Cinta Tumbuh Karena Nyaman

Cinta Tumbuh Karena Nyaman
Bunga Peony


__ADS_3

🌹 Happy Reading 🌹


Jangan lupa tinggalin jejak dengan like dan komentarnya yah, ooh iya tekan bentuk hati agar tidak ketinggalan ceritanya yah. Salam sayang dari Author 🤗.



Jenny berlari keluar dari mansion menggunakan training hitam dan baju hitam berlengan pendek.



"Bibi aku sudah siap." teriak Jenny yang berlari ke arah Bibi Intan.



"Kamu sudah ganti baju." tanya Bibi Intan berbalik melihat Jenny.



"Sudah." jawab Jenny merentangkan tangannya sambil berputar, membuat Bibi Intan tersenyum.



"Bibi aku bantu apa ?" tanya Jenny sambil jongkok di samping Bibi Intan yang mengukur jarak batang pohon dan memberikan taburan tepung di pinggir tanaman yang di ukur.



"Bibi kenapa mengukurnya seperti itu ?" tanya Jenny penasaran.



"Bibi sengaja mengukurnya agar lebih mudah memindahkan tanamannya ke vas bunga dan juga tidak membuat akar tanama nya tidak rusak." jelas Bibi Intan.



"Ooh, Bibi apa yang harus aku lakukan." ucap Jenny merentangkan tangannya.



"Bantu Bibi ambil skop itu." perintah Bibi menunjuk skop.



"Oke." Jenny dengan penuh semangat berlari kecil mengambil skop.



"Ini Bi."



"Makasih." Bibi mengambil skop dan mulai menyekop mengikuti garis tepung, Jenny memperhatikan Bibi Intan yang sangat ahli menyekop bunga itu.



"Jenny bantu Bibi mengangkat bunganya." Bibi Intan berjongkok di samping bunga.



"Oke."



"Kamu angkat bagian sana, tangan kamu harus ada di sini dan disini." jelas Bibi Intan mengarahkan Jenny dan Jenny patuh mengikuti perintah Bibi Intan.



"Cara angkatnya itu harus hati-hati yah, dalam hitungan ketiga angkat bunganya." jelas Bibi Intan dan dibalas anggukan oleh Jenny.



"1..2...3..angkat." aba-aba Bibi dan mereka pun berhasil mengangkatnya.



"Masukkan ke vas." ucap Bibi Intan.



Mereka pun berhasil memasukkan bunga ke dalam vas yang cukup besar, Jennie tersenyum melihat bunga itu lebih cantik saat berada di vas bunga.



"Wah, bunganya lebih cantik saat berada di vas bunga." ucap girang Jenny.



"Iya dong." Bibi Intan merapikan tanah bunga agar lebih rapi dilihat.



"Bantu Bibi mengangkatnya ke sana." pinta Bibi Intan.



"Oke." mereka pun mengangkatnya di dekat tangga masuk mension.



"Wah bunganya sangat cantik dan wangi." puji Jenny sambil menghirup bau bunga itu.



"Ngomong-ngomong apa nama bunga ini Bi ?" tanya Jenny.



"Ini namanya Bunga Peony." jawab Bibi Intan sambil menyentuh bunga tersebut dengan penuh kasih sayang namun terlihat raut wajah Bibi sedih.



"Bibi kenapa sedih ?" tanya Jenny.


__ADS_1


"Tidak dak apa-apa kok, aku hanya teringat pada mendiang suamiku." ucap Bibi Intan tersenyum namun terlihat sedih.



"Sepertinya bunga ini sangat berharga untuk Bibi."



"Hemm, benar ini adalah pemberian suami Bibi sebelum meninggal."



"Paman pasti sangat mencintai Bibi." ucap Jenny.



"Iya betul sekali, dia sangat bucin pada Bibi." ucap Bibi tersenyum mengingat masa lalunya bersama suaminya.



