
🌹 Happy Reading 🌹
Jangan lupa tinggalin jejak dengan like dan komentarnya yah, ooh iya tekan bentuk hati agar tidak ketinggalan ceritanya yah. Salam sayang dari Author 🤗.
Semua orang melihat mereka berdua dengan perasaan terharu karena sudah sejak lama mereka tidak melihat pemandangan ini sejak kepergian Ayah Surya, Jenny juga ikut tersenyum melihat kebersamaan Ayah dan Intan karena Ayah pernah bercerita bahwa dia memiliki seorang adik yang sangat manja padanya.
" Kakak, dimana keponakan ku ?" tanya Intan melepas pelukannya.
" Apa dia keponakan ku ?" tunjuk Intan pada Jenny.
" Iya." jawab Ayah Surya.
" Omg, kamu sangat cantik dan manis." puji Intan memeluk Jenny.
" Terimakasih Bibi, bibi juga cantik." balas Jenny.
" Hahah, kamu bisa aja." ucap Intan mengelus kepala Jenny.
" Ooh iya, ayo kita masuk bibi sudah menyiapkan makan malam untuk kalian." ujar Bibi menarik tangan Jenny dan Ayah Surya.
Semua orang masuk ke dalam mansion semua pelayan di dalam mansion berbaris dan memberi hormat saat mereka berjalan masuk ke mansion.
" Mansion ini tidak berubah sama sekali." batin Ayah Surya memperhatikan isi mansion yang semuanya masih sama sebelum kepergiannya.
" Ibu tidak merubah sedikitpun yang ada di mension, karena ibu tidak mau Kakak merasa asing di rumah saat kakak pulang." ucap Intan peka dengan reaksi Ayah Surya yang melihat sekeliling mansion.
Ayah Surya tersenyum namun seperti menahan tangisnya.
" Jangan bersedih seperti itu Kak, yang pentingkan Kakak sudah ada disini Kakak hanya perlu tidak pergi lagi meninggalkan kami." ujar Intan mengeratkan pelukannya di tangan Ayah Surya. Jenny tersenyum melihat kedekatan mereka.
" Ayo cepat, makanan bisa dingin." ujar Intan menarik tangan Jenny dan Ayah Surya ke meja makan.
" Silahkan duduk."
Mereka semua duduk di meja makan yang memiliki kursi sebanyak 12, Nenek seperti biasa duduk di tengah-tengah mereka, Intan dan Dita melayani mereka.
" Bibi, biar aku bantu." Jenny berdiri untuk membantu Intan dan Dita.
" Tidak usah sayang kamu duduk saja yang manis dan menikmati makanan mu." ucap Intan mendudukkan Jenny kembali.
" Tapi.."
" Shuut..." Intan mencubit pipi cabi Jenny.
" Makan yang banyak ya nak." ucap Dita menyendok kan nasi ke piring Jenny.
__ADS_1
" Kakak makan yang banyak yah, btw aku looh yang masak ini semua." jelas Intan membuat Ayah Surya mendongak melihat Intan yang tersenyum.
" Kenapa Kakak menatap ku seperti itu ?" tanya Intan bingung.
" Kamu serius, kamu yang masak ini ?" tanya Ayah Surya meyakinkan lagi.
" I..iya aku yang masak, iyakan Pak ?" tanya Intan pada Chef untuk membela diri.
" Iya benar nyonya yang memasak sendiri hidangan hari ini." ujar Chef itu membuat Intan tersenyum namun beda hal dengan Ayah Surya yang pucat pasih.
" Hahah, sepertinya Kak Surya masih trauma dengan masakanmu." ucap Satria tertawa terbahak-bahak.
" Hahah, sepertinya dia takut keracunan makanan lagi seperti dulu." tambah Nenek ikut tertawa.
" Iihh, kalian selalu mengejekku bikin kesel aja." Intan cemberut.
" Kakak tidak usah khawatir masakan ku sekarang itu sudah sangat enak tidak seperti dulu, sejak kepergian Kakak aku terus belajar memasak, aku serius ka." jelas Intan mengangkat 2 jarinya.
" Hahaha." tawa Satria makin keras saat mengingat Ayah Surya jatuh pingsan karena makan masakan Intan yang sebenarnya memiliki niat baik untuk berterima kasih dengan Ayah Surya namun masakan Intan sangat buruk untuk dimakan.
" Kakak." teriak kesal Intan pada Satria yang tidak berhenti menertawainya.
