞 :” Sama-sama nona." ucap sekertaris dan memutuskan panggilan.
Jenny berdengus pelan dan kembali ke kamarnya dengan tatapan lesu.
__ADS_1
Thanks you for reading 🌹🌹🌹