"Di hari dia memberikan aku bunga ini, aku pura-pura marah padanya dan mengatakan bahwa dia tidak sungguh-sungguh mencintaiku." cerita Bibi Intan berjalan ke gasebo, tempat yang penuh kenangan indah bersama suaminya. Jenny menyimak cerita Bibi sambil mengikuti Bibi Intan.



"Dia tidak bisa membela diri dengan tuduhan ku sehingga dia hanya bisa membuktikan dengan memberikan bunga peony itu padaku dan hal itu membuat aku sangat bahagia." cerita Bibi Intan menatap sendu pada bunga Peony namun tersenyum.



"Sepertinya bunga itu memiliki makna, kalau boleh tahu bunga peony itu memiliki makna apa ?" tanya Jenny penasaran.



"Iya bunga peony memiliki makna."



"Bunga peony melambangkan romansa dan cinta, bunga peony bermakna kecantikan, feminitas, cinta, kasih sayang, dan keberuntungan." jelas Bibi Intan.



\#Flash Back 1 tahun lalu\#



"Kau tidak mencintaiku lagi." ucap Bibi Intan pada suaminya yang sedang mengerjakan pekerjaannya di laptop.



"Haa ?" ucap Suami Bibi bernama Bima kebingungan.



"Kau tidak mencintaiku lagi kan, kau pasti selingkuh dari ku." tunjuk Bibi Intan pada suaminya yang masih kebingungan dengan tuduhan istrinya.



"Aku tidak seling.." bela diri Om Bima namun di potong oleh Bibi.



RB


"Bukti ? bukti apa ? aku tidak pernah selingkuh, perlihatkan pada aku bukti itu." bela Om Bima meminta bukti yang di maksud Bibi Intan.



"Haa strategi yang bagus, kau pasti ingin menghapus bukti selingkuh mu dengan dia kan ? tapi sayang aku tidak sebodoh itu." ucap Bibi Intan tertawa sinis.



"Aku tidak.." bela Om Bima lagi namun Bibi Intan meninggalkan dia dan keluar dari ruang kerja sambil membanting pintu.



"Cobaan apa lagi ini ya Tuhan." gumam Om Bima memijat pelipisnya.



Om Bima menyusul Bibi Intan saat dia memutar handel pintu namun beberapa kali memutarnya tetap saja tidak bisa terbuka, Om Bima sadar bahwa istrinya mengunci pintu kamar dari dalam.



"Sayang buka pintunya." teriak Om Bima sambil mengetuk pintu.



"Sayang sekarang sudah tengah malam, tidak baik ribut seperti ini nanti orang rumah terganggu." ketuk Om Bima lagi namun tidak di hiraukan oleh Bibi Intan.



Om Bima mengecek jam dan ternyata sudah jam 01.00, karena kondisi sudah tengah malam dan Om Bima sudah ngantuk berat. Dia pun memutuskan untuk kembali keruang kerjanya untuk tidur di sofa.



Esok harinya Om Bima terbangun di jam 09.00 dia pun buru-buru berjalan ke kamarnya.



"Sayang buka pintunya dong." pinta Om Bima mengetuk pintu kamar yang masih terkunci.



"Kenapa kau masih disini sana pergi dengan selingkuhanmu." usir Bibi Intan.



"Astaga, sayang aku tidak pernah selingkuh."



"Buka pintunya sayang, mari kita bicarakan kesalahpahaman ini, tidak baik jika kita seperti ini terus." ucap Om Bima memohon pada istrinya.


__ADS_1


"Aku tidak ingin mendengar penjelasan mu, lebih baik kamu pergi sana." usir Bibi Intan.



"Apa yang terjadi ?" tanya Bunda Dita yang habis olahraga di ruangan gim.



"Aku tidak tahu dengan sikap Intan hari ini, dia tiba-tiba menuduhku selingkuh dari dia padahal aku tidak pernah selingkuh." jelas Om Bima.