" Hahah, maafkan aku." Satria berusaha menahan tawanya.
" Kakak tenang saja, masakan Intan sekarang tidak seburuk dulu bisa dibilang dia pandai memasak saat ini." ucap Satria meyakinkan Ayah Surya.
" Benarkah?" gumam Ayah Surya.
" Jangan khawatir kak, aku jamin masakan ku enak."
” Ba...baiklah." Ayah Surya menelan kasar ludahnya dan perlahan menyendok kan kari Ayam ke mulutnya.
Ayah Surya menutup matanya saat kuah kari menyentuh lidahnya, Ayah berusaha menelannya.
" Gimana rasanya ?" tanya Intan pada Ayah Surya yang membuka matanya dengan lebar.
" Lumayan." jawab Ayah Surya membuat Intan kegirangan.
" Jenny kamu makan juga yah." ucap Satria.
" Iya om." jawab Jenny, dan mulai menyuapi makanan ke mulutnya.
__ADS_1
" Gimana ? enak kan ?" tanya Intan dan di balas anggukan oleh Jenny.
" Enak banget Bibi." puji Jenny mengangkat jempolnya.
" Hahah makasih sayang, makan yang banyak yah." Intan mencubit lembut pipi Jenny dan menambahkan daging ke piring Jenny.
" Makasih Bibi."
Mereka makan malam bersama-sama, selesai makan Ayah dan Jenny di antar kamarnya masing-masing. Dita mengantar Jenny ke kamarnya yang terletak di lantai 3, Jenny melihat-lihat di lantai 3 hanya memiliki 2 pintu berarti hanya ada 2 ruangan di lantai ini.
" Silahkan masuk sayang, mulai hari ini kamar ini juga milik mu." jelas Dita.
" Juga ?" tanya Jenny karena kata juga berarti ada yang menempati kamar ini.
" Iya, ini kamar calon suamimu dan tentu saja ini kamarmu kan." jelas Dita.
" Bukannya terlalu cepat Bibi, kami belum menikah tentu saja tidak baik untuk aku tinggal di kamar ini." jelas Jenny karena merasa ini tidak benar.
" Tidak apa-apa sayang lagi pula kan kalian akan menikah." ujar Dita menepuk tangan Jenny.
" Tapi seorang lawan jenis tinggal 1 kamar tanpa status menikah bukannya tidak baik, nanti..." ucap Jenny namun Dita tertawa.
" Calon kamu tidak akan tidur disini karena dia sedang ke luar kota untuk mengurus pekerjaannya." jelas Dita.
" Kamu istirahat aja yah disini itung-itung belajar beradaptasi dengan kamar suamimu."
"Aku pamit dulu yah, selamat malam sayang semoga mimpi indah, jangan lupa kunci kamarnya yah." ucap Dita mencium kening Jenny dan meninggalkan Jenny di kamar calon suaminya.
Jenny mengunci kamar saat Dita sudah pergi, dia melihat sekeliling kamar calon suaminya yang di penuhi dengan warna hitam dan putih, semua perabot kamarnya serba hitam putih begitupun dengan cat dindingnya.
" Kamar ini sangat luas, tapi kenapa kamar ini terasa sangat menyeramkan." gumam Jenny karena ruangan ini sedikit gelap karena dipenuhi dengan warna hitam putih yang tentu saja tidak cocok dengan selera warna Jenny yang cerah.
" Lebih baik aku membersihkan diri dan tidur." gumam Jenny menarik kopernya ke samping sofa.
Jenny membuka banyak pintu namun pintu itu bukan menuju ke kamar mandi, setelah 5 menit mencari Jenny menemukannya dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri namun dia sangat kaget melihat kamar mandi yang sangat luas, serta perabotan kamar mandi yang begitu lengkap dan tersusun rapi.
" Omg, ini kamar mandi atau rumah ?" gumam Jenny kagum dan heran.
" Wow ngeri, orang kaya emeng beda." ucap Jenny menutup mulutnya sambil menggeleng.
Jenny masih kagum dengan apa yang dia lihat tapi karena dia sudah sangat lelah dia lebih memilih membersihkan diri dan tidur. Jenny melempar dirinya di kasur king yang empuk.
" Nyamannya, ternyata begini jadi orang kaya." gumam Jenny merentangkan tangganya, dan perlahan menutup matanya dan tertidur menuju ke alam mimpi.
__ADS_1
Thanks you for reading 🌹🌹🌹