"Tolong bantu aku Kakak Ipar." mohon Om Bima pada Bunda Intan.



"Hahahah, astaga ada-ada saja kelakuan Intan." ucap Bunda Rita tertawa membuat Om Bima kebingungan.



"Sebenarnya selingkuhan yang dia maksud bukan seorang wanita melainkan pekerjaanmu, lebih tepatnya dia cemburu pada laptop yang setiap hari kamu bawa dan perhatikan." jelas Bunda Dita sambil tertawa mengingat curhatan Bibi Intan padanya.



"Dia cemburu karena kau lebih memperhatikan laptop itu dari pada dirinya." tambah Bunda Intan.



"Ternyata itu penyebabnya dia cemburu, astaga ada-ada saja." ucap Om Bima menggelengkan kepalanya.



"Kakak Ipar apakah kakak bisa membantuku ?, aku tidak tahu harus berbuat apa agar dia tidak marah lagi." pinta Om Bima.



"Caranya mudah kok, tunjukkan pada dia bahwa kau benar-benar mencintainya dengan tulus." saran Bunda Dita.



"Contohnya ?"



"Mungkin dalam bentuk perlakuan kamu atau memberikannya barang yang dia inginkan." saran Bunda Dita.



"Aku hanya bisa memberikan saran kecilku, sisanya dari usaha kamu sendiri membuktikan kamu benar-benar mencintainya." jelas Bunda Intan dan meninggalkan Om Bima.



"Apa yang harus aku lakukan." Om Bima berfikir sejenak memikirkan hal apa yang cocok untuk dia berikan pada istinya agar menunjukan ketulusannya.



Om Bima tersenyum saat mendapatkan ide, dia pun bergegas mengambil jaket dan kunci motornya.



"Sayang aku berangkat yah." pamit Om Bima pada Istrinya yang masih mengurung diri di kamar mereka.



Om Bima menuruni tangga dengan cepat dan keluar dari mansion mengendarai motornya, dilain sisi Bibi Intan makin sedih saat suaminya pergi dia mengira suaminya pergi ke kantor.



"Ternyata pekerjaannya lebih penting dari aku." gumam Bibi Intan sedih.



30 menit kemudian Om Bima sampai di mansion dia meminta tolong pada putranya Asad untuk memanggil ibunya turun ke lantai 1 membantunya mencari sepatunya yang hilang.



Saat Bibi Intan sampai di Lantai 1 tiba-tiba Asad menarik tangannya, membuatnya kaget namun tetap mengikuti anaknya



"Kamu mau membawaku kemana ?" tanya Bibi Intan namun diam membeku saat melihat Om Bima berlutut di depannya membawa 1 pot kecil bunga peony.



"Apa yang kamu lakukan ?"



"Intan kamu adalah wanita kedua istimewa setelah ibuku, aku sangat mencintaimu lebih dari yang kamu bayangkan."



"Tidak, kamu tidak mencintaiku." bantah Bibi Intan dengan tatapan sinis nya dan membelakangi Om Bima, Bibi Intan sengaja berbalik karena wajahnya sudah mulai memerah karena bahagia.



"Sayang aku tidak bisa membela diri, namun hanya 1 hal yang ingin aku katakan padamu."



"Aku sangat mencintaimu, 1 hal yang harus kamu tahu aku tidak akan pernah selingkuh darimu karena kamu adalah anugrah terindah yang tuhan berikan untukku jika aku melakukan itu maka celakalah aku yang menyia-nyiakan seorang bidara surga ." tegas Om Bima membuat Bibi Intan berbalik dan memeluk Om Bima.



\#Flash Back off\#



"Om Bima sangat mencintai Bibi." ucap Jenny.



"Hemm, begitulah." ucap Bibi tersenyum pada Jenny, mereka pun berbincang sambil sesekali tertawa.

__ADS_1



Thanks you for reading 🌹🌹🌹


__ADS